GAPKI dan Kementan Lepas Sumber Daya Genetik Sawit Tanzania di Sumut
Rabu, 06 Mei 2026 - 11:37 WIB
loading...
Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama pemangku kepentingan industri kelapa sawit resmi melepas Sumber Daya Genetik (SDG) asal Tanzania. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) bersama pemangku kepentingan industri kelapa sawit resmi melepas Sumber Daya Genetik (SDG) asal Tanzania untuk memperkaya varietas plasma nutfah nasional. Langkah strategis ini bertujuan menghasilkan generasi baru kelapa sawit yang lebih produktif, adaptif terhadap perubahan iklim, serta tahan terhadap cekaman lingkungan.
"Dengan hadirnya SDG baru dari Tanzania ini, kita membuka peluang besar untuk lebih memperkaya keragaman genetik yang kita miliki demi masa depan produktivitas sawit Indonesia," ujar Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dalam keterangan pers, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga: PTPN IV Manfaatkan Teknologi Satelit untuk Pengawasan Kebun Sawit
Eddy menjelaskan, penguatan fondasi genetik merupakan kunci utama untuk meningkatkan daya saing industri sawit nasional di kancah global. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga riset, pendistribusian SDG ini diharapkan mampu mendorong lahirnya varietas unggul yang dapat menjawab tantangan teknis maupun ekologis di masa depan.
Program pengayaan plasma nutfah ini merupakan tindak lanjut dari Riset Inisiatif Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian yang didukung pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Kegiatan ini juga melibatkan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dan PT Socfin Indonesia sebagai bagian dari konsorsium riset internasional.
Dari sisi keamanan hayati, Badan Karantina Indonesia memastikan bahwa pemasukan benih asal Tanzania tersebut telah melalui pengawasan ketat. Direktur Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan, Aprida Cristin, menegaskan bahwa seluruh benih telah melewati analisis risiko organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara komprehensif guna melindungi ekosistem domestik.
"Seluruh proses panjang ini merupakan penerapan prinsip kehati-hatian guna mencegah masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), sekaligus melindungi kelestarian sumber daya genetik nasional," kata Aprida.
Baca Juga: GAPKI: Industri Sawit Berkomitmen Wujudkan Kesetaraan bagi Perempuan Pekerja
Proses tersebut meliputi tahapan pemeriksaan, pengasingan, hingga pengamatan sebelum akhirnya mendapatkan status bebas karantina. Dukungan penuh juga datang dari BPDPKS yang berkomitmen terus mendanai riset strategis demi keberlanjutan industri sawit. Pihaknya menilai bahwa penguatan riset inisiatif merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia yang berbasis inovasi.
Acara pelepasan ini turut dihadiri oleh Duta Besar Tanzania untuk Indonesia, Macocha Moshe Tembele, serta perwakilan dari 14 perusahaan mitra konsorsium. Sinergi lintas negara dan lembaga ini diharapkan memperkokoh posisi Indonesia dalam mengembangkan industri kelapa sawit yang berkelanjutan dan kompetitif.
"Dengan hadirnya SDG baru dari Tanzania ini, kita membuka peluang besar untuk lebih memperkaya keragaman genetik yang kita miliki demi masa depan produktivitas sawit Indonesia," ujar Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono, dalam keterangan pers, Rabu (6/5/2026).
Baca Juga: PTPN IV Manfaatkan Teknologi Satelit untuk Pengawasan Kebun Sawit
Eddy menjelaskan, penguatan fondasi genetik merupakan kunci utama untuk meningkatkan daya saing industri sawit nasional di kancah global. Melalui kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, dan lembaga riset, pendistribusian SDG ini diharapkan mampu mendorong lahirnya varietas unggul yang dapat menjawab tantangan teknis maupun ekologis di masa depan.
Program pengayaan plasma nutfah ini merupakan tindak lanjut dari Riset Inisiatif Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian yang didukung pendanaan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS). Kegiatan ini juga melibatkan PT Riset Perkebunan Nusantara (RPN) dan PT Socfin Indonesia sebagai bagian dari konsorsium riset internasional.
Dari sisi keamanan hayati, Badan Karantina Indonesia memastikan bahwa pemasukan benih asal Tanzania tersebut telah melalui pengawasan ketat. Direktur Manajemen Risiko Karantina Tumbuhan, Aprida Cristin, menegaskan bahwa seluruh benih telah melewati analisis risiko organisme pengganggu tumbuhan (OPT) secara komprehensif guna melindungi ekosistem domestik.
"Seluruh proses panjang ini merupakan penerapan prinsip kehati-hatian guna mencegah masuk dan tersebarnya Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK), sekaligus melindungi kelestarian sumber daya genetik nasional," kata Aprida.
Baca Juga: GAPKI: Industri Sawit Berkomitmen Wujudkan Kesetaraan bagi Perempuan Pekerja
Proses tersebut meliputi tahapan pemeriksaan, pengasingan, hingga pengamatan sebelum akhirnya mendapatkan status bebas karantina. Dukungan penuh juga datang dari BPDPKS yang berkomitmen terus mendanai riset strategis demi keberlanjutan industri sawit. Pihaknya menilai bahwa penguatan riset inisiatif merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga posisi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia yang berbasis inovasi.
Acara pelepasan ini turut dihadiri oleh Duta Besar Tanzania untuk Indonesia, Macocha Moshe Tembele, serta perwakilan dari 14 perusahaan mitra konsorsium. Sinergi lintas negara dan lembaga ini diharapkan memperkokoh posisi Indonesia dalam mengembangkan industri kelapa sawit yang berkelanjutan dan kompetitif.
(nng)
Lihat Juga :