Rupiah Ambles Tembus Rp17 Ribu, Perry Warjiyo Blak-blakan Soal Strategi Intervensi BI
Kamis, 07 Mei 2026 - 20:37 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Mata Uang RI Undervalue, Perry Warjiyo: Fundamental Ekonomi Kuat, Seharusnya Rupiah Stabil
“Kalau rekan-rekan kita saham sama SBN outflow, masa SRBI juga harus outflow. Kan harus dikompensasi se-inflow kan. Nah secara total memang SRBI inflow-nya itu lebih gede dari net outflow-nya SBN year to date,” jelas Perry.
Perry menegaskan, bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue. Hal ini didasarkan pada indikator ekonomi nasional yang sangat kuat, seperti pertumbuhan ekonomi 5,61%, inflasi rendah di level 2,42%, surplus neraca perdagangan, serta pertumbuhan kredit yang tinggi.
Pelemahan yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak, tensi geopolitik Timur Tengah, serta suku bunga AS yang tinggi. Selain itu, terdapat faktor musiman domestik pada periode April-Mei.
“Kenapa rupiah itu melemah? Nilai tukar negara lain juga melemah, yaitu faktor global. Nah kebetulan secara musiman, kalau lagi April sama Mei itu permintaan valasnya tinggi untuk apa? Untuk kita doakan seluruh masyarakat kita yang ibadah umroh dan haji, kita pastikan kebutuhan dolarnya terpenuhi. Juga korporasi banyak yang repatriasi dividen dan membayar utang luar negeri,” paparnya.
Dengan demikian, Perry memastikan, bahwa Bank Indonesia akan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah dan KSSK, serta mendapat dukungan penuh dari Presiden untuk menjaga stabilitas rupiah.
“Kalau rekan-rekan kita saham sama SBN outflow, masa SRBI juga harus outflow. Kan harus dikompensasi se-inflow kan. Nah secara total memang SRBI inflow-nya itu lebih gede dari net outflow-nya SBN year to date,” jelas Perry.
Perry menegaskan, bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue. Hal ini didasarkan pada indikator ekonomi nasional yang sangat kuat, seperti pertumbuhan ekonomi 5,61%, inflasi rendah di level 2,42%, surplus neraca perdagangan, serta pertumbuhan kredit yang tinggi.
Pelemahan yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak, tensi geopolitik Timur Tengah, serta suku bunga AS yang tinggi. Selain itu, terdapat faktor musiman domestik pada periode April-Mei.
“Kenapa rupiah itu melemah? Nilai tukar negara lain juga melemah, yaitu faktor global. Nah kebetulan secara musiman, kalau lagi April sama Mei itu permintaan valasnya tinggi untuk apa? Untuk kita doakan seluruh masyarakat kita yang ibadah umroh dan haji, kita pastikan kebutuhan dolarnya terpenuhi. Juga korporasi banyak yang repatriasi dividen dan membayar utang luar negeri,” paparnya.
Dengan demikian, Perry memastikan, bahwa Bank Indonesia akan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah dan KSSK, serta mendapat dukungan penuh dari Presiden untuk menjaga stabilitas rupiah.
(akr)
Lihat Juga :