Rupiah Ambles Tembus Rp17 Ribu, Perry Warjiyo Blak-blakan Soal Strategi Intervensi BI

Kamis, 07 Mei 2026 - 20:37 WIB
loading...
Rupiah Ambles Tembus...
Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menegaskan, bahwa bank sentral tidak tinggal diam melihat pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi hingga tembus Rp17.362 per dolar AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo menegaskan, bahwa bank sentral tidak tinggal diam melihat pelemahan nilai tukar rupiah yang belakangan terjadi hingga tembus Rp17.362 per dolar Amerika Serikat (USD). Perry menyatakan, bahwa BI telah menjalankan strategi "all out" dan bukan sekadar business as usual untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda di tengah ketidakpastian global.

Perry menjelaskan, bahwa salah satu langkah utama adalah intervensi besar-besaran menggunakan cadangan devisa. Meski posisi cadangan devisa bulan lalu tercatat turun menjadi USD148,2 miliar, angka tersebut dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan intervensi pasar.

“Tolong diingat, cadangan devisa itu dikumpulkan pada saat panen inflow besar. Makanya kita gunakan untuk pada saat paceklik, pada saat outflow jumlahnya besar. Dan intervensinya itu tidak hanya di dalam negeri, tidak hanya tunai, tapi domestic non-delivery forward (DNDF),” ujar Perry dalam konferensi pers KSSK, Kamis (7/5/2026).

Baca Juga: 7 Jurus BI Kuatkan Rupiah usai Terkapar di Rp17.425, Pembelian Dolar Diperketat

Strategi intervensi yang dilakukan BI kini menjangkau pasar internasional secara around the world dan around the clock. BI melakukan intervensi di pusat-pusat keuangan dunia seperti Hong Kong, Singapura, London, hingga New York untuk memastikan pergerakan Rupiah tetap terkendali.



Selain intervensi langsung, BI juga menunjuk bank-bank domestik, baik Himbara maupun swasta, untuk aktif melakukan transaksi NDF di luar negeri melalui program pendalaman pasar uang.

Untuk mengompensasi aliran modal keluar (outflow) di pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN), BI mengandalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Hingga saat ini, inflow dari SRBI tercatat mencapai Rp78,1 triliun secara year-to-date (ytd), yang secara efektif menambal outflow di pasar saham (Rp38,6 triliun) dan SBN (Rp11,7 triliun).

Baca Juga: Mata Uang RI Undervalue, Perry Warjiyo: Fundamental Ekonomi Kuat, Seharusnya Rupiah Stabil

“Kalau rekan-rekan kita saham sama SBN outflow, masa SRBI juga harus outflow. Kan harus dikompensasi se-inflow kan. Nah secara total memang SRBI inflow-nya itu lebih gede dari net outflow-nya SBN year to date,” jelas Perry.

Perry menegaskan, bahwa secara fundamental, nilai tukar rupiah saat ini masih undervalue. Hal ini didasarkan pada indikator ekonomi nasional yang sangat kuat, seperti pertumbuhan ekonomi 5,61%, inflasi rendah di level 2,42%, surplus neraca perdagangan, serta pertumbuhan kredit yang tinggi.

Pelemahan yang terjadi saat ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal seperti kenaikan harga minyak, tensi geopolitik Timur Tengah, serta suku bunga AS yang tinggi. Selain itu, terdapat faktor musiman domestik pada periode April-Mei.

“Kenapa rupiah itu melemah? Nilai tukar negara lain juga melemah, yaitu faktor global. Nah kebetulan secara musiman, kalau lagi April sama Mei itu permintaan valasnya tinggi untuk apa? Untuk kita doakan seluruh masyarakat kita yang ibadah umroh dan haji, kita pastikan kebutuhan dolarnya terpenuhi. Juga korporasi banyak yang repatriasi dividen dan membayar utang luar negeri,” paparnya.

Dengan demikian, Perry memastikan, bahwa Bank Indonesia akan terus berkoordinasi erat dengan pemerintah dan KSSK, serta mendapat dukungan penuh dari Presiden untuk menjaga stabilitas rupiah.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Tembus Rp18.000...
Rupiah Tembus Rp18.000 Lagi, Airlangga Tegaskan Fundamental Ekonomi Masih Kuat
IHSG Ditutup Menguat...
IHSG Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
Rupiah Ambruk ke 18.128...
Rupiah Ambruk ke 18.128 per Dolar AS, Apa Pemicu Sebenarnya?
Rupiah Kian Krasan di...
Rupiah Kian Krasan di Kisaran Rp18.000, Apa Penyebabnya?
Lagi-lagi, Rupiah Kembali...
Lagi-lagi, Rupiah Kembali Tembus Rp18.000 per Dolar AS
BI Blak-blakan soal...
BI Blak-blakan soal Kombinasi Pemicu Kejatuhan Rupiah yang Sempat Rp18 Ribu per Dolar AS
Kemenag-BI Dorong Rohis...
Kemenag-BI Dorong Rohis Jadi Penggerak Literasi Syariah di Ruang Digital
Bea Cukai Soetta Gagalkan...
Bea Cukai Soetta Gagalkan Masuknya Uang Asing Senilai Rp6,3 Miliar Tanpa Izin
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Rekomendasi
Harta Kekayaan Rudi...
Harta Kekayaan Rudi Margono Plt Jampidsus Pengganti Febrie Adriansyah Capai Rp7,2 Miliar, Ini Rinciannya
Perindo Apresiasi Inisiatif...
Perindo Apresiasi Inisiatif Danantara Bangun Pengolahan Sampah Jadi Energi Listrik di Denpasar Raya
Polisi Berpeluang Periksa...
Polisi Berpeluang Periksa Febrie Adriansyah terkait Dugaan Korupsi Batu Bara hingga Asabri
Berita Terkini
HUT ke-54, Petrokimia...
HUT ke-54, Petrokimia Gresik Fokus Transformasi dan Keberlanjutan
Pemerintah Bakal Bangun...
Pemerintah Bakal Bangun Pusat Finansial di Bali, PP Ditargetkan Rampung Agustus
RANS Resmi Jadi Perusahaan...
RANS Resmi Jadi Perusahaan Terbuka, Investor Sambut Positif Debut di Bursa
Harga Emas Antam Hari...
Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp5.000 per Gram, Buyback Jadi Berapa?
Easycash, OJK dan AFTECH...
Easycash, OJK dan AFTECH Perkuat Literasi Keuangan Generasi Muda di Bali
IHSG Sepekan Naik 0,83%,...
IHSG Sepekan Naik 0,83%, Kapitalisasi Pasar Tembus Rp10.340 Triliun
Infografis
5 CEO Terkaya di Jagat...
5 CEO Terkaya di Jagat Raya, Hartanya Tembus Rp8,2 Kuadriliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved