Demi Bertahan Hidup, Singapura Disebut Siapkan Serangan Finansial ke Indonesia
Jum'at, 08 Mei 2026 - 09:45 WIB
loading...
Founder Bennix Investor Group, Benny Batara dalam Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews. FOTO/Tangkapan Layar YouTube/SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Founder Bennix Investor Group, Benny Batara, memprediksi Singapura akan melakukan strategi agresif di sektor finansial dengan menarik arus modal keluar dari Indonesia demi menjaga pertumbuhan ekonomi di tengah ketidakpastian global. Menurut dia, tekanan terhadap nilai tukar rupiah berpotensi meningkat dalam beberapa bulan ke depan seiring upaya Singapura memperkuat posisi sebagai pusat keuangan di kawasan.
"Yang Indonesia harus siap-siap adalah Singapura wajib 'nyerang' Indonesia untuk bertahan. Mereka akan mendorong dolar Singapura naik dan rupiah ditekan supaya banyak orang kaya Indonesia memindahkan dananya ke Singapura," kata Benny dalam Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews, dikutip pada Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Purbaya: Saya Sebel Dibilang Gara-gara Fiskal Rupiah Jeblok
Benny menilai pernyataan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengenai potensi perlambatan ekonomi hingga pertumbuhan negatif mencerminkan kekhawatiran serius negara tersebut terhadap kondisi ekonomi global. Dalam situasi tersebut, menurutnya, Singapura akan semakin mengandalkan sektor jasa keuangan sebagai penopang utama ekonomi.
Hal itu mengingat Singapura tidak memiliki sumber daya komoditas besar seperti kelapa sawit, batu bara, maupun nikel yang dimiliki Indonesia. Sebab itu, negara tersebut dinilai akan memperkuat daya tarik sebagai tempat investasi dan pusat transaksi keuangan paling aman di kawasan ASEAN.
Baca Juga: Ekspatriat Bakal Pimpin BUMN, Bennix: Asal Dia Bisa Tangkap Tikus, Hire Aja!
Menurut Benny, strategi tersebut dapat memicu capital outflow dari Indonesia, terutama jika nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura terus melemah. Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin terasa dalam dua bulan mendatang.
Selain itu, Benny juga menyinggung meningkatnya aktivitas kapal tanker tanpa identitas jelas atau shadow fleet di sekitar wilayah Singapura. Aktivitas tersebut disebut berkaitan dengan perdagangan minyak dari negara-negara yang terkena embargo internasional.
"Sekarang mereka juga sudah panik. Mereka harus menjaga pertumbuhan ekonominya dan salah satu cara tercepat adalah menarik investasi masuk sebesar-besarnya," ujarnya.
"Yang Indonesia harus siap-siap adalah Singapura wajib 'nyerang' Indonesia untuk bertahan. Mereka akan mendorong dolar Singapura naik dan rupiah ditekan supaya banyak orang kaya Indonesia memindahkan dananya ke Singapura," kata Benny dalam Podcast To The Point Aja di kanal YouTube SindoNews, dikutip pada Jumat (8/5/2026).
Baca Juga: Purbaya: Saya Sebel Dibilang Gara-gara Fiskal Rupiah Jeblok
Benny menilai pernyataan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengenai potensi perlambatan ekonomi hingga pertumbuhan negatif mencerminkan kekhawatiran serius negara tersebut terhadap kondisi ekonomi global. Dalam situasi tersebut, menurutnya, Singapura akan semakin mengandalkan sektor jasa keuangan sebagai penopang utama ekonomi.
Hal itu mengingat Singapura tidak memiliki sumber daya komoditas besar seperti kelapa sawit, batu bara, maupun nikel yang dimiliki Indonesia. Sebab itu, negara tersebut dinilai akan memperkuat daya tarik sebagai tempat investasi dan pusat transaksi keuangan paling aman di kawasan ASEAN.
Baca Juga: Ekspatriat Bakal Pimpin BUMN, Bennix: Asal Dia Bisa Tangkap Tikus, Hire Aja!
Menurut Benny, strategi tersebut dapat memicu capital outflow dari Indonesia, terutama jika nilai tukar rupiah terhadap dolar Singapura terus melemah. Ia memperkirakan tekanan terhadap rupiah berpotensi semakin terasa dalam dua bulan mendatang.
Selain itu, Benny juga menyinggung meningkatnya aktivitas kapal tanker tanpa identitas jelas atau shadow fleet di sekitar wilayah Singapura. Aktivitas tersebut disebut berkaitan dengan perdagangan minyak dari negara-negara yang terkena embargo internasional.
"Sekarang mereka juga sudah panik. Mereka harus menjaga pertumbuhan ekonominya dan salah satu cara tercepat adalah menarik investasi masuk sebesar-besarnya," ujarnya.
(nng)
Lihat Juga :