Tak Ada Alasan Rupiah Tak Bisa Menguat, BI: Mayoritas Mata Uang di Dunia Juga Melemah

Rabu, 13 Mei 2026 - 13:18 WIB
loading...
Tak Ada Alasan Rupiah...
Bank Indonesia (BI) menerangkan, faktor dinamika global membuat mayoritas mata uang di dunia juga melemah. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Tekanan dari dinamika perekonomian global rupanya tidak menyurutkan optimisme Bank Indonesia (BI) terhadap ketahanan nilai tukar mata uang rupiah, yang dibuka jatuh ke Rp17.535 per hari ini. Otoritas moneter meyakini tren pelemahan kurs rupiah saat ini hanya bersifat sementara, mengingat fondasi makroekonomi nasional terbukti masih sangat solid dibandingkan dengan banyak negara lain.

Gejolak pasar valuta asing bermula dari memanasnya konflik Timur Tengah pada akhir Februari 2026 yang memicu lonjakan harga minyak dunia hingga lebih dari 40%. Situasi ini semakin diperberat oleh tingginya permintaan dolar di dalam negeri akibat musim repatriasi dividen, pembayaran utang luar negeri, serta kebutuhan ibadah haji.

"Faktor dinamika global ini yang membuat mayoritas mata uang di dunia juga melemah. Tidak hanya rupiah, ada peso Filipina, baht Thailand, India rupee, hingga mata uang Amerika Selatan seperti di Chile dan won Korea Selatan," ujar Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia (BI), Ramdan Denny Prakoso saat ditemui di gedung BI, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

Baca Juga: Mata Uang RI Undervalue, Perry Warjiyo: Fundamental Ekonomi Kuat, Seharusnya Rupiah Stabil

Merespons tekanan sentimen eksternal tersebut, bank sentral bakal terus melakukan intervensi aktif melintasi berbagai zona waktu pasar uang internasional mulai dari Jakarta, Eropa, hingga Amerika. Upaya ini didasari oleh keyakinan penuh bahwa indikator perekonomian domestik memiliki daya tahan yang amat mumpuni.

Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Hari Ini Masih...
Rupiah Hari Ini Masih Terseok-seok ke Posisi Rp17.804 per Dolar AS
Rupiah Keok Meski BI...
Rupiah Keok Meski BI Rate Naik Lagi, Dolar AS Tembus Rp17.848
Lanjutkan Dedolarisasi,...
Lanjutkan Dedolarisasi, China dan Indonesia Buang Dolar Rp229,6 Triliun dalam 4 Bulan
Pembelian Dolar AS Diperketat,...
Pembelian Dolar AS Diperketat, BI Batasi Transaksi USD10 Ribu Mulai Juli 2026
Rupiah Hari Ini Ditutup...
Rupiah Hari Ini Ditutup Loyo ke Rp17.794 per Dolar AS, Intip Pemicunya
BI Tancap Gas, Suku...
BI Tancap Gas, Suku Bunga Acuan Kembali Naik 25 Bps ke Level 5,75%
Soal Rupiah, Tomkur:...
Soal Rupiah, Tomkur: Perlu Koordinasi Kebijakan Lintas Sektor
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rekomendasi
Transformasi Pendidikan...
Transformasi Pendidikan 3T: Dari Ruang Kelas Baru hingga Pembelajaran Digital
Ketika Kebaikan Menjadi...
Ketika Kebaikan Menjadi Strategi: Akhir Dominasi Reward dan Punishment?
Wapres Vance Batalkan...
Wapres Vance Batalkan Kunjungan ke Jenewa, Swiss: Perundingan AS-Iran Ditunda
Berita Terkini
Lewat Platform Digital...
Lewat Platform Digital Elevate, SIG Perkuat Pengelolaan SDM dan Budaya Inovasi
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos Sepanjang IHSG Sepekan
Terungkap 2 Alasan di...
Terungkap 2 Alasan di Balik Pemadaman Bergilir Pulau Jawa, Dirut PLN Minta Maaf
Jangan Sampai Lolos!...
Jangan Sampai Lolos! BRI Consumer Expo 2026 Makassar Hadirkan Promo Gila-gilaan dari Rumah, Mobil, sampai Tiket Liburan
Pendaftaran Pelatihan...
Pendaftaran Pelatihan Vokasi Batch 3 Resmi Dibuka, Kuotanya 20 Ribu Peserta
Dorong Bioenergi, PLN...
Dorong Bioenergi, PLN EPI Siap Serap 10 Juta Ton Biomassa di 2030
Infografis
7 Alasan Dunia Tak Menghukum...
7 Alasan Dunia Tak Menghukum Trump dan Netanyahu meski AS-Israel Bom Iran
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved