Kapal Tanker Raksasa China Tembus Blokade Selat Hormuz, Bawa 2 Juta Barel Minyak Irak

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:10 WIB
loading...
Kapal Tanker Raksasa...
Kapal tanker raksasa milik China, Yuan Hua Hu berhasil melintasi Selat Hormuz setelah terjebak selama lebih dari dua bulan akibat blokade ketat dalam perang Amerika Serikat-Iran. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Kapal tanker raksasa milik China , Yuan Hua Hu berhasil melintasi Selat Hormuz pada Rabu (13/5/2026), setelah terjebak selama lebih dari dua bulan akibat blokade ketat dalam perang Amerika Serikat-Iran. Langkah berani kapal pengangkut 2 juta barel minyak ini memicu tanda tanya besar?.

Apakah China telah menjalin kesepakatan rahasia di balik layar untuk mengamankan energi mereka saat dunia sedang di ambang krisis? Saat ini Yuan Hua Hu berlabuh di lepas Pantai Oman, dekat tempat Angkatan Laut AS mendirikan blokade terhadap kapal-kapal Iran, menurut data LSEG.

Misi Berbahaya di Jalur Neraka

Kapal Very Large Crude Carrier (VLCC) milik unit COSCO Shipping ini memecah kebuntuan setelah terkatung-katung sejak awal Maret. Berdasarkan data pelacakan kapal Kpler dan LSEG, Yuan Hua Hu membawa minyak mentah Basrah Medium dari Irak menuju pasar Asia.

Baca Juga: Selat Hormuz Ditutup 70 Hari, Pasokan Minyak Dunia Terkuras 1 Miliar Barel

Menariknya, keberhasilan lintasan ini terjadi tepat saat Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping dijadwalkan bertemu, serta hanya berselang seminggu setelah Menteri Luar Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi mengunjungi Beijing. Hal ini memperkuat dugaan adanya negosiasi tingkat tinggi yang melibatkan perlindungan bagi kapal-kapal berbendera China di wilayah konflik.

Sinyal unik muncul di radar pelacakan satelit. Beberapa kapal China, termasuk kapal pengangkut kendaraan Xiang Jiang Kou, menyiarkan pesan khusus melalui transponder AIS mereka yang berbunyi: "Chinese vessel and crew" (Kapal dan awak China).



Pesan ini diduga kuat sebagai kode aman agar tidak diserang oleh pasukan Iran yang kini memperketat cengkeraman mereka di selat tersebut. Iran sendiri dilaporkan mulai memotong kesepakatan distribusi energi dengan Irak dan Pakistan, sebuah langkah yang disebut-sebut bertujuan mempermanenkan kontrol Teheran atas jalur yang dilewati seperlima pasokan minyak dunia tersebut.

Donald Trump: Kami Tidak Butuh Bantuan China

Meski China tampak mulai mengambil peran sebagai penengah yang aktif, Presiden AS Donald Trump justru mengeluarkan pernyataan pedas sebelum mendarat di Beijing. "Saya rasa kita tidak butuh bantuan apa pun soal Iran. Kita akan memenangkan ini dengan satu atau lain cara, baik secara damai maupun tidak," tegas Trump kepada wartawan di Washington.

Trump secara terang-terangan menolak tuntutan Iran terkait kompensasi kerusakan perang dan menyebut posisi Teheran sebagai "sampah". Baca Juga: Tiga Tanker Minyak Berhasil Lolos dari Selat Hormuz, Begini Strateginya

Sementara itu pejabat Iran telah memberikan sinyal bahwa blokade Selat Hormuz sebagai strategi jangka panjang. Juru bicara militer mengatakan pengawasan terhadap jalur air tersebut dapat menghasilkan pendapatan sebesar dua kali lipat pada pendapatan minyak Iran, sekaligus memperkuat pengaruhnya.

"Setelah perang ini berakhir, tidak akan ada tempat untuk mundur," kata juru bicara itu, menurut komentar agen berita ISNA.

Lebih dari sebulan setelah gencatan senjata yang rapuh mulai berlaku, tuntutan AS dan Iran untuk mengakhiri perang masih jauh dari kata sepakat.

Washington telah menyerukan agar Teheran membatalkan program nuklirnya dan menghentikan kendali ketat atas selat Hormuz. Sementara Iran menuntut kompensasi atas kerusakan akibat perang, menghapus blokade AS, dan menghentikan pertempuran di semua front, termasuk di Lebanon, ketika Israel sedang bertempur melawan Hezbollah yang didukung Iran.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Permintaan Minyak Global...
Permintaan Minyak Global Diramal Turun Tajam di 2026, Terburuk sejak Pandemi Covid-19
Dulu Diperebutkan hingga...
Dulu Diperebutkan hingga Rp1,6 Juta per Barel, Kini Minyak Dunia Malah Mencari Pembeli
Daftar 7 Negara OPEC+...
Daftar 7 Negara OPEC+ yang Buka Keran Minyak, Intip Angkanya
Dunia Tak Lagi Takut...
Dunia Tak Lagi Takut Ancaman Gejolak Selat Hormuz imbas Perang AS-Iran, Apa Rahasianya?
Industri Plastik Tertekan...
Industri Plastik Tertekan Impor Murah China, Pabrik Mulai Pangkas Jam Kerja
Rahasia Industri Logam...
Rahasia Industri Logam Tanah Jarang China Dibongkar Ilmuwan, AS-Jepang Pegang Kunci Mineral Langka!
AS Serang Jembatan Kereta...
AS Serang Jembatan Kereta Api Strategis yang Hubungkan Iran ke China dan Rusia
UMKM Nasional Miliki...
UMKM Nasional Miliki Ketangguhan Hadapi Serbuan Produk China
Akademisi Beijing: Negara...
Akademisi Beijing: Negara Mana Pun yang Berani Perang Nuklir Melawan China Akan Musnah
Rekomendasi
Mikel Merino dan Keajaiban...
Mikel Merino dan Keajaiban yang Terus Berulang untuk Spanyol
Jampidsus Febrie Adriansyah...
Jampidsus Febrie Adriansyah Ucapkan 6 Pernyataan sebelum Resmi Mundur dari Jabatan
Keistimewaan Muharram,...
Keistimewaan Muharram, Dijuluki Sebagai Bulannya Allah
Berita Terkini
Imbal Hasil Obligasi...
Imbal Hasil Obligasi Kian Jadi Penentu Utama Pergerakan Valas
BULOG dan Komisi IV...
BULOG dan Komisi IV DPR Perkuat Sinergi Dukung Kesejahteraan Petani di Klaten
Pertamina Patra Niaga...
Pertamina Patra Niaga Percepat Distribusi Pertalite 19 SPBU di Bogor
Rombak Aturan, Purbaya...
Rombak Aturan, Purbaya Bebaskan Bea Masuk Impor Senjata hingga Anjing Pelacak
Usai Hengkang dari OPEC,...
Usai Hengkang dari OPEC, Produksi Minyak UEA Cetak Rekor Tembus 4,1 Juta Barel per Hari
Sinergi BSI dan BPJS...
Sinergi BSI dan BPJS Ketenagakerjaan, Hadirkan KPR Syariah 30 Tahun untuk Jutaan Pekerja
Infografis
Iran Kembali Sita Kapal...
Iran Kembali Sita Kapal Tanker Minyak, Kali Ini di Selat Hormuz
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved