IBCSD Dorong Percepatan Investasi Iklim untuk Dekarbonisasi Industri melalui Forum Bisnis

Minggu, 24 Mei 2026 - 12:06 WIB
loading...
IBCSD Dorong Percepatan...
Dekarbonisasi industri di Indonesia memerlukan lebih dari sekadar komitmen. Kesiapan proyek, akses terhadap pembiayaan yang tepat, serta kolaborasi antara pelaku industri dan lembaga keuangan menjadi faktor penting. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Upaya dekarbonisasi industri di Indonesia memerlukan lebih dari sekadar komitmen. Kesiapan proyek, akses terhadap pembiayaan yang tepat, serta kolaborasi antara pelaku industri dan lembaga keuangan menjadi faktor penting untuk mempercepat implementasi transisi menuju ekonomi rendah karbon .

Hal tersebut menjadi sorotan utama dalam Forum Bisnis Pengembang Proyek dan Lembaga Pembiayaan: Percepatan Investasi Iklim untuk Dekarbonisasi Industri di Indonesia yang diselenggarakan oleh Indonesia Business Council for Sustainable Development (IBCSD) bersama Sustainable Energy Transition In Indonesia (SETI) pada Kamis (21/5) di Jakarta.

Forum ini menghadirkan perwakilan dari sektor industri, lembaga pembiayaan, pemerintah, dan organisasi teknis guna mendiskusikan tantangan investasi dekarbonisasi serta peluang pembiayaan proyek rendah karbon . Di tingkat nasional, penguatan transisi energi dan ekosistem perdagangan karbon semakin membuka peluang pembiayaan aksi dekarbonisasi industri.

Baca Juga: Kolaborasi IBCSD dan BEI Dorong Akses Pembiayaan Berkelanjutan melalui Sustainable Bonds & Sukuk

Sementara itu, di tingkat global, dinamika perdagangan internasional, meningkatnya standar ESG, serta kebijakan seperti Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) semakin menempatkan emisi karbon sebagai faktor strategis dalam daya saing industri, sehingga kesiapan proyek dan akses terhadap pembiayaan menjadi semakin penting bagi dunia usaha.

Dalam sambutannya, Direktur Eksekutif IBCSD, Indah Budiani menekankan, pentingnya kesiapan proyek dan akses terhadap pembiayaan yang tepat dalam mempercepat dekarbonisasi.



“Salah satu tantangan yang kita hadapi saat ini adalah bagaimana menjembatani kebutuhan investasi industri dengan skema pendanaan yang sesuai agar lebih banyak proyek dekarbonisasi dapat menjadi bankable dan terealisasi. Melalui forum ini, kami ingin membuka ruang dialog antara pengembang proyek dan lembaga pembiayaan, sehingga kesenjangan antara kebutuhan implementasi dan akses pendanaan dapat mulai dipetakan bersama,” ujar Indah Budiani.

Forum menghadirkan perspektif dari pemerintah, lembaga teknis, serta pelaku pembiayaan mengenai peluang percepatan investasi iklim untuk sektor industri. Diskusi mencakup topik pendanaan iklim dan mekanisme de-risking untuk proyek industri hijau, strategi promosi investasi hijau dan peluang pendanaan internasional, hingga kesiapan proyek dekarbonisasi industri di Indonesia.

Dalam sesi diskusi, Kementerian Keuangan menyoroti pentingnya penguatan tata kelola guna mempercepat ekosistem investasi proyek industri hijau. Hery Kuswanto, Kepala Divisi Pengembangan Dana Direktorat Penghimpunan dan Pengembangan Dana BPDLH Kementerian Keuangan RI, mengatakan, “Dukungan pendanaan dekarbonisasi sektor industri dapat dilakukan melalui penguatan tata kelola, termasuk mendukung Kementerian Perindustrian dalam pengembangan mekanisme dan kelembagaan perdagangan emisi gas rumah kaca (GRK) sektor industri. Ke depan, skema penjaminan dan instrumen pembiayaan diharapkan dapat membantu proyek-proyek transisi hijau yang masih dipandang kurang bankable agar lebih layak mendapatkan pembiayaan,” sebut Hery.

Baca Juga: IBCSD dan Kadin Net Zero Hub Dorong Akselerasi Dekarbonisasi di Kawasan Industri MM2100

Sejalan dengan hal tersebut, Penata Kelola Penanaman Modal Ahli Madya Direktorat Promosi Asia Timur, Asia Selatan, Timur Tengah dan Afrika, Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, Krisman Riyadi menyoroti pentingnya kesiapan proyek dekarbonisasi agar memiliki daya tarik kuat bagi investor.

“Selain dukungan kebijakan, tantangan ke depan adalah bagaimana proyek-proyek transisi hijau dapat dikembangkan menjadi peluang investasi yang berkelanjutan dan siap ditawarkan (ready to offer). Pemerintah terus gencar mendorong promosi investasi lestari, khususnya pada sektor energi terbarukan dan industri hijau, guna mempercepat pemenuhan kebutuhan investasi dekarbonisasi di Indonesia,” ujar Krisman.

Selain sesi pleno, peserta juga terlibat dalam diskusi yang berfokus pada tiga area utama, yaitu efisiensi energi industri, proyek energi terbarukan, dan ekonomi sirkular/penanganan limbah. Diskusi ini dirancang untuk mengidentifikasi tantangan implementasi, kebutuhan investasi, potensi risiko proyek, hingga peluang skema pembiayaan yang lebih sesuai dengan karakteristik masing-masing proyek.

Sejumlah tantangan utama yang mengemuka dalam diskusi antara lain regulasi yang masih terus diperbaharui, tingginya biaya investasi teknologi, ketentuan sertifikasi dan klaim energi terbarukan yang masih bias, hambatan teknis dalam membangun baseline dan verifikasi data, serta masih kurangnya ekosistem kolaboratif antar regulator, pelaku industri, dan lembaga keuangan.

Melalui forum ini, IBCSD berharap dapat mendorong terbentuknya pemahaman bersama mengenai hambatan utama percepatan investasi dekarbonisasi industri, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih konkret antara sektor industri dan lembaga pembiayaan.

Ke depan, hasil diskusi forum ini diharapkan dapat menjadi langkah awal dalam membangun pipeline investasi dan tindak lanjut yang lebih implementatif guna mempercepat transisi menuju industri rendah karbon di Indonesia.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Kolaborasi Multipihak...
Kolaborasi Multipihak Dorong Dekarbonisasi dan Inisiatif Ekonomi Sirkular untuk Daya Saing Industri
Kadin Net Zero Hub Bersama...
Kadin Net Zero Hub Bersama KIIC Dorong Aksi Nyata Dekarbonisasi Industri
Kolaborasi IBCSD dan...
Kolaborasi IBCSD dan BEI Dorong Akses Pembiayaan Berkelanjutan melalui Sustainable Bonds & Sukuk
Usia 11 Tahun, Bank...
Usia 11 Tahun, Bank Mandiri Taspen Perkuat Layanan Inklusif dan Berkelanjutan
CEO BRI Hadir di WEF...
CEO BRI Hadir di WEF 2026, Beberkan Tantangan Pembiayaan Berkelanjutan di Emerging Markets
ITS Tembus Peringkat...
ITS Tembus Peringkat 101-200 Besar Dunia di THE Impact Ratings 2026
Dari Penebang Kayu ke...
Dari Penebang Kayu ke Pemandu Ekowisata: Kisah Ritno Kurniawan, Penggerak Desa Sejahtera Astra Nyarai
Wujudkan SDGs 2030,...
Wujudkan SDGs 2030, LAN Perkuat Tata Kelola Pemerintahan di Pusat dan Daerah
Rekomendasi
Refly Harun Desak PN...
Refly Harun Desak PN Jakarta Timur Bolehkan Siaran Langsung Sidang Dokter Tifa
Jelang Tahun Ajaran...
Jelang Tahun Ajaran Baru, Orang Tua Utamakan Sepatu Sekolah yang Nyaman dan Awet
5 Calon Manajer Kopdes...
5 Calon Manajer Kopdes dan Kampung Nelayan Meninggal, Kemhan Ganti Nama Latsarmil
Berita Terkini
Program CID Pertamina...
Program CID Pertamina Patra Niaga Ubah Tantangan Lokal Jadi Peluang Usaha
SIG Berdayakan UMKM...
SIG Berdayakan UMKM Berbasis Potensi Lokal di Tuban
Keamanan Aset Kripto...
Keamanan Aset Kripto Bukan Hanya soal Teknologi, tetapi Kesadaran Pengguna
Kawal Kedaulatan Energi...
Kawal Kedaulatan Energi di Jatim, Komut Pertamina Mochamad Iriawan Cek Kesiapan SAF hingga B50
Insentif Kendaraan Listrik...
Insentif Kendaraan Listrik Mundur Jauh, Begini Kata Purbaya
Usulan Rokok Murah Dikhawatirkan...
Usulan Rokok Murah Dikhawatirkan Tekan Penerimaan Negara
Infografis
Jadwal Imsakiyah Ramadan...
Jadwal Imsakiyah Ramadan 1447 H / 2026 M untuk Wilayah Jakarta
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved