BPOM Perketat Batas Migrasi BPA Galon Guna Tekan Risiko Pubertas Dini

Selasa, 26 Mei 2026 - 19:55 WIB
loading...
BPOM Perketat Batas...
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menetapkan batas migrasi zat kimia Bisphenol A (BPA) maksimal 0,6 bagian per juta (ppm) pada kemasan. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI menetapkan batas migrasi zat kimia Bisphenol A (BPA) maksimal 0,6 bagian per juta (ppm) pada kemasan pangan guna memitigasi risiko gangguan kesehatan hormon pada anak. Langkah standardisasi ini menjadi krusial bagi pelaku industri makanan dan minuman (mamin) mengingat paparan BPA dari galon plastik guna ulang terindikasi kuat menjadi salah satu faktor lingkungan yang memicu pubertas dini.

“Zat-zat yang terdapat di lingkungan itu bisa mengganggu mekanisme kerja hormon,” ujar Pakar Obstetri dan Ginekologi, Prof. Dr. dr. Budi Wiweko, MD, Sp.OG seperti dikutip, Selasa (26/5).

Baca Juga: BPOM: Isu Wajib Apoteker di Minimarket Hoaks, yang Diatur Pengelolaan Obatnya

Prof. Budi, yang akrab disapa Prof. Iko, menjelaskan bahwa faktor lingkungan seperti zat pengganggu hormon yang ditemukan pada kemasan komoditas mamin harian masih dapat dikontrol melalui regulasi dan pilihan konsumen. Dalam konteks struktur kimia, BPA memiliki karakteristik yang menyerupai hormon estrogen sehingga mampu bekerja langsung pada organ sasaran seperti rahim dan payudara.

Dampaknya, apabila anak perempuan terekspos zat kimia tersebut pada usia dini, pertumbuhan fisik luar dan organ reproduksinya akan terstimulasi secara abnormal sehingga memicu pubertas terlalu cepat. Kondisi klinis ini tidak hanya membebani psikologis anak, tetapi juga meningkatkan risiko penyakit tidak menular (PTM) jangka panjang seperti obesitas, diabetes, gangguan kardiovaskular, hingga kanker payudara.



Dari perspektif industri air minum dalam kemasan (AMDK), galon komersial berbasis polikarbonat menjadi salah satu produk kemasan yang memerlukan pengawasan kepatuhan paling ketat. Kepatuhan produsen terhadap ambang batas migrasi yang ditetapkan regulator menjadi indikator penting dalam menjaga kualitas produk dan kepercayaan pasar.

Selain menyasar anak-anak, paparan senyawa kimia ini juga berdampak signifikan pada kesehatan reproduksi usia produktif dan ibu hamil yang menjadi segmen konsumen utama. Risiko gangguan pematangan telur, kesulitan hamil, miom, hingga kista endometriosis jamak dipengaruhi oleh akumulasi zat polutan lingkungan tersebut.

Oleh karena itu, intervensi proteksi konsumen di tingkat keluarga perlu diperketat, terutama dalam menyaring produk kemasan yang digunakan sehari-hari. Orang tua diimbau lebih cermat membaca label informasi produk dan mulai beralih memilih kemasan logistik mamin yang bersertifikat bebas BPA (BPA free).

Baca Juga: Mayoritas Konsumen Keluhkan Bahaya Galon Tua, KKI: 92 Juta Penduduk Terancam BPA

Sementara itu, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai tren kenaikan kasus pubertas dini di lapangan sering kali terlambat disadari oleh lingkungan keluarga dan baru terdeteksi saat fase konsultasi medis. Ia menekankan pentingnya preventif kolektif melalui pembatasan konsumsi mamin dari kemasan plastik yang tidak terstandarisasi dengan baik.

Adanya pengetatan standardisasi dari otoritas pengawas obat dan makanan ini diharapkan dapat mendorong para pelaku industri manufaktur kemasan untuk berinovasi memproduksi wadah pangan yang lebih aman. Transformasi bahan baku kemasan yang ramah kesehatan kini menjadi tuntutan pasar yang tidak dapat dihindari.

Langkah mitigasi ini pada akhirnya ditempatkan sebagai investasi jangka panjang untuk melindungi kualitas sumber daya manusia nasional dari risiko kebangkrutan medis. Pesan utamanya adalah membangun kesadaran komersial yang sehat tanpa harus menimbulkan kepanikan masif di sektor industri mamin domestik.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Harga Sama, KKI Soroti...
Harga Sama, KKI Soroti Diskriminasi Kualitas Galon Guna Ulang di Pasaran
KKI Ingatkan ke Konsumen...
KKI Ingatkan ke Konsumen Galon Guna Ulang Ada Batas Masa Pakainya
Harga Plastik Naik,...
Harga Plastik Naik, Industri Didorong Bangun Ketahanan di Tengah Tekanan Global
Lindungi Konsumen, BPKN...
Lindungi Konsumen, BPKN Minta Produsen AMDK Tarik Galon Tua dari Peredaran
DPR Soroti soal Galon...
DPR Soroti soal Galon Guna Ulang Melebihi Batas Usia Pakai
Rugikan Konsumen, KKI...
Rugikan Konsumen, KKI Temukan Galon Berusia Tua Masih Banyak Beredar di Pasaran
Penelitian Unair: Galon...
Penelitian Unair: Galon Polikarbonat Tak Terkait Gangguan Hormon hingga Kanker
Pengamat: Kemasan Guna...
Pengamat: Kemasan Guna Ulang Bisa Jadi Alternatif Solusi Kenaikan Harga Plastik
Legislator PDIP Minta...
Legislator PDIP Minta Negara Sediakan Air Layak Minum untuk Masyarakat
Rekomendasi
3 Alasan Pemakaman Khamenei...
3 Alasan Pemakaman Khamenei Bisa Pecahkan Rekor Sejarah, Dihadiri 15 Juta Orang
Ini 10 Negara yang Melarang...
Ini 10 Negara yang Melarang Masuk 2 Menteri Ekstremis Israel Ben-Gvir dan Smotrich
Nasib Gugatan Praperadilan...
Nasib Gugatan Praperadilan Roy Suryo terkait Penggeledahan Diputuskan Hari Ini, Berikut 11 Tuntutannya
Berita Terkini
Cadangan Devisa Indonesia...
Cadangan Devisa Indonesia per Juni 2026 Naik jadi USD145,6 Miliar
Istana Sebut Tarif Listrik...
Istana Sebut Tarif Listrik Harusnya Naik, tapi Daya Beli Jadi Prioritas
Harga Emas Lebih Murah,...
Harga Emas Lebih Murah, Hari Ini Turun Rp15 Ribu jadi Rp2.655.000 per Gram
IHSG Kokoh di Zona Hijau,...
IHSG Kokoh di Zona Hijau, Hari Ini Dibuka Menguat ke 5.933
Perang Bikin Jalur Suku...
Perang Bikin Jalur Suku Bunga Bank Sentral Terkunci di Level Tertinggi, Era Pinjaman Murah Berakhir
DANA Catat Pendapatan...
DANA Catat Pendapatan UMKM Alumni SisBerdaya Naik 113%
Infografis
Trump Beri Batas Waktu...
Trump Beri Batas Waktu 100 Hari untuk Akhiri Perang Ukraina-Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved