Purbaya Santai Tanggapi Rupiah Tembus Rp17.800: Nggak Ada Masalah
Rabu, 27 Mei 2026 - 11:58 WIB
loading...
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rangkaian menjalankan salat Iduladha di DJP, Rabu (27/5/2026). FOTO/Rohman Wibowo
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menanggapi santai pelemahan nilai tukar rupiah yang menyentuh Rp17.800 per dolar AS pada penutupan perdagangan, Selasa (26/5). Pemerintah memastikan kondisi tersebut masih terkendali dan telah diperhitungkan dalam asumsi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Nggak ada masalah, kami sudah hitung. Pada waktu simulasi harga minyak dunia mencapai USD100 per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan. Jadi nnggak ada masalah, saya nnggak harus hitung ulang APBN-nya," kata Purbaya usai salat Iduladha di DJP, Rabu (27/5/2026).
Baca Juga: Ambruk Makin Parah, Rupiah Sore Ini Sentuh Rp17.795 per Dolar AS
Purbaya bahkan sempat melontarkan kelakar saat ditanya soal potensi tekanan kebijakan. "Ya saya stres," ujarnya sambil menegaskan tidak ada langkah pengetatan baru yang perlu diambil dalam waktu dekat.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini fokus memperkuat pasar obligasi sebagai langkah mitigasi di tengah pelemahan rupiah. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan kepercayaan investor.
Menurut Purbaya, terdapat fenomena menarik di pasar surat utang, di mana imbal hasil obligasi (bond yield) justru mengalami penurunan meski rupiah melemah. Kondisi ini dipicu aksi beli oleh institusi pemerintah untuk menjaga yield tetap kompetitif.
"Walaupun rupiah melemah, bond yield-nya turun karena aksi dari pemerintah dan bendahara untuk sedikit membeli supaya yield terkendali. Selama bond market terkendali, kemampuan investor asing untuk masuk juga terjaga," ujarnya.
Dia menambahkan, stabilitas pasar obligasi menjadi kunci untuk menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah juga mencatat adanya arus masuk modal asing ke pasar surat utang domestik.
Baca Juga: Prabowo Beli 1.098 Ekor Sapi Kurban Pakai APBN Rp100 Miliar, Purbaya: Saya Nggak Tahu
Kondisi tersebut dinilai sebagai sinyal positif bahwa investor global masih memiliki kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia, meskipun nilai tukar tengah mengalami tekanan.
Pemerintah sedang menyiapkan sejumlah langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Koordinasi lintas lembaga diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Purbaya kembali menegaskan ketahanan ekonomi domestik menjadi faktor utama yang membuat rupiah tidak tertekan lebih dalam dibandingkan negara lain. Pihaknya optimistis nilai tukar akan kembali menguat mencerminkan fundamental ekonomi nasional dalam waktu mendatang.
"Nggak ada masalah, kami sudah hitung. Pada waktu simulasi harga minyak dunia mencapai USD100 per barel itu, asumsi rupiahnya juga sudah kami perhitungkan. Jadi nnggak ada masalah, saya nnggak harus hitung ulang APBN-nya," kata Purbaya usai salat Iduladha di DJP, Rabu (27/5/2026).
Baca Juga: Ambruk Makin Parah, Rupiah Sore Ini Sentuh Rp17.795 per Dolar AS
Purbaya bahkan sempat melontarkan kelakar saat ditanya soal potensi tekanan kebijakan. "Ya saya stres," ujarnya sambil menegaskan tidak ada langkah pengetatan baru yang perlu diambil dalam waktu dekat.
Ia menjelaskan, pemerintah saat ini fokus memperkuat pasar obligasi sebagai langkah mitigasi di tengah pelemahan rupiah. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga stabilitas pasar keuangan dan kepercayaan investor.
Menurut Purbaya, terdapat fenomena menarik di pasar surat utang, di mana imbal hasil obligasi (bond yield) justru mengalami penurunan meski rupiah melemah. Kondisi ini dipicu aksi beli oleh institusi pemerintah untuk menjaga yield tetap kompetitif.
"Walaupun rupiah melemah, bond yield-nya turun karena aksi dari pemerintah dan bendahara untuk sedikit membeli supaya yield terkendali. Selama bond market terkendali, kemampuan investor asing untuk masuk juga terjaga," ujarnya.
Dia menambahkan, stabilitas pasar obligasi menjadi kunci untuk menjaga aliran modal asing tetap masuk ke Indonesia. Dalam beberapa waktu terakhir, pemerintah juga mencatat adanya arus masuk modal asing ke pasar surat utang domestik.
Baca Juga: Prabowo Beli 1.098 Ekor Sapi Kurban Pakai APBN Rp100 Miliar, Purbaya: Saya Nggak Tahu
Kondisi tersebut dinilai sebagai sinyal positif bahwa investor global masih memiliki kepercayaan terhadap fundamental ekonomi Indonesia, meskipun nilai tukar tengah mengalami tekanan.
Pemerintah sedang menyiapkan sejumlah langkah lanjutan untuk memperkuat nilai tukar rupiah. Koordinasi lintas lembaga diharapkan mampu memberikan dampak signifikan dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Purbaya kembali menegaskan ketahanan ekonomi domestik menjadi faktor utama yang membuat rupiah tidak tertekan lebih dalam dibandingkan negara lain. Pihaknya optimistis nilai tukar akan kembali menguat mencerminkan fundamental ekonomi nasional dalam waktu mendatang.
(nng)
Lihat Juga :