BPA Galon Bisa Picu Biaya Kesehatan Jangka Panjang, Pakar Dorong Pencegahan dari Hulu

Sabtu, 30 Mei 2026 - 15:28 WIB
loading...
BPA Galon Bisa Picu...
BPA Galon Bisa Picu Biaya Kesehatan Jangka Panjang. FOTO/iStock
A A A
JAKARTA - Kesadaran masyarakat yang makin tinggi terhadap pencegahan pubertas dini pada anak diproyeksi bakal mengubah peta industri kemasan pangan dan air minum dalam kemasan (AMDK) bebas Bisphenol A (BPA). Langkah mitigasi kesehatan yang dimulai sejak fase pra-kehamilan hingga pola asuh anak ini diyakini akan mendorong permintaan pasar terhadap produk-produk penunjang gaya hidup sehat yang ramah hormon.

"Perencanaan kehamilan itu harus direncanakan. Gak zamannya lagi hamil itu kebetulan, harus direncanakan," kata pakar obstetri dan ginekologi Prof. Dr. dr. Budi Wiweko seperti dikutip, Sabtu (30/5/2026).

Baca Juga: BPOM Perketat Batas Migrasi BPA Galon Guna Tekan Risiko Pubertas Dini

Menurut Prof. Budi, yang akrab disapa Prof. Iko, paparan zat pengganggu hormon atau endocrine disrupting chemical seperti BPA dari galon guna ulang dan kemasan plastik harus dihindari sejak awal. Ia menekankan pentingnya perlindungan ketat bagi ibu hamil, terutama pada trimester pertama kehamilan atau tiga bulan pertama, agar janin tidak terekspos zat kimia berbahaya tersebut.

Guna melindungi konsumen, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI sendiri sebenarnya telah menetapkan batas migrasi maksimal BPA sebesar 0,6 bagian per juta (mg/kg) dalam kemasan pangan. Batasan regulasi ini menjadi acuan penting bagi pelaku industri kemasan untuk memastikan produk yang beredar di pasar aman bagi kesehatan reproduksi jangka panjang.



Lebih lanjut, Prof. Iko menjelaskan Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia (POGI) saat ini memiliki program bertajuk “Selamatkan Perempuan Indonesia”. Program ini menekankan bahwa kesehatan perempuan harus dibangun dari hulu sampai hilir, yang berarti persiapan tidak cukup hanya dimulai saat bayi sudah lahir ke dunia.

"Selamatkan Perempuan Indonesia mulai dari hulu sampai ke hilir, mulai dari perencanaan kehamilan. Seribu hari pertama kehidupan saya kurang setuju, harusnya mulai seratus hari sebelum hamil itu sudah disiapkan, termasuk BPA dan zat kimia pengganggu hormon lainnya," ujar Prof. Iko.

Ia memperingatkan bahwa ibu hamil yang terpapar zat pengganggu hormon pada tiga bulan pertama dapat membawa risiko kesehatan reproduksi bagi anak di kemudian hari. Gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai dari dampak paparan tersebut antara lain adalah kista endometriosis, kista coklat, Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS), hingga risiko penyakit kanker.

Baca Juga: Harga Sama, KKI Soroti Diskriminasi Kualitas Galon Guna Ulang di Pasaran

Dari sisi psikologi, Psikolog Ratih Zulhaqqi menilai bahwa fenomena pubertas dini pada anak erat kaitannya dengan kesiapan mental dan pengetahuan holistik dari orang tua sebelum memiliki anak. Ia menekankan bahwa calon orang tua wajib memahami kebutuhan dasar anak sejak dini, termasuk menjaga pola hidup sehat agar terhindar dari paparan zat berbahaya.

"Pubertas dini ini kan sebenarnya bukan permasalahan pada saat mereka pubertas saja, justru dari sebelum-sebelumnya, ketika mereka mau jadi orang tua. Orang tua perlu memperhatikan jam tidur, jam makan, dan apa yang dikonsumsi, termasuk menghindari zat seperti BPA," tutur Ratih.

Sebab itu, pencegahan pubertas dini perlu ditempatkan sebagai strategi keluarga yang berkelanjutan mulai dari rencana kehamilan, masa mengandung, hingga pola asuh. Beralih ke pilihan kemasan makanan dan minuman yang bebas BPA menjadi langkah investasi kesehatan yang nyata untuk mengurangi risiko kerusakan hormon dan masa depan anak.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Galon Guna Ulang Berizin...
Galon Guna Ulang Berizin Edar BPOM dan Ber-SNI Dipastikan Aman Dipakai
Isu Bahaya Galon Guna...
Isu Bahaya Galon Guna Ulang Dinilai Berpotensi Rugikan Pelaku UMKM
Peneliti USU Uji Sampel...
Peneliti USU Uji Sampel Galon Guna Ulang, Bebas Kandungan BPA
Pakar ITB Ungkap Hasil...
Pakar ITB Ungkap Hasil Penelitian Kandungan BPA di Galon Air
Kian Diminati, Penjualan...
Kian Diminati, Penjualan Air Minuman Kemasan Galon Bermerek Tembus Rp9,7 Triliun
Meneropong Efek Gaduh...
Meneropong Efek Gaduh Pelabelan BPA Galon ke Dunia Usaha
Siapa Adnan Al Jumaili?...
Siapa Adnan Al Jumaili? Wakil Menteri Perminyakan Iran yang Simpan Uang Korupsi di Galon dan Ditimbun di Tanah
Pengamat Nilai Galon...
Pengamat Nilai Galon Guna Ulang PET Efektif Kurangi Sampah Plastik
BRIN Sebut Galon Kuat...
BRIN Sebut Galon Kuat Berbahan PC Ideal untuk Distribusi di Wilayah Indonesia
Rekomendasi
Pimpin Panen Raya di...
Pimpin Panen Raya di Malang, Prabowo: Bukti TNI Hadir Perkuat Kemandirian Pangan
Hotman Paris Ungkap...
Hotman Paris Ungkap Alasan Bersedia Menjadi Kuasa Hukum Febrie Adriansyah
Palapa di Pundak Sang...
Palapa di Pundak Sang Jenderal: Gajah Mada, Sjafrie Sjamsoeddin, dan Siklus 7 Abad Nusantara
Berita Terkini
Jaga Pasokan BBM di...
Jaga Pasokan BBM di Sumut: Pertamina Tindak Mobil Tangki Nakal, Terminal dan SPBU Siaga 24 Jam
Daftar Saham Paling...
Daftar Saham Paling Cuan hingga Boncos dalam Sepekan saat IHSG Melejit 4,42 Persen
IHSG Kembali ke Level...
IHSG Kembali ke Level 6 Ribuan usai Melesat 4,24%, Kapitalisasi Pasar Jadi Rp10.749 Triliun
S&P Tahan RI Masih Investment...
S&P Tahan RI Masih Investment Grade, Fuad Bawazier Prediksi Ekonomi Bangkit 6 Bulan Lagi!
Transaksi Serba Digital,...
Transaksi Serba Digital, Pembelian Token Listrik Semakin Praktis
BI Injeksi Likuiditas...
BI Injeksi Likuiditas Rp837,11 Triliun, Tekanan di Pasar Uang Mulai Reda
Infografis
Klaim AS Hendak Bunuh...
Klaim AS Hendak Bunuh Putin Bisa Picu Perang Nuklir dengan Rusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved