Rupiah Sentuh Rp17.883 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Belum Hambat Aktivitas Ekonomi

Senin, 01 Juni 2026 - 08:35 WIB
loading...
Rupiah Sentuh Rp17.883...
Menkeu, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS (USD) belum memberikan dampak signifikan terhadap perekonomian nasional. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia dalam kondisi yang kuat.

Pernyataan tersebut disampaikan Purbaya saat menjawab pertanyaan media asing dalam konferensi pers Persiapan Operasional PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) di Wisma Danantara, Jakarta, Minggu (31/5). Ia menyebut pemerintah telah mengantisipasi depresiasi rupiah dalam penyusunan anggaran negara, sehingga pelemahan kurs hingga level saat ini dinilai masih berada dalam batas yang dapat dikelola.

"Dari sisi anggaran, kami telah memperhitungkan depresiasi rupiah mendekati tingkat saat ini, jadi anggaran saya masih aman meskipun rupiah melemah ke tingkat sekarang. Secara teoritis, ketika Anda memiliki ekonomi yang kuat, mata uang Anda pada akhirnya juga akan menguat, bukan?" kata Purbaya.

Baca Juga: Purbaya Santai Tanggapi Rupiah Tembus Rp17.800: Nggak Ada Masalah

Ia menilai penguatan ekonomi domestik akan menjadi faktor utama yang mendorong penguatan nilai tukar rupiah dalam jangka menengah hingga panjang. Menurutnya investor asing, terutama investor penanaman modal asing langsung (FDI), akan terus tertarik menanamkan modal di negara dengan prospek pertumbuhan yang menjanjikan.



Purbaya juga mengklaim Indonesia masih memiliki kinerja pertumbuhan yang relatif lebih baik dibandingkan banyak negara lain. Bahkan, menurutnya, laju pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di posisi kedua di antara negara-negara anggota G20 setelah India.

"Pertumbuhan kita jauh lebih cepat dibandingkan banyak negara, bahkan di G20 kita berada di peringkat kedua setelah India. Jadi, prospek ekonomi kita kuat dan pelemahan rupiah belum memberikan efek pelemahan pada aktivitas ekonomi kita," tegasnya.

Baca Juga: Mengulik Biang Kerok Terkaparnya Rupiah Lawan Dolar Singapura ke Rp14.000, Sesuai Ramalan?

Selain faktor domestik, Purbaya juga menyoroti potensi membaiknya kondisi global dalam beberapa bulan ke depan. Ia menilai perkembangan geopolitik yang lebih kondusif berpotensi mengurangi tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

"Dan saya percaya dalam dua atau tiga bulan ke depan situasinya akan jauh lebih baik daripada sekarang, yang berarti gangguan yang sampai batas tertentu melemahkan rupiah juga akan hilang, sehingga itu berarti pertumbuhan ekonomi yang lebih kuat dan juga rupiah yang lebih kuat," lanjut Purbaya.

Untuk menjaga stabilitas sektor keuangan dalam jangka pendek, pemerintah terus berkoordinasi dengan bank sentral guna menjaga pasar keuangan tetap kondusif. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mendukung stabilitas pasar obligasi agar kenaikan imbal hasil (yield) tidak terlalu tajam.

Menurut Purbaya, langkah tersebut bertujuan mengurangi risiko kerugian modal (capital loss) bagi investor asing yang memegang obligasi domestik sehingga dapat membantu menjaga arus modal tetap berada di dalam negeri.

"Jadi pada dasarnya, kami membangun koordinasi yang erat dengan Bank Sentral untuk memastikan kondisi sektor keuangan tetap kuat dan stabil. Dan dengan kerja sama yang baik, saya percaya pada akhirnya kita akan dapat memulihkan kepercayaan terhadap rupiah," tutupnya.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rupiah Ditutup Menguat...
Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.986 per Dolar AS, Apa Saja Penyebabnya?
Utang Luar Negeri Indonesia...
Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp8.000 Triliun, Purbaya: Masih Aman
Soal Hapus Pajak JHT,...
Soal Hapus Pajak JHT, Purbaya Masih Tunggu Data BPJS Ketenagakerjaan
Purbaya Tepis Main-main...
Purbaya Tepis Main-main soal Tarik Ulur Dana SAL Rp400 Triliun di Bank BUMN
Rupiah Belum Menjauh...
Rupiah Belum Menjauh dari Level Rp18.068 per USD, Intip 2 Sentimen Penyebabnya
S&P Pertahankan Rating...
S&P Pertahankan Rating Indonesia, Kepercayaan Global Dinilai Masih Kuat
Mega Korupsi Penegak...
Mega Korupsi Penegak Hukum Merusak Ekonomi Negara
FSP BUMN Bersatu Sebut...
FSP BUMN Bersatu Sebut Gelombang PHK Cerminkan Persoalan Struktural Ekonomi Nasional
Prabowo: Selat Hormuz...
Prabowo: Selat Hormuz Ditutup, Kita Percaya Diri Mampu Mengatasi
Rekomendasi
Dilaporkan ke Polres...
Dilaporkan ke Polres Jaksel, Roy Suryo Langsung Pamerkan IPK 3,86
Hadiri Sidang Dokter...
Hadiri Sidang Dokter Tifa, Roy Suryo: Kita Tetap Bersama Tak Ada Perpecahan
MUI Jatim Haramkan Penyalahgunaan...
MUI Jatim Haramkan Penyalahgunaan Vape, Berikut Penjelasannya
Berita Terkini
Pupuk Kaltim Perkuat...
Pupuk Kaltim Perkuat Green and Smart Port, Dukung Daya Saing Industri dan Logistik
Prabowo Merasa Berutang...
Prabowo Merasa Berutang ke Warga Maluku saat Resmikan LNG Abadi Masela: Janji Dibayar
Kirim Uang ke Luar Negeri...
Kirim Uang ke Luar Negeri Lebih Hemat: Pakai BRImo dan Nikmati Cashback Rp50.000
5 Negara Pengirim Modal...
5 Negara Pengirim Modal Terbesar ke Indonesia, Ini Rajanya dalam 10 Tahun Terakhir
Era Coretax Didorong...
Era Coretax Didorong Jadi Momentum Reformasi Pemotongan Pajak Penghasilan
IHSG Terus Berlari ke...
IHSG Terus Berlari ke Level 6.108 hingga Akhir Sesi, Transaksi Bursa Cetak Rp13,2 Triliun
Infografis
Bakar Uang Demi Perang:...
Bakar Uang Demi Perang: Jejak Kelam Ekonomi Militer AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved