Rupiah Keok Lawan Dolar AS, Hari Ini Berakhir Sentuh Rp17.839

Selasa, 02 Juni 2026 - 16:52 WIB
loading...
Rupiah Keok Lawan Dolar...
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026), turun 34 poin atau sekitar 0,19% ke level Rp17.839 per dolar AS. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada akhir perdagangan Selasa (2/6/2026), turun 34 poin atau sekitar 0,19% ke level Rp17.839 per dolar AS. Sementara itu kurs rupiah terlihat balik melawan pada data JISDOR BI, dimana hari ini bertenggar di Rp17.863, atau sedikit membaik dari sebelumnya Rp17.883/USD.

Pengamat pasar uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, bahwa salah satu sentimen datang dari Presiden AS Donald Trump mengatakan pada hari Senin waktu setempat bahwa pembicaraan dengan Iran masih berlangsung, sementara kantor berita Tasnim sebelumnya melaporkan bahwa Teheran telah menangguhkan negosiasi tidak langsung dengan Washington.

"Trump mengharapkan kesepakatan untuk memperpanjang gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz 'dalam minggu depan'" tulis Ibrahim dalam risetnya.

Baca Juga: Rupiah Sentuh Rp17.883 per Dolar AS, Menkeu Purbaya: Belum Hambat Aktivitas Ekonomi

Dalam sebuah wawancara dengan media asing, Trump mengatakan dia tidak keberatan jika pembicaraan berakhir. Tetapi tak lama kemudian, ia mengeluarkan unggahan di media sosial yang mengatakan bahwa pembicaraan dengan Iran terus berlanjut.

Lebanon pada hari Senin mengumumkan gencatan senjata parsial antara Hizbullah dan Israel, yang akan menjadi de-eskalasi terbatas dari konflik yang telah memperparah perang yang lebih luas dengan Iran.



Adapun Iran secara efektif telah menghentikan hampir semua pengiriman non-Iran ke dan dari Teluk sejak perang dimulai, mencekik sekitar seperlima aliran minyak dan gas alam cair global dan mendorong harga naik 50% atau lebih.

Selain itu Presiden AS Donald Trump pada hari Senin menandatangani proklamasi yang mengubah tarif impor tembaga, aluminium, dan besi, kata Gedung Putih. Proklamasi tersebut menurunkan tarif untuk beberapa peralatan pertanian dari 25% menjadi 15%.

Baca Juga: Mengulik Biang Kerok Terkaparnya Rupiah Lawan Dolar Singapura ke Rp14.000, Sesuai Ramalan?

Proklamasi tersebut menetapkan tarif 15% untuk peralatan industri bergerak, seperti buldoser dan forklift, "jika diimpor dari negara-negara yang memiliki perjanjian perdagangan dan berhak atas perlakuan tersebut," kata Gedung Putih dalam sebuah pernyataan. Perubahan ini akan berlaku hingga 31 Desember 2027 untuk mendorong investasi jangka pendek yang akan membangun kembali basis industri negara," kata Gedung Putih.

Dari sentimen domestik, Badan pusat Statistik (BPS) mencatat perekonomian Indonesia mengalami inflasi sebesar 3,08% secara tahunan (year-on-year/yoy) pada Mei 2026.

Indeks Harga Konsumen (IHK) mengalami kenaikan dari 111,09 pada April 2026 menjadi 111,40 pada Mei 2026. Adapun secara tahun kalender (year-to-date/ytd) inflasi tercatat sebesar 1,35% dan secara bulanan (month-to-month/mtm) sebesar 0,28%.

Selain itu, aktivitas manufaktur Indonesia kembali masuk ke zona ekspansi. Berdasarkan laporan S&P Global, Purchasing Managers' Index (PMI) Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026, setelah terkontraksi ke 49,1 pada April 2026. Kendati menunjukkan sinyal positif, sektor industri masih dibayangi tekanan biaya bahan baku yang melonjak dan gangguan pasokan yang menahan laju produksi.

Berdasarkan laporan S&P Global, posisi PMI pada Mei mengindikasikan kondisi operasional manufaktur yang stabil setelah sempat mengalami kontraksi pada bulan sebelumnya. Perbaikan terutama ditopang oleh peningkatan permintaan domestik yang mendorong kenaikan pesanan baru selama 2 bulan berturut-turut. Kenaikan pesanan baru pada Mei menjadi yang tercepat sejak Februari.

Kemudian, BPS merilis surplus neraca perdagangan Indonesia masih berlanjut hingga April 2026 meski ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi global belum mereda.

Kinerja ekspor nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan, menjadi penopang utama surplus perdagangan nasional. Surplus neraca perdagangan secara kumulatif Januari-April 2026 mencapai USD5,64 miliar. Neraca perdagangan Indonesia telah mengalami surplus selama 72 bulan berturut-turut sejak Mei 2020.

Berdasarkan analisis tersebut, Ibrahim memprediksi bahwa mata uang rupiah akan bergerak fluktuatif pada perdagangan selanjutnya dan berpotensi ditutup melemah dalam rentang Rp17.840-Rp17.900 per dolar AS.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Ekonom Bank Mandiri...
Ekonom Bank Mandiri Ungkap Kunci Penguatan Rupiah dan Rebound IHSG, Fundamental Ekonomi Solid
Rupiah Jeblok Lagi,...
Rupiah Jeblok Lagi, Dolar AS Makin Dekati Level Rp18.000
Hadapi Ketidakpastian...
Hadapi Ketidakpastian Global, Gajah Tunggal Andalkan Efisiensi dan Inovasi
Iran Bebas Produksi,...
Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Kekayaan RI Keluar Sebabkan...
Kekayaan RI Keluar Sebabkan Rupiah Melemah, Prabowo Analogikan seperti Tubuh Kehabisan Darah
Rupiah Tergerus Sentimen...
Rupiah Tergerus Sentimen Eksternal, Hari Ini Berakhir Tembus Rp17.843 per USD
Stabilitas Harga Rupiah...
Stabilitas Harga Rupiah Pasca BI Rate Naik (Lagi)
Gapasdap Dorong Pemerintah...
Gapasdap Dorong Pemerintah Perhatikan Nasib Angkutan Pelayaran Imbas Kenaikan Dolar AS
Istana Terima Tuntutan...
Istana Terima Tuntutan BEM SI Jateng Soal Kuatkan Rupiah, tapi...
Rekomendasi
Stafsus Menag Bertemu...
Stafsus Menag Bertemu Pengurus Rumah Doa Methodis Injili Jemaat Filadelfia Bandung
KPK Telusuri Dugaan...
KPK Telusuri Dugaan Permintaan Uang oleh Kanim Ngurah Rai dan Denpasar saat Periksa 2 Biro Jasa
Transjakarta Rute Tanah...
Transjakarta Rute Tanah Abang–Blok M dan Tj Priok–Kp Rambutan Berhenti Beroperasi 1 Juli
Berita Terkini
Rumah BUMN SIG di Rembang...
Rumah BUMN SIG di Rembang Catat Transaksi Rp6,9 Miliar
MSIN Putuskan Tak Bagi...
MSIN Putuskan Tak Bagi Dividen, Fokus Perkuat Platform Digital
UATAS dan AFPI Ajak...
UATAS dan AFPI Ajak Mahasiswa Bijak Kelola Keuangan
Kinerja Solid, Laba...
Kinerja Solid, Laba Bersih MSIN Melonjak 140% Jadi Rp985 Miliar di 2025
PLN EPI Dorong Zero...
PLN EPI Dorong Zero Waste lewat Pengelolaan Sampah Terpilah dan Daur Ulang
Purbaya Bakal Tempatkan...
Purbaya Bakal Tempatkan Dana Rp400 Triliun Lagi di Himbara
Infografis
Ahmad Vahidi, Panglima...
Ahmad Vahidi, Panglima Baru IRGC di Tengah Perang Lawan AS-Israel
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved