Transaksi Digital Melonjak, Visa Tekankan Pentingnya Pengelolaan Risiko
Jum'at, 05 Juni 2026 - 15:07 WIB
loading...
Visa Indonesia menilai kepercayaan, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran menjadi faktor kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi digital. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Visa Indonesia menilai kepercayaan, keamanan, dan keandalan sistem pembayaran menjadi faktor kunci untuk menjaga pertumbuhan ekonomi digital nasional yang terus berkembang pesat di tengah meningkatnya kompleksitas transaksi digital.
Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia menunjukkan tren yang kuat. Data Bank Indonesia mencatat nilai transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi pada triwulan I 2026 atau tumbuh 37,69% secara tahunan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pembayaran yang cepat, mudah, dan real time.
“Seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, fokus kami adalah mendukung pertumbuhan tersebut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan memperkuat kepercayaan di seluruh ekosistem layanan keuangan dan pembayaran digital, sehingga pelaku usaha dapat berkembang dengan lebih percaya diri dan masyarakat dapat bertransaksi dengan aman,” kata Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari dalam keterangan pers, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Keamanan Jadi Prioritas, Thailand Pangkas Masa Tinggal Bebas Visa bagi Turis
Hal itu disampaikandalam Visa Indonesia Client Forum 2026 di Bali. Menurut Vira, ketika sistem pembayaran mampu beroperasi secara andal dalam skala besar, kondisi tersebut akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan perluasan inklusi keuangan di Indonesia.
Dalam forum yang mempertemukan pelaku perbankan, merchant, fintech, dan pemangku kepentingan industri pembayaran tersebut, Visa menyoroti bahwa perkembangan ekosistem pembayaran digital kini memasuki fase baru. Selain transaksi yang semakin cepat dan terhubung lintas platform, risiko yang harus dikelola juga semakin kompleks.
Visa menilai tantangan utama pelaku usaha saat ini bukan lagi sekadar mengadopsi teknologi pembayaran, melainkan memastikan infrastruktur yang dimiliki mampu mengelola transaksi, pengalaman pelanggan, serta risiko secara bersamaan dalam skala besar dan waktu nyata.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah meningkatnya risiko penipuan digital (fraud). Berdasarkan laporan Spring 2026 Biannual Threats Visa, pelaku kejahatan siber kini semakin banyak memanfaatkan teknik social engineering berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memanipulasi pengguna, dibandingkan menyerang sistem teknologi secara langsung.
Dalam periode Juli hingga Desember 2025, Visa mengidentifikasi hampir USD1 miliar aktivitas yang berkaitan dengan penipuan digital, menjadikannya kategori fraud konsumen terbesar selama periode tersebut. Meski demikian, penguatan sistem keamanan dinilai mulai menunjukkan hasil positif, ditandai dengan penurunan fraud yang melibatkan token perangkat sebesar 9,6% secara tahunan.
Baca Juga: Imigrasi Soekarno-Hatta Tunda Keberangkatan 89 Orang Ingin Pergi Haji Pakai Visa Kerja
Untuk menjawab tantangan tersebut, Visa menghadirkan berbagai layanan bernilai tambah (Value Added Services/VAS) yang membantu bank dan merchant mengelola risiko, meningkatkan kinerja pembayaran, serta memperoleh wawasan terkait perilaku transaksi pelanggan secara lebih terintegrasi.
Visa meyakini pelaku industri yang mampu mengelola kompleksitas transaksi, risiko, dan pengalaman pelanggan secara bersamaan akan memiliki posisi yang lebih kuat untuk tumbuh berkelanjutan. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ekosistem pembayaran digital dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing bisnis di era ekonomi digital yang terus berkembang.
Pertumbuhan transaksi digital di Indonesia menunjukkan tren yang kuat. Data Bank Indonesia mencatat nilai transaksi pembayaran digital mencapai 14,82 miliar transaksi pada triwulan I 2026 atau tumbuh 37,69% secara tahunan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat terhadap layanan pembayaran yang cepat, mudah, dan real time.
“Seiring pertumbuhan ekonomi digital Indonesia, fokus kami adalah mendukung pertumbuhan tersebut secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Hal ini dilakukan dengan memperkuat kepercayaan di seluruh ekosistem layanan keuangan dan pembayaran digital, sehingga pelaku usaha dapat berkembang dengan lebih percaya diri dan masyarakat dapat bertransaksi dengan aman,” kata Country Manager Visa Indonesia Vira Widiyasari dalam keterangan pers, Jumat (5/6/2026).
Baca Juga: Keamanan Jadi Prioritas, Thailand Pangkas Masa Tinggal Bebas Visa bagi Turis
Hal itu disampaikandalam Visa Indonesia Client Forum 2026 di Bali. Menurut Vira, ketika sistem pembayaran mampu beroperasi secara andal dalam skala besar, kondisi tersebut akan menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi dan perluasan inklusi keuangan di Indonesia.
Dalam forum yang mempertemukan pelaku perbankan, merchant, fintech, dan pemangku kepentingan industri pembayaran tersebut, Visa menyoroti bahwa perkembangan ekosistem pembayaran digital kini memasuki fase baru. Selain transaksi yang semakin cepat dan terhubung lintas platform, risiko yang harus dikelola juga semakin kompleks.
Visa menilai tantangan utama pelaku usaha saat ini bukan lagi sekadar mengadopsi teknologi pembayaran, melainkan memastikan infrastruktur yang dimiliki mampu mengelola transaksi, pengalaman pelanggan, serta risiko secara bersamaan dalam skala besar dan waktu nyata.
Salah satu tantangan yang menjadi perhatian adalah meningkatnya risiko penipuan digital (fraud). Berdasarkan laporan Spring 2026 Biannual Threats Visa, pelaku kejahatan siber kini semakin banyak memanfaatkan teknik social engineering berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memanipulasi pengguna, dibandingkan menyerang sistem teknologi secara langsung.
Dalam periode Juli hingga Desember 2025, Visa mengidentifikasi hampir USD1 miliar aktivitas yang berkaitan dengan penipuan digital, menjadikannya kategori fraud konsumen terbesar selama periode tersebut. Meski demikian, penguatan sistem keamanan dinilai mulai menunjukkan hasil positif, ditandai dengan penurunan fraud yang melibatkan token perangkat sebesar 9,6% secara tahunan.
Baca Juga: Imigrasi Soekarno-Hatta Tunda Keberangkatan 89 Orang Ingin Pergi Haji Pakai Visa Kerja
Untuk menjawab tantangan tersebut, Visa menghadirkan berbagai layanan bernilai tambah (Value Added Services/VAS) yang membantu bank dan merchant mengelola risiko, meningkatkan kinerja pembayaran, serta memperoleh wawasan terkait perilaku transaksi pelanggan secara lebih terintegrasi.
Visa meyakini pelaku industri yang mampu mengelola kompleksitas transaksi, risiko, dan pengalaman pelanggan secara bersamaan akan memiliki posisi yang lebih kuat untuk tumbuh berkelanjutan. Kemampuan beradaptasi terhadap perubahan ekosistem pembayaran digital dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga daya saing bisnis di era ekonomi digital yang terus berkembang.
(nng)
Lihat Juga :