Harga Pertamax Rp16.250 Bikin Pusing, Pengemudi Ojol dan Warga Teriak
Rabu, 10 Juni 2026 - 11:15 WIB
loading...
Lonjakan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dinilai terlalu tinggi dan memberatkan, terutama bagi pekerja sektor informal seperti pengemudi ojek online (ojol). Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi Pertamina mulai Rabu (10/6/2026) menuai reaksi dari masyarakat. Lonjakan harga Pertamax dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter dinilai terlalu tinggi dan memberatkan, terutama bagi pekerja sektor informal seperti pengemudi ojek online (ojol) .
Salah seorang pengemudi ojol asal Tambak, Manggarai, Syahrul mengaku kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap biaya operasional sehari-harinya. Baca Juga: Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
"Kalau buat kita sebagai pekerja ojol, sangat memberatkan. Soalnya biasa kita pakai harga sesuai itu, eh tiba-tiba naik, karena benar-benar memberatkan gitu, Pak," kata Syahrul saat diwawancarai di SPBU Pertamina di kawasan Ampera, Jakarta Selatan.
Menurutnya, penghasilan sebagai pengemudi ojol tidak menentu sehingga kenaikan biaya bahan bakar menjadi tantangan tersendiri. Ia mengatakan, pendapatan harian sangat bergantung pada jumlah order yang diterima.
Baca Juga: Harga BBM Pertamax Cs Resmi Naik per Rabu 10 Juni 2026, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Syahrul mengaku akan mencari sumber pendapatan tambahan di luar pekerjaan utamanya sebagai pengemudi ojol. "Paling kita ya misalkan ada sampingan yang lain buat kita selain ojol, misalkan, selain ngojek, ya kita ambil, Pak, gitu kan. Tapi kalau gak ada, mau gak mau kita siasatin dengan cara lain," sebutnya.
Syahrul pun berharap pemerintah dapat menahan laju kenaikan harga BBM di masa mendatang agar tidak semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah.
"Buat kita ya, jangan terlalu tinggi lah, jangan terlalu dinaikin, karena banyak masyarakat di bawah, khususnya kita para ojol, kalau bisa jangan naik," tutupnya.
Keluhan serupa disampaikan Ijong, warga Kebayoran yang mengaku sesekali menggunakan Pertamax meski sehari-hari lebih sering memakai Pertalite. Ia menilai kenaikan harga Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter terlalu drastis dan memberatkan masyarakat.
"Harusnya naiknya perlahan dulu. Kayak Rp1.000, Rp2.000. Cuma kalau langsung ke Rp16.000 sih, kalau saya rasa sih ya rakyat juga (berat)," ujarnya.
Ijong menambahkan, masyarakat kini harus kembali mengatur pengeluaran rumah tangga agar dapat beradaptasi dengan kenaikan harga BBM. "Mau gak mau kita putar otak lagi sih. Kayak pengeluaran kita coba manage lagi, kita kita atur lagi sih kalau kalau kayak gitu sih ke depannya," lanjut Ijong.
Ia berharap pemerintah lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dalam mengambil kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Sebagai informasi, berdasarkan laman resmi Pertamina, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter mulai 10 Juni 2026.
Salah seorang pengemudi ojol asal Tambak, Manggarai, Syahrul mengaku kenaikan harga Pertamax berdampak langsung terhadap biaya operasional sehari-harinya. Baca Juga: Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
"Kalau buat kita sebagai pekerja ojol, sangat memberatkan. Soalnya biasa kita pakai harga sesuai itu, eh tiba-tiba naik, karena benar-benar memberatkan gitu, Pak," kata Syahrul saat diwawancarai di SPBU Pertamina di kawasan Ampera, Jakarta Selatan.
Menurutnya, penghasilan sebagai pengemudi ojol tidak menentu sehingga kenaikan biaya bahan bakar menjadi tantangan tersendiri. Ia mengatakan, pendapatan harian sangat bergantung pada jumlah order yang diterima.
Baca Juga: Harga BBM Pertamax Cs Resmi Naik per Rabu 10 Juni 2026, Pertalite dan Solar Subsidi Tetap
Untuk menyiasati kondisi tersebut, Syahrul mengaku akan mencari sumber pendapatan tambahan di luar pekerjaan utamanya sebagai pengemudi ojol. "Paling kita ya misalkan ada sampingan yang lain buat kita selain ojol, misalkan, selain ngojek, ya kita ambil, Pak, gitu kan. Tapi kalau gak ada, mau gak mau kita siasatin dengan cara lain," sebutnya.
Syahrul pun berharap pemerintah dapat menahan laju kenaikan harga BBM di masa mendatang agar tidak semakin membebani masyarakat berpenghasilan rendah.
"Buat kita ya, jangan terlalu tinggi lah, jangan terlalu dinaikin, karena banyak masyarakat di bawah, khususnya kita para ojol, kalau bisa jangan naik," tutupnya.
Keluhan serupa disampaikan Ijong, warga Kebayoran yang mengaku sesekali menggunakan Pertamax meski sehari-hari lebih sering memakai Pertalite. Ia menilai kenaikan harga Pertamax hingga menembus Rp16.250 per liter terlalu drastis dan memberatkan masyarakat.
"Harusnya naiknya perlahan dulu. Kayak Rp1.000, Rp2.000. Cuma kalau langsung ke Rp16.000 sih, kalau saya rasa sih ya rakyat juga (berat)," ujarnya.
Ijong menambahkan, masyarakat kini harus kembali mengatur pengeluaran rumah tangga agar dapat beradaptasi dengan kenaikan harga BBM. "Mau gak mau kita putar otak lagi sih. Kayak pengeluaran kita coba manage lagi, kita kita atur lagi sih kalau kalau kayak gitu sih ke depannya," lanjut Ijong.
Ia berharap pemerintah lebih mengutamakan kepentingan masyarakat dalam mengambil kebijakan yang berdampak langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Sebagai informasi, berdasarkan laman resmi Pertamina, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara Pertamax Green (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter mulai 10 Juni 2026.
(akr)
Lihat Juga :