Pertamax Naik Picu Migrasi Besar-besaran ke Pertalite, Subsidi BBM Jebol?
Kamis, 11 Juni 2026 - 20:19 WIB
loading...
Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026). FOTO/Yudistiro Pranoto
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan potensi peralihan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) masyarakat dari nonsubsidi ke subsidi tidak akan berdampak signifikan terhadap lonjakan beban anggaran negara. Hal ini merespons kekhawatiran adanya migrasi besar-besaran konsumen dari Pertamax ke Pertalite pascakenaikan harga yang cukup signifikan untuk jenis BBM RON 92 ke atas.
"Kita tidak hitung (beban anggaran tambahan subsidi). Tapi pasti ada beberapa persen yang pindah (menggunakan Pertalite), karena kan tidak semuanya pindah, karena kan yang beli Pertamax karena mobilnya cocok Pertamax," ujar Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Awas! Ledakan Migrasi ke BBM Subsidi
Purbaya mengaku saat ini kementeriannya belum mengantongi data pasti mengenai persentase riil masyarakat yang beralih ke Pertalite setelah penyesuaian tarif tersebut. Kondisi ini membuat Kementerian Keuangan belum melakukan kalkulasi mendalam terkait potensi pembengkakan kuota subsidi, dan menyarankan untuk mengonfirmasi detail teknis konsumsi tersebut kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga jual produk BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter yang mulai berlaku sejak 10 Juni lalu. Penyesuaian ini memicu disparitas harga yang semakin lebar dengan BBM bersubsidi, di mana Pertalite tetap bertahan di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar sebesar Rp6.800 per liter.
Baca Juga: Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga komoditas nonsubsidi ini telah melalui proses evaluasi berkala sesuai dengan formula harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Langkah ini diambil sebagai bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis perusahaan dan kepastian pasokan energi nasional.
Kendati harga lini produk ramah lingkungan mengalami kenaikan, Pertamina memastikan pasokan dan penyaluran BBM bersubsidi, baik jenis gasoline Pertalite maupun gas oil Biosolar, tetap berjalan normal di seluruh SPBU. Emiten pelat merah tersebut berkomitmen menjaga harga kedua produk penugasan itu tetap stabil demi menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.
"Kita tidak hitung (beban anggaran tambahan subsidi). Tapi pasti ada beberapa persen yang pindah (menggunakan Pertalite), karena kan tidak semuanya pindah, karena kan yang beli Pertamax karena mobilnya cocok Pertamax," ujar Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa saat ditemui di Kompleks DPR RI, Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Baca Juga: Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Awas! Ledakan Migrasi ke BBM Subsidi
Purbaya mengaku saat ini kementeriannya belum mengantongi data pasti mengenai persentase riil masyarakat yang beralih ke Pertalite setelah penyesuaian tarif tersebut. Kondisi ini membuat Kementerian Keuangan belum melakukan kalkulasi mendalam terkait potensi pembengkakan kuota subsidi, dan menyarankan untuk mengonfirmasi detail teknis konsumsi tersebut kepada Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
Sebelumnya, PT Pertamina Patra Niaga resmi menaikkan harga jual produk BBM nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter yang mulai berlaku sejak 10 Juni lalu. Penyesuaian ini memicu disparitas harga yang semakin lebar dengan BBM bersubsidi, di mana Pertalite tetap bertahan di angka Rp10.000 per liter dan Biosolar sebesar Rp6.800 per liter.
Baca Juga: Pertamax Naik Rp3.950 Jadi Rp16.250/Liter, Ini Daftar Lengkap Harga BBM di SPBU Pertamina
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa penyesuaian harga komoditas nonsubsidi ini telah melalui proses evaluasi berkala sesuai dengan formula harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Langkah ini diambil sebagai bagian dari implementasi tata kelola energi yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan antara keberlangsungan bisnis perusahaan dan kepastian pasokan energi nasional.
Kendati harga lini produk ramah lingkungan mengalami kenaikan, Pertamina memastikan pasokan dan penyaluran BBM bersubsidi, baik jenis gasoline Pertalite maupun gas oil Biosolar, tetap berjalan normal di seluruh SPBU. Emiten pelat merah tersebut berkomitmen menjaga harga kedua produk penugasan itu tetap stabil demi menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga minyak mentah dunia.
(nng)
Lihat Juga :