Bank Dunia Beri Peringatan Keras usai Rupiah Terpuruk ke Rp18.000

Sabtu, 13 Juni 2026 - 10:12 WIB
loading...
Bank Dunia Beri Peringatan...
Bank Dunia atau World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Bank Dunia atau World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5% di tengah tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang sempat menembus level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Lembaga tersebut memperingatkan meningkatnya tekanan fiskal akibat tingginya belanja pemerintah dan kenaikan beban subsidi energi di tengah konflik Iran yang memicu gejolak harga energi global.

"Rupiah akan kembali menguat secara bertahap pada semester kedua 2026," kata Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR RI, sebagaimana dikutip Sabtu (13/6/2026).

Baca Juga: IMF, Bank Dunia, dan IEA Ketar-ketir Kelangkaan BBM di Depan Mata

Pernyataan tersebut disampaikan sehari setelah Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%. Langkah di luar jadwal itu merupakan kenaikan kedua dalam dua bulan terakhir sebagai upaya menahan pelemahan rupiah yang berulang kali mencetak rekor terendah terhadap dolar AS.

Pemerintah menyiapkan strategi terpadu untuk menstabilkan nilai tukar melalui penguatan koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan. Selain itu, pemerintah juga berupaya meningkatkan pasokan devisa melalui optimalisasi pengelolaan devisa hasil ekspor serta pendalaman pasar keuangan domestik.



Sebagai bagian dari langkah tersebut, pemerintah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2026 yang mewajibkan eksportir sektor sumber daya alam nonmigas menempatkan 100 persen devisa hasil ekspor di bank-bank milik negara selama minimal 12 bulan. Sementara itu, Bank Indonesia membatasi pembelian valuta asing tanpa dokumen pendukung maksimal 25.000 dolar AS per bulan sejak 2 Juni 2026.

Respons pasar terhadap kombinasi kebijakan tersebut mulai terlihat. Pada perdagangan Rabu pagi, rupiah menguat 158 poin atau sekitar 0,88% ke level Rp17.900 per dolar AS setelah sebelumnya sempat berada di kisaran Rp18.039 per dolar AS pada 8 Juni.

Meski demikian, Bank Dunia menilai prospek ekonomi Indonesia masih dibayangi sejumlah risiko. Lembaga tersebut menyoroti tekanan fiskal yang meningkat akibat program belanja pemerintah yang agresif serta membengkaknya subsidi bahan bakar sebagai dampak konflik di Timur Tengah. Proyeksi pertumbuhan 5% itu berada di bawah target pemerintah yang dipatok pada kisaran 5,4 hingga 6%.

Baca Juga: Iran Tegaskan Belum Ada Kesepakatan Akhir dengan AS

Sebelumnya, Bank Dunia sempat memangkas proyeksi pertumbuhan Indonesia menjadi 4,7% dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update pada April. Meski proyeksi terbaru menunjukkan revisi naik dari perkiraan sebelumnya, lembaga tersebut tetap menegaskan bahwa ketidakpastian global dan tekanan terhadap stabilitas fiskal masih menjadi tantangan utama.

Di sisi lain, sejumlah lembaga keuangan memperkirakan Bank Indonesia masih berpeluang melanjutkan pengetatan kebijakan moneter. DBS Group Research memperkirakan ruang kenaikan suku bunga masih terbuka untuk mempertahankan stabilitas nilai tukar, sementara Bank Indonesia juga mengindikasikan kemungkinan tambahan kenaikan suku bunga pada pertemuan kebijakan berikutnya.

Pelemahan rupiah sepanjang 2026 dipicu oleh kombinasi arus keluar modal asing, meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik Timur Tengah, serta kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan fiskal nasional. Karena itu, efektivitas sinergi kebijakan pemerintah dan Bank Indonesia akan menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan kepercayaan investor ke depan
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Rupiah Hari Ini Kurang...
Rupiah Hari Ini Kurang Bertenaga di Posisi Rp17.762 per Dolar AS, Berikut Sebabnya
Rupiah Tampil Perkasa...
Rupiah Tampil Perkasa di Awal Pekan, Hari Ini Sentuh Rp17.708 per Dolar AS
Perkuat Rupiah, BI dan...
Perkuat Rupiah, BI dan Bank Sentral China Perdalam Penguatan Transaksi Tanpa Dolar AS
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Rupiah Bergejolak, Saatnya...
Rupiah Bergejolak, Saatnya Lirik Aset Global?
Mengapa ‘Ekonomi Solid’,...
Mengapa ‘Ekonomi Solid’, Namun Sosial-Politik Mulai Gelisah?
Sikapi Gejolak Ekonomi,...
Sikapi Gejolak Ekonomi, Partai Perindo Sodorkan Risalah Kebijakan untuk BI dan Pemerintah
Rupiah dan IHSG Menguat,...
Rupiah dan IHSG Menguat, SBY: Ada Good News untuk Kita Semua
Rekomendasi
Portugal Mentok, Ronaldo...
Portugal Mentok, Ronaldo Dicap Egois!
Ini Keunggulan Pesawat...
Ini Keunggulan Pesawat Pengebom B-52 vs Tu-22M3 yang Jatuh pada Hari yang Sama
Solusi Praktis Pengurusan...
Solusi Praktis Pengurusan Paspor dan Visa untuk Perjalanan Bisnis
Berita Terkini
Maskapai China Spring...
Maskapai China Spring Airlines Resmi Mengudara di Indonesia, Buka Rute Seminggu 3 Kali
Indo Livestock 2026...
Indo Livestock 2026 Satukan Pelaku Industri dari 30 Negara, Perkuat Daya Saing Industri Peternakan RI
Indonesia-Australia...
Indonesia-Australia Kolaborasi Cetak Tenaga Ahli Butchery dan Food Safety
Strategi Moneter Dikritik...
Strategi Moneter Dikritik Banggar DPR, Begini Penjelasan BI Soal Menjaga Rupiah
Ancam Ritel dan Perbankan,...
Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Bangun BRT Metropolitan...
Bangun BRT Metropolitan Cekungan Bandung, Brantas Abipraya Dukung Transformasi Transportasi
Infografis
Daftar Lengkap Juara...
Daftar Lengkap Juara Dunia MotoGP dari Masa ke Masa
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved