Migrasi Pertamax ke Pertalite, Subsidi BBM Terancam Jebol Rp19,5 Triliun

Sabtu, 13 Juni 2026 - 19:17 WIB
loading...
Migrasi Pertamax ke...
Sejumlah pengendara motor antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di salah satu SPBU di kawasan Palmerah, Jakarta, Rabu (10/6/2026). FOTO/Arif Julianto
A A A
JAKARTA - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax menjadi Rp16.250 per liter memunculkan kekhawatiran terhadap ketahanan fiskal pemerintah pada 2026. Selisih harga yang semakin lebar dengan Pertalite yang tetap dijual Rp10.000 per liter dinilai berpotensi mendorong perpindahan konsumen ke BBM bersubsidi dan meningkatkan beban anggaran negara.

"Hingga Mei 2026, belanja subsidi dan kompensasi energi naik menjadi sekitar Rp203,7 triliun atau 45,6% dari pagu APBN, artinya ruang fiskal energi sudah padat sebelum risiko migrasi diperhitungkan penuh," kata Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik UPN Veteran Jakarta, Achmad Nur Hidayat, Sabtu (13/6/2026).

Baca Juga: Harga Pertamax Melejit Jadi Rp16.250, Kelas Menengah Kian Terjepit

Menurut Achmad, belanja subsidi dan kompensasi energi yang hingga April 2026 telah mencapai Rp153,1 triliun menunjukkan ruang fiskal pemerintah semakin terbatas. Kondisi tersebut menjadi perhatian mengingat kuota Pertalite tahun ini ditetapkan sebesar 29,27 juta kiloliter, sementara konsumsi Pertamax diperkirakan berada pada kisaran 6,4 juta hingga 7 juta kiloliter per tahun.

Ia menjelaskan, potensi migrasi pengguna Pertamax ke Pertalite dapat menimbulkan tambahan beban subsidi yang tidak kecil. Berdasarkan simulasi yang dilakukan, setiap liter BBM bersubsidi memiliki beban implisit bagi negara sekitar Rp3.000 hingga Rp5.000 per liter.



Dalam skenario migrasi konsumen sebesar 20%, volume konsumsi Pertalite diperkirakan bertambah sekitar 1,3 juta kiloliter. Kondisi tersebut berpotensi menambah beban subsidi dan kompensasi energi sekitar Rp3,8 triliun hingga Rp6,5 triliun per tahun.

Bahkan, apabila perpindahan pengguna mencapai 60%, tambahan beban fiskal diperkirakan dapat mencapai Rp11,5 triliun hingga Rp19,5 triliun per tahun. Menurut Achmad, risiko tersebut perlu diantisipasi karena dapat mempersempit ruang gerak pemerintah dalam mengelola anggaran di tengah berbagai kebutuhan belanja negara yang terus meningkat.

Ia menilai solusi jangka pendek tidak cukup hanya dengan melakukan penyesuaian harga, tetapi juga memperkuat ketepatan sasaran subsidi energi melalui perbaikan basis data kendaraan dan transaksi pembelian BBM. Langkah tersebut dinilai penting agar subsidi tidak dinikmati kelompok masyarakat yang sebenarnya mampu membeli BBM nonsubsidi.

Baca Juga: Pertamax Naik Picu Migrasi Besar-besaran ke Pertalite, Subsidi BBM Jebol?

Selain itu, pemerintah juga didorong menyiapkan bantalan sosial bagi kelompok rentan apabila kenaikan harga Pertamax memicu tekanan inflasi pada sektor lain. Komunikasi publik yang transparan juga diperlukan untuk menjaga ekspektasi masyarakat dan pelaku usaha agar tidak terjadi kenaikan harga secara berlebihan.

Achmad menambahkan, percepatan pembangunan transportasi publik dan diversifikasi sumber energi perlu menjadi agenda prioritas untuk mengurangi ketergantungan terhadap BBM. Menurutnya, tantangan utama kebijakan energi saat ini adalah menjaga keseimbangan antara disiplin fiskal dan perlindungan daya beli masyarakat.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menyatakan pemerintah belum menghitung secara khusus potensi tambahan beban subsidi akibat perpindahan konsumen dari Pertamax ke Pertalite. Meski mengakui sebagian pengguna kemungkinan beralih ke BBM bersubsidi, ia menilai tidak seluruh konsumen Pertamax akan melakukan perpindahan karena mempertimbangkan spesifikasi dan kebutuhan kendaraan masing-masing.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Harga Pertamax Melejit...
Harga Pertamax Melejit Jadi Rp16.250, Kelas Menengah Kian Terjepit
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Pertamax Naik Picu Migrasi...
Pertamax Naik Picu Migrasi Besar-besaran ke Pertalite, Subsidi BBM Jebol?
Harga BBM Nonsubsidi...
Harga BBM Nonsubsidi Mendadak Naik di Tengah Malam, DPR Bakal Panggil ESDM dan Pertamina
Harga Pertamax Tembus...
Harga Pertamax Tembus Rp16.250 per Liter, Awas! Ledakan Migrasi ke BBM Subsidi
Harga Pertamax Naik,...
Harga Pertamax Naik, Pengamat UGM: Tak Bisa Ditahan Lagi Pemerintah
Pengamat: Kenaikan Harga...
Pengamat: Kenaikan Harga Pertamax Minim Timbulkan Risiko Gejolak Sosial
Unjuk Rasa Mahasiswa...
Unjuk Rasa Mahasiswa Bubar, Polisi Mulai Buka Jalan Jenderal Sudirman Arah Bundaran HI
Rekomendasi
Gempa Magnitudo 5,1...
Gempa Magnitudo 5,1 Guncang Bitung Sulawesi Utara, Dirasakan di Manado dan Ternate
Kejagung: Sony Sanjaya...
Kejagung: Sony Sanjaya Tak Bisa Jadi Justice Collaborator Jika Menjadi Pelaku Utama
Kasus Muara Enim, Eks...
Kasus Muara Enim, Eks Penyidik KPK: WTP Penting Bagi Pemda, Malah Jadi Ajang Negosiasi
Berita Terkini
Asprindo Dorong Skema...
Asprindo Dorong Skema Hybrid Pengelolaan Blok Andaman
20 Negara Pengimpor...
20 Negara Pengimpor Terbesar Produk China, Indonesia Peringkat Berapa?
Industri Diajak Bergerak...
Industri Diajak Bergerak Cepat Adopsi Energi Surya
Migrasi Pertamax ke...
Migrasi Pertamax ke Pertalite, Subsidi BBM Terancam Jebol Rp19,5 Triliun
Komitmen Perbaikan Tata...
Komitmen Perbaikan Tata Kelola Pengadaan Energi, Pertamina Patra Niaga Gelar FGD
Rupiah Menguat dalam...
Rupiah Menguat dalam Sepekan, Simak Prediksi Pekan Depan
Infografis
37 Pesawat AS Hancur...
37 Pesawat AS Hancur dan Rusak dalam Perang Iran, Kerugian Rp28 Triliun
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved