Utang Pemerintah Bengkak saat Swasta Lesu, Alarm bagi Fiskal Negara

Selasa, 16 Juni 2026 - 21:00 WIB
loading...
Utang Pemerintah Bengkak...
Kenaikan ULN pemerintah di tengah melemahnya aktivitas pembiayaan sektor swasta dinilai menjadi sinyal tekanan yang semakin besar terhadap perekonomian. FOTO/dok.SindoNews
A A A
JAKARTA - Kenaikan utang luar negeri (ULN) pemerintah di tengah melemahnya aktivitas pembiayaan sektor swasta dinilai menjadi sinyal tekanan yang semakin besar terhadap perekonomian nasional. Pergeseran struktur utang tersebut menunjukkan peran negara kian dominan dalam menopang pertumbuhan ekonomi ketika dunia usaha memilih menahan ekspansi.

"Di situ sebetulnya jelas secara polanya berarti mengindikasikan adanya tekanan terhadap ekonomi," kata Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohammad Faisal saat dihubungi, Selasa (16/6/2026).

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Bengkak Tembus Rp7.795 Triliun

Faisal menjelaskan penurunan ULN swasta mencerminkan meredupnya gairah bisnis di dalam negeri. Di tengah ketidakpastian ekonomi global, banyak perusahaan memilih bersikap hati-hati dengan menunda ekspansi dan mengurangi kebutuhan pembiayaan dalam valuta asing.

Menurut dia, kondisi tersebut berdampak pada menurunnya kontribusi sektor swasta terhadap pertumbuhan ekonomi. Ketika aktivitas dunia usaha melambat, pemerintah terpaksa mengambil peran lebih besar melalui belanja negara untuk menjaga stabilitas dan mendorong roda perekonomian tetap bergerak.

Untuk menutup kebutuhan pembiayaan tersebut, pemerintah meningkatkan penarikan utang baru baik melalui pinjaman luar negeri maupun penerbitan Surat Berharga Negara (SBN). Langkah itu dilakukan guna menutup defisit anggaran sekaligus membiayai berbagai program penyangga ekonomi.



Dana hasil pembiayaan utang digunakan untuk menjalankan kebijakan countercyclical, termasuk menjaga daya beli masyarakat dan meredam dampak perlambatan ekonomi. Sebagian anggaran juga dialokasikan untuk menopang subsidi energi yang meningkat akibat kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) serta pelemahan nilai tukar rupiah.

Namun, Faisal mengingatkan bahwa strategi tersebut menyisakan risiko fiskal jangka panjang. Peningkatan utang yang terjadi bersamaan dengan depresiasi rupiah berpotensi memperbesar beban kewajiban pemerintah pada masa mendatang.

"Sebetulnya, dalam kondisi seperti sekarang, peningkatan utang luar negeri yang dibarengi dengan pelemahan nilai tukar rupiah secara otomatis akan meningkatkan nilai kewajiban pembayaran utang tersebut di masa mendatang," ujarnya.

Ia menambahkan, pelemahan kurs rupiah akan membuat pembayaran pokok maupun bunga utang luar negeri menjadi lebih mahal dalam denominasi rupiah. Akibatnya, ruang fiskal pemerintah berpotensi semakin tertekan karena porsi anggaran untuk membayar utang terus meningkat.

Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Tembus Rp7.658 Triliun di Kuartal I-2026

Di sisi lain, Bank Indonesia menilai posisi ULN Indonesia hingga April 2026 masih terkendali dan memiliki struktur yang sehat. Total ULN Indonesia tercatat sebesar USD439,8 miliar atau tumbuh 1,9 persen secara tahunan.

Dari jumlah tersebut, ULN pemerintah mencapai USD216,4 miliar atau tumbuh 3,7 persen secara tahunan. Meski lebih rendah dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya sebesar 3,8 persen, angka tersebut menunjukkan utang pemerintah masih meningkat ketika utang sektor swasta justru mengalami perlambatan.

Perbedaan tren tersebut menjadi perhatian sejumlah ekonom karena mencerminkan tingginya ketergantungan perekonomian terhadap stimulus fiskal pemerintah. Tanpa pemulihan yang lebih kuat di sektor riil dan dunia usaha, peningkatan utang berisiko mempersempit ruang gerak fiskal negara sekaligus menambah beban keuangan pemerintah pada masa depan.
(nng)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Daya Saing Indonesia...
Daya Saing Indonesia Turun ke Peringkat 48 Dunia, Kalah dari Malaysia dan Vietnam
Penerbitan Panda Bond...
Penerbitan Panda Bond Mundur ke Akhir Juli, Purbaya Incar Likuiditas Jumbo
Menkeu Purbaya di Nankai...
Menkeu Purbaya di Nankai University: Mesin Ekonomi Indonesia Melaju Kencang, Fiskal Sehat dan Tangguh
Ekonom Soroti Data Positif...
Ekonom Soroti Data Positif Fiskal dan Investasi, Narasi Sell Indonesia Dinilai Keliru
Terbitkan Panda Bond,...
Terbitkan Panda Bond, Menkeu Purbaya Kantongi Dukungan China
BNPP Perkuat Pengawasan...
BNPP Perkuat Pengawasan Perbatasan RI-Timor Leste via Survei Pengendalian Jalur Tak Resmi di Belu
Pilot Australia Terbangkan...
Pilot Australia Terbangkan 2 Buronan Paling Dicari ke Indonesia via Penerbangan Gelap
10 Pesawat Militer Termahal...
10 Pesawat Militer Termahal di Dunia, Harga 7 Bomber B-2 Hampir Setara Anggaran MBG Indonesia
Rekomendasi
Hajar Makau, Indonesia...
Hajar Makau, Indonesia Amankan Tiket Perempat Final Kejuaraan Bulu Tangkis Junior Asia 2026
Polisi Sita Ratusan...
Polisi Sita Ratusan Perangkat Elektronik di Markas Judi Online Hayam Wuruk, Ini Daftarnya
Kisah Syahla, Anak Driver...
Kisah Syahla, Anak Driver Ojol dan Penjual Nasi Lolos UGM lewat Jalur SNBP
Berita Terkini
Panda Bond Akan Manfaatkan...
Panda Bond Akan Manfaatkan Skema LCT, Bisa Tambah Cadev USD50 Miliar
Investasi Tepat Sasaran,...
Investasi Tepat Sasaran, Pertamina NRE Raup Dividen dari CREC Filipina
Purbaya soal Anggaran...
Purbaya soal Anggaran MBG: Saya Maunya Nol, Tapi Nggak Bisa Kan
BSSN, ABI dan PINTU...
BSSN, ABI dan PINTU Perkuat Sinergi Jamin Keamanan Transaksi Digital
IHSG Ambruk 4,55% dalam...
IHSG Ambruk 4,55% dalam Sepekan, Ini Saham-saham yang Cuan dan Boncos
Investor Saham Meningkat,...
Investor Saham Meningkat, Stockbit Andalkan Keamanan Berlapis
Infografis
5 Negara Produsen Jet...
5 Negara Produsen Jet Tempur Terbesar di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved