Obligasi Global Danantara Laris Manis, Momentum Emas untuk Buy Indonesia

Rabu, 17 Juni 2026 - 17:20 WIB
loading...
Obligasi Global Danantara...
Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM sekaligus CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani bersama Mensesneg Prasetyo Hadi saat memberikan keterangan pers di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (15/06/2026).
A A A
JAKARTA - Keberhasilan Danantara Investment Management dalam menerbitkan obligasi global (global bond) perdana senilai US$1,5 miliar mendapat respons positif dari kalangan akademisi. Akademisi Universitas Esa Unggul, Iswadi, menilai tingginya minat investor internasional terhadap instrumen tersebut menjadi bukti bahwa narasi pesimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia tidak sesuai dengan realitas pasar.

“Keberhasilan penerbitan obligasi global Danantara menunjukkan bahwa kepercayaan investor global terhadap Indonesia tetap kuat. Ini sekaligus membantah narasi 'Sell Indonesia'. Yang terjadi justru sebaliknya, dunia sedang menunjukkan sikap 'Buy Indonesia',” ujar Iswadi dalam keterangannya kepada media di Jakarta, Rabu (17/06/2026).

Danantara Investment Management, anak usaha sovereign wealth fund Danantara, berhasil menerbitkan obligasi global dalam dua tenor, yakni US$750 juta untuk tenor lima tahun dengan yield 5,35 persen dan US$750 juta untuk tenor sepuluh tahun dengan yield 5,95 persen.

Penerbitan tersebut mendapat sambutan luar biasa dari pasar internasional. Order book tercatat mencapai US$4,6 miliar atau mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat dibanding target awal sebesar US$1 miliar. Tingginya permintaan investor bahkan mendorong penurunan yield final hingga 35 basis poin dari panduan awal, yang diperkirakan dapat menghemat biaya bunga sekitar US$5 juta per tahun.

Menurut Iswadi, pencapaian ini memiliki makna strategis karena mayoritas pembeli berasal dari investor institusi global yang dikenal memiliki standar penilaian investasi sangat ketat.

Data alokasi investor menunjukkan bahwa 38 persen pembeli berasal dari Amerika Serikat, terdiri dari fund manager, perusahaan asuransi, dan dana pensiun. Sementara itu, investor dari kawasan Eropa, Timur Tengah, dan Afrika (EMEA) mendominasi dengan porsi 41 persen, sedangkan investor Asia berkontribusi sebesar 21 persen. Sebanyak 82 persen pembeli merupakan asset manager dan fund manager institusional yang umumnya berorientasi pada investasi jangka panjang.

“Investor institusi global tidak mengambil keputusan berdasarkan sentimen sesaat. Mereka melakukan due diligence yang mendalam. Ketika mereka berani menempatkan dana dalam jumlah besar pada instrumen Danantara, itu berarti mereka melihat prospek ekonomi Indonesia sangat menjanjikan,” kata Iswadi.

Ia menambahkan bahwa premi yield obligasi Danantara yang hanya sekitar 10–20 basis poin di atas obligasi dolar pemerintah Indonesia menunjukkan tingginya tingkat kepercayaan pasar terhadap kredibilitas lembaga tersebut.

“Untuk ukuran institusi yang baru berdiri, premi yang sangat tipis ini mencerminkan keyakinan investor bahwa Danantara memiliki fondasi yang kuat dan didukung tata kelola yang kredibel. Ini merupakan pencapaian yang sangat baik,” ujarnya.

Lebih lanjut, Iswadi menilai keberhasilan penerbitan obligasi ini akan memberikan sejumlah dampak positif bagi perekonomian nasional. Pertama, menjadi sinyal kuat kepada dunia bahwa Indonesia memiliki institusi investasi baru yang bankable dan mampu menarik modal global. Kedua, masuknya dana sebesar US$1,5 miliar berpotensi memperkuat cadangan devisa dan memberikan bantalan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global.

Selain itu, keberhasilan ini juga diyakini dapat mendorong partisipasi lebih luas dari sektor perbankan dan investor swasta dalam pembiayaan proyek-proyek strategis nasional melalui skema co-investment.

“Obligasi Danantara yang mengalami oversubscription lebih dari tiga kali lipat dapat diibaratkan sebagai jas hujan di tengah ketidakpastian global. Dunia sedang memberikan vote of confidence kepada Indonesia dan melihat Danantara sebagai mesin investasi baru yang menjanjikan,” jelasnya.

Meski demikian, Iswadi mengingatkan bahwa tantangan terbesar Danantara saat ini bukan lagi mengumpulkan dana, melainkan memastikan dana yang telah diperoleh dapat diwujudkan menjadi proyek-proyek produktif yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Ke depan, yang harus dibuktikan adalah bagaimana dana tersebut diubah menjadi infrastruktur yang produktif, seperti bendungan, pembangkit listrik tenaga surya, pusat data, rumah sakit, dan berbagai proyek strategis lainnya. Jika berhasil, maka dana US$1,5 miliar hari ini dapat menjadi katalis investasi yang jauh lebih besar pada masa mendatang,” tuturnya.

Menurut Iswadi, keberhasilan Danantara dapat menjadi tonggak penting dalam transformasi ekonomi Indonesia menuju negara tujuan investasi global yang semakin diperhitungkan.

“Jika momentum ini terus dijaga dengan tata kelola yang baik dan investasi yang produktif, Indonesia tidak hanya akan dikenal sebagai negara peminjam dana, tetapi sebagai negara yang menjadi tujuan utama investasi dunia,” pungkasnya.
(unt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Rosan Lapor Prabowo...
Rosan Lapor Prabowo soal Perampingan 258 BUMN, 300 Pelat Merah Lain Menyusul
Spesial, Investor Patriot...
Spesial, Investor Patriot Bond Dilindungi dari Tuntutan Pidana hingga Pajak
Menkeu Purbaya: Panda...
Menkeu Purbaya: Panda Bond Indonesia Dapat Dukungan Penuh Bank Sentral China
IHSG Melesat 3,5 Persen,...
IHSG Melesat 3,5 Persen, Saham BUMN Jadi Motor Penguatan Bursa
Perdana, Danantara Terbitkan...
Perdana, Danantara Terbitkan Obligasi Global Senilai USD1,5 Miliar
Merger BUMN Karya Mundur...
Merger BUMN Karya Mundur ke Kuartal IV-2026, BP BUMN Ungkap Alasannya
Prabowo Panggil Rosan...
Prabowo Panggil Rosan Roeslani ke Kertanegara Minggu Malam, Ada Apa?
Bukan Sekadar Digital,...
Bukan Sekadar Digital, Teras Kapal BRI Buktikan CX100 Danantara Hadir Nyata di Pulau Terpencil
Sambut DSI Prabowo,...
Sambut DSI Prabowo, PKB Ingatkan Transparansi dan Keberpihakan ke Petani
Rekomendasi
Ketua BEM FH UBK Akui...
Ketua BEM FH UBK Akui Terima Rp20 Juta, DPR: Polri Harus Investigasi
Fakta Baru Pasar Mobil...
Fakta Baru Pasar Mobil Eropa: Mobil Bensin Turun, EV dan Merek China Melesat
Eks Ketua Ombudsman...
Eks Ketua Ombudsman Hery Susanto Jalani Sidang Pembacaan Dakwaan Hari Ini
Berita Terkini
Tiket Pesawat Kelas...
Tiket Pesawat Kelas Ekonomi Bebas PPN hingga 5 Juli 2026, Ayo Liburan!
IHSG Dibuka Melemah...
IHSG Dibuka Melemah ke Level 5.873, Asing Net Sell Rp1,17 Triliun
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
Tanda Tangani PKB 2026,...
Tanda Tangani PKB 2026, Menaker Titip 3 Agenda Strategis ke Jasa Raharja
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
Status Pasar Modal RI...
Status Pasar Modal RI Tetap Emerging Market, Kekhawatiran Investor Hilang?
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved