Ancam Ritel dan Perbankan, Penipuan 'Gift Card' Digital Kian Sulit Terdeteksi
Rabu, 17 Juni 2026 - 20:55 WIB
loading...
CCEO Zentara Technologies, Regal Star dalam Konferensi International Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Pertumbuhan pesat ekonomi digital dan transaksi pembayaran elektronik di Indonesia memunculkan tantangan baru berupa meningkatnya kasus fraud gift card yang berpotensi menggerus pendapatan pelaku ritel, perbankan, dan penyelenggara program loyalitas. Modus penipuan ini dinilai sulit terdeteksi karena memanfaatkan proses bisnis yang sah tanpa harus membobol sistem keamanan.
"Fraud yang paling merusak saat ini tidak selalu melibatkan peretasan sistem. Sebaliknya, ia menyamar hingga tampak sepenuhnya normal. Banyak perusahaan masih berharap fraud akan memicu alarm keamanan standar, padahal transaksi gift card yang disalahgunakan sering kali terlihat seperti aktivitas pelanggan sehari-hari," kata CEO Zentara Technologies, Regal Star dalam keterangan tertulis, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Keanu Angelo Dicecar 28 Pertanyaan Terkait Kasus Dugaan Penipuan Hanania Travel
Hal itu disampaikan dalam Konferensi International Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen. Perusahaan keamanan siber yang berbasis di Jakarta dan Singapura itu menyoroti semakin maraknya eksploitasi produk bernilai tersimpan (stored value products) seperti gift card di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara. Menurut Zentara, para pelaku kini lebih banyak memanfaatkan celah dalam proses operasional dibandingkan menyerang infrastruktur teknologi secara langsung.
Industri gift card Indonesia sendiri terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan hadiah digital dan program loyalitas korporasi. Berdasarkan Indonesia Gift Card Business and Investment Opportunities Databook, nilai pasar gift card nasional diperkirakan mencapai USD2,37 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 9,1% hingga mencapai sekitar USD3,68 miliar pada 2030.
Regal menjelaskan bahwa fraud gift card dapat terjadi di berbagai tahap siklus hidup produk, mulai dari produksi, distribusi, aktivasi hingga penukaran. Salah satu modus yang banyak ditemukan adalah pencurian data kartu sebelum aktivasi sehingga dana dapat dikuras segera setelah kartu diisi saldo oleh konsumen.
Akibatnya, penerima gift card sering kali tidak memperoleh manfaat dari dana yang dikirimkan, sementara peritel, bank, maupun pembeli tidak menyadari adanya penyimpangan. Kerugian biasanya baru diketahui setelah muncul keluhan pelanggan atau analisis data yang lebih mendalam.
Menurut Zentara, risiko tersebut meningkat seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat nilai transaksi bruto barang (GMV) ekonomi digital Asia Tenggara mencapai 263 miliar dolar AS pada 2024, didorong oleh pertumbuhan perdagangan elektronik dan pembayaran digital.
Riset Zentara mengidentifikasi tiga ancaman utama yang saat ini berkembang pesat, yakni card draining yang memanfaatkan informasi kartu sebelum aktivasi, fraud identitas sintetis untuk memperoleh dan memonetisasi nilai tersimpan, serta rekayasa sosial berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyasar karyawan pengelola gift card.
"Alih-alih hanya mengeksploitasi kelemahan teknologi, fraud modern semakin memanfaatkan proses bisnis dan perilaku manusia. Seiring AI menurunkan biaya operasional penipuan, pelaku ancaman akan terus mencari jalur yang paling efisien untuk memperoleh keuntungan finansial," ujar Regal.
Baca Juga: Usut Dugaan Penipuan Cek Kosong Rp2 Miliar, Bunga Zainal Dampingi Suami Datangi Mabes Polri
President dan Co-Founder Zentara Technologies Darian Kuswanto menambahkan banyak organisasi masih menggunakan pendekatan lama dalam menilai risiko fraud. Menurut dia, tidak adanya pelanggaran sistem bukan berarti sebuah organisasi terbebas dari ancaman penipuan. "Kasus fraud terbesar justru sering lolos dari alarm konvensional karena meniru transaksi pelanggan yang sah," katanya.
Untuk meminimalkan risiko, Zentara merekomendasikan perusahaan memantau pola penukaran gift card secara lebih rinci, mengawasi kecepatan antara aktivasi dan penukaran, serta meningkatkan pelatihan bagi karyawan agar mampu mengenali modus rekayasa sosial berbasis AI. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kebocoran finansial tersembunyi yang dapat mengganggu kepercayaan pelanggan dan kinerja bisnis di tengah pertumbuhan ekonomi digital.
"Fraud yang paling merusak saat ini tidak selalu melibatkan peretasan sistem. Sebaliknya, ia menyamar hingga tampak sepenuhnya normal. Banyak perusahaan masih berharap fraud akan memicu alarm keamanan standar, padahal transaksi gift card yang disalahgunakan sering kali terlihat seperti aktivitas pelanggan sehari-hari," kata CEO Zentara Technologies, Regal Star dalam keterangan tertulis, Rabu (17/6/2026).
Baca Juga: Keanu Angelo Dicecar 28 Pertanyaan Terkait Kasus Dugaan Penipuan Hanania Travel
Hal itu disampaikan dalam Konferensi International Marketing Association (IMA) Europe di Kopenhagen. Perusahaan keamanan siber yang berbasis di Jakarta dan Singapura itu menyoroti semakin maraknya eksploitasi produk bernilai tersimpan (stored value products) seperti gift card di berbagai negara, termasuk Asia Tenggara. Menurut Zentara, para pelaku kini lebih banyak memanfaatkan celah dalam proses operasional dibandingkan menyerang infrastruktur teknologi secara langsung.
Industri gift card Indonesia sendiri terus berkembang seiring meningkatnya penggunaan hadiah digital dan program loyalitas korporasi. Berdasarkan Indonesia Gift Card Business and Investment Opportunities Databook, nilai pasar gift card nasional diperkirakan mencapai USD2,37 miliar pada 2025 dan diproyeksikan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 9,1% hingga mencapai sekitar USD3,68 miliar pada 2030.
Regal menjelaskan bahwa fraud gift card dapat terjadi di berbagai tahap siklus hidup produk, mulai dari produksi, distribusi, aktivasi hingga penukaran. Salah satu modus yang banyak ditemukan adalah pencurian data kartu sebelum aktivasi sehingga dana dapat dikuras segera setelah kartu diisi saldo oleh konsumen.
Akibatnya, penerima gift card sering kali tidak memperoleh manfaat dari dana yang dikirimkan, sementara peritel, bank, maupun pembeli tidak menyadari adanya penyimpangan. Kerugian biasanya baru diketahui setelah muncul keluhan pelanggan atau analisis data yang lebih mendalam.
Menurut Zentara, risiko tersebut meningkat seiring pesatnya pertumbuhan ekonomi digital di kawasan Asia Tenggara. Laporan e-Conomy SEA 2024 yang disusun Google, Temasek, dan Bain & Company mencatat nilai transaksi bruto barang (GMV) ekonomi digital Asia Tenggara mencapai 263 miliar dolar AS pada 2024, didorong oleh pertumbuhan perdagangan elektronik dan pembayaran digital.
Riset Zentara mengidentifikasi tiga ancaman utama yang saat ini berkembang pesat, yakni card draining yang memanfaatkan informasi kartu sebelum aktivasi, fraud identitas sintetis untuk memperoleh dan memonetisasi nilai tersimpan, serta rekayasa sosial berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menyasar karyawan pengelola gift card.
"Alih-alih hanya mengeksploitasi kelemahan teknologi, fraud modern semakin memanfaatkan proses bisnis dan perilaku manusia. Seiring AI menurunkan biaya operasional penipuan, pelaku ancaman akan terus mencari jalur yang paling efisien untuk memperoleh keuntungan finansial," ujar Regal.
Baca Juga: Usut Dugaan Penipuan Cek Kosong Rp2 Miliar, Bunga Zainal Dampingi Suami Datangi Mabes Polri
President dan Co-Founder Zentara Technologies Darian Kuswanto menambahkan banyak organisasi masih menggunakan pendekatan lama dalam menilai risiko fraud. Menurut dia, tidak adanya pelanggaran sistem bukan berarti sebuah organisasi terbebas dari ancaman penipuan. "Kasus fraud terbesar justru sering lolos dari alarm konvensional karena meniru transaksi pelanggan yang sah," katanya.
Untuk meminimalkan risiko, Zentara merekomendasikan perusahaan memantau pola penukaran gift card secara lebih rinci, mengawasi kecepatan antara aktivasi dan penukaran, serta meningkatkan pelatihan bagi karyawan agar mampu mengenali modus rekayasa sosial berbasis AI. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah kebocoran finansial tersembunyi yang dapat mengganggu kepercayaan pelanggan dan kinerja bisnis di tengah pertumbuhan ekonomi digital.
(nng)
Lihat Juga :