Perluas Literasi Finansial Komunitas Esports dan AI, IPOT Gandeng Kapolda Jateng Cup 2026
Kamis, 18 Juni 2026 - 19:29 WIB
loading...
PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) berpartisipasi sebagai mitra utama (main sponsor) turnamen esports regional bergengsi, Kapolda Jateng Cup 2026. Foto/Dok
A
A
A
SURAKARTA - PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) , aplikasi investasi saham di Indonesia mengumumkan partisipasi strategisnya sebagai mitra utama (main sponsor) turnamen esports regional bergengsi, Kapolda Jateng Cup 2026. Gelaran berskala besar ini akan diselenggarakan secara luring (offline) di kawasan cagar budaya ikonik De Tjolomadoe, Surakarta, pada Sabtu, 20 Juni 2026.
Melalui kemitraan ini, IPOT akan menghadirkan program edukasi bertajuk "Cerdas Finansial Bersama IPOT" yang menggabungkan literasi keuangan , pemanfaatan teknologi AI, dan pengenalan investasi bagi generasi muda.
Langkah ini didasari oleh besarnya irisan antara komunitas esports dan investor muda Indonesia. Ekosistem Mobile Legends di Indonesia didominasi oleh Gen Z, sementara kelompok Gen Z dan Milenial juga menjadi kontributor terbesar investor pasar modal nasional.
Baca Juga: Dorong Literasi Finansial dan AI, IPOT Jawab Tantangan Makro Gen Z
Namun di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat anomali struktural kritis yang melahirkan fenomena mengkhawatirkan, yaitu "Joining Without the Understanding" (Ikut-ikutan tanpa pemahaman) alias FOMO. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 dari OJK mencatat inklusi keuangan anak muda usia 18-25 tahun telah menyentuh angka 89,96%, namun tingkat literasi finansial mereka baru berada di kisaran 73,22%.
![Perluas Literasi Finansial Komunitas Esports dan AI, IPOT Gandeng Kapolda Jateng Cup 2026]()
Kesenjangan (gap) sebesar 16,74% poin ini mengindikasikan bahwa 1 dari 5 anak muda telah menggunakan produk keuangan tanpa memahami risiko serta mekanisme kerjanya. Dampak lanjutannya, dari total puluhan juta SID yang terdaftar, hanya sekitar 1 dari 14 investor yang aktif bertransaksi dalam hitungan bulan.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The menegaskan IPOT mengidentifikasi empat hambatan utama industri yang memicu fenomena ini (Why It Happens). Pertama, Platform-driven frictionless onboarding atau proses pembukaan akun digital yang terlampau instan hingga menghilangkan momentum penting bagi investor untuk berhenti sejenak dan mempelajari instrumen risiko (force a pause-and-learn moment).
Baca Juga: Gen Milenial - Gen Z: Antara Investasi dan Party
Kedua, social referral tanpa pengetahuan, yakni tren keputusan investasi yang didorong oleh narasi ikut-ikutan lingkar pertemanan tanpa transfer pengetahuan fundamental yang valid.
Melalui kemitraan ini, IPOT akan menghadirkan program edukasi bertajuk "Cerdas Finansial Bersama IPOT" yang menggabungkan literasi keuangan , pemanfaatan teknologi AI, dan pengenalan investasi bagi generasi muda.
Langkah ini didasari oleh besarnya irisan antara komunitas esports dan investor muda Indonesia. Ekosistem Mobile Legends di Indonesia didominasi oleh Gen Z, sementara kelompok Gen Z dan Milenial juga menjadi kontributor terbesar investor pasar modal nasional.
Baca Juga: Dorong Literasi Finansial dan AI, IPOT Jawab Tantangan Makro Gen Z
Namun di balik angka pertumbuhan tersebut, terdapat anomali struktural kritis yang melahirkan fenomena mengkhawatirkan, yaitu "Joining Without the Understanding" (Ikut-ikutan tanpa pemahaman) alias FOMO. Data Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) Tahun 2025 dari OJK mencatat inklusi keuangan anak muda usia 18-25 tahun telah menyentuh angka 89,96%, namun tingkat literasi finansial mereka baru berada di kisaran 73,22%.

Kesenjangan (gap) sebesar 16,74% poin ini mengindikasikan bahwa 1 dari 5 anak muda telah menggunakan produk keuangan tanpa memahami risiko serta mekanisme kerjanya. Dampak lanjutannya, dari total puluhan juta SID yang terdaftar, hanya sekitar 1 dari 14 investor yang aktif bertransaksi dalam hitungan bulan.
President Director & CEO PT Indo Premier Sekuritas Moleonoto The menegaskan IPOT mengidentifikasi empat hambatan utama industri yang memicu fenomena ini (Why It Happens). Pertama, Platform-driven frictionless onboarding atau proses pembukaan akun digital yang terlampau instan hingga menghilangkan momentum penting bagi investor untuk berhenti sejenak dan mempelajari instrumen risiko (force a pause-and-learn moment).
Baca Juga: Gen Milenial - Gen Z: Antara Investasi dan Party
Kedua, social referral tanpa pengetahuan, yakni tren keputusan investasi yang didorong oleh narasi ikut-ikutan lingkar pertemanan tanpa transfer pengetahuan fundamental yang valid.
Lihat Juga :