Saingan Selat Malaka! Thailand Nekat Hidupkan Megaproyek Rp535 Triliun

Sabtu, 20 Juni 2026 - 08:21 WIB
loading...
Saingan Selat Malaka!...
Ambisi Thailand untuk mengocok ulang peta perdagangan maritim dunia kembali membara, dipicu oleh kepanikan global akibat Perang Iran dan penutupan Selat Hormuz. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Ambisi Thailand untuk mengocok ulang peta perdagangan maritim dunia kembali membara. Dipicu oleh kepanikan global akibat Perang Iran dan penutupan Selat Hormuz , Perdana Menteri Thailand, Anutin Charnvirakul menghidupkan kembali megaproyek ambisius senilai 1 triliun baht atau USD30,45 miliar (sekitar Rp535 triliun dengan kurs Rp17.593 per dolar) yang dinamakan proyek Land Bridge (Jembatan Daratan).

Megaproyek raksasa ini dirancang khusus untuk memotong jalur komersial dan menyedot sebagian besar traffic kapal kargo yang selama ini menjadi ladang emas bagi Selat Malaka , Singapura, dan Indonesia. Thailand berambisi menghubungkan dua pelabuhan laut dalam baru yang terpisah di ujung kawasannya: Pelabuhan Chumphon di sisi timur (Teluk Thailand) dan Pelabuhan Ranong di sisi barat (Laut Andaman).

Berdasarkan dokumen internal pemerintah Thailand yang bocor ke media, koridor logistik sepanjang 90 kilometer ini diklaim mampu memangkas biaya logistik hingga hampir 30% dan mempercepat waktu perjalanan laut hingga 14 hari untuk rute kargo dari China bagian selatan menuju Samudra Hindia, Asia Selatan, hingga Timur Tengah.

Membidik 80% Pasar yang Dikuasai Singapura

Langkah Thailand kali ini jauh lebih taktis dibanding rencana masa lalu. Alih-alih membangun terusan air (Kanal Kra) yang menguras biaya, mereka memilih membangun sistem double-handling terintegrasi. Baca Juga: Konektivitas Laut Nasional

Di tengah koridor tersebut, akan dibangun jalur rel kereta api standar berskala masif yang mampu mengangkut hingga 20 juta TEU kontainer per tahun, ditopang oleh jalan tol berlapis yang langsung terhubung ke jaringan transportasi nasional mereka.



Pemerintah Thailand membongkar data bahwa 80% lalu lintas kontainer di pelabuhan sekitar Selat Malaka -termasuk Singapura- adalah kargo transit yang sekadar menumpang lewat atau pindah kapal.

"Kami ingin merebut bagian dari pasar 80% ini," tegas Jiraroth Sukolrat, Direktur Jenderal Kantor Kebijakan dan Perencanaan Transportasi Thailand seperti dilansir Reuters.

Baca Juga: Klarifikasi Purbaya Soal Pajak Selat Malaka: Saya Tahu Betul Peraturannya

Ia menyatakan rute pintas ini akan 6 hari lebih cepat dan 10% lebih murah bagi kapal-kapal pengumpan (feeder) dibanding jika mereka harus memutar jauh ke selatan melewati Singapura.

Proyek Raksasa yang Dihantui Risiko Zonk

Meskipun proyek ini terdengar sangat menjanjikan bagi efisiensi dunia, para pakar internasional dan calon investor justru memperlihatkan sikap skeptis dan sangat berhati-hati.

Ada dinding keraguan yang besar mengenai apakah perusahaan pelayaran raksasa dunia mau repot-repot membongkar muatan kontainer di satu pelabuhan, menaikkannya ke kereta api, lalu memuatnya kembali ke kapal lain di pelabuhan seberang. Proses bongkar muat ganda ini dinilai bisa memakan biaya tersembunyi yang tinggi.

Selain itu, Thailand kini harus terjebak dalam dua hantaman besar yakni jebakan geopolitik China, yakni korporasi negara China dikabarkan hanya mau menyuntikkan modal jika mereka diberi hak kendali penuh atas operasional pelabuhan.

Jika dipenuhi, pemerintah Thailand dipastikan akan diamuk oleh gelombang protes politik domestik karena dinilai menjual aset negara ke pihak asing.

Ditambah ada gelombang protes petani durian dan nelayan lokal, lantaran megaproyek ini ditolak mentah-mentah oleh komunitas lokal. Jalur proyek ini ternyata membelah distrik Phato yang subur, tempat perkebunan durian dan kopi yang menyumbang pendapatan lokal hingga 10 miliar baht per tahun.

Sektor kelautan juga terguncang; bahkan regulator baru saja memerintahkan pengulangan total amdal (analisis dampak lingkungan) karena adanya manipulasi data kepadatan biota laut oleh pemerintah.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Prabowo: Puluhan Ribu...
Prabowo: Puluhan Ribu Kapal Asing Tiap Malam Mengambil Kekayaan RI secara Ilegal
Kapal Tanker Raksasa...
Kapal Tanker Raksasa China Tembus Blokade Selat Hormuz, Bawa 2 Juta Barel Minyak Irak
Rebutan Terusan Panama,...
Rebutan Terusan Panama, AS Ajak 6 Negara Gebukin Dominasi China
6 Kapal Tanker Minyak...
6 Kapal Tanker Minyak Iran Diusir Paksa Militer AS, Selat Hormuz Kini Jadi Lautan Mati
Klarifikasi Purbaya...
Klarifikasi Purbaya Soal Pajak Selat Malaka: Saya Tahu Betul Peraturannya
BKI Gelar Sidang KOMTEK,...
BKI Gelar Sidang KOMTEK, Pastikan Aturan Klasifikasi Relevan bagi Industri Maritim
Daya Tarik Menarik Thailand:...
Daya Tarik Menarik Thailand: Eksplorasi Kota Bangkok dan Keindahan Pesisir Pattaya
Putri Bha Meninggal,...
Putri Bha Meninggal, Calon Pewaris Raja Vajiralongkorn Berharta Rp770 Triliun Makin Misterius
Thailand Berduka, Putri...
Thailand Berduka, Putri Raja Vajiralongkorn Meninggal setelah Koma Hampir 4 Tahun
Rekomendasi
Sambut 5 Abad Jakarta,...
Sambut 5 Abad Jakarta, Cibis Park Satukan Jazz Modern dan Betawi dalam Panggung Budaya Urban
6 PM dalam 10 Tahun...
6 PM dalam 10 Tahun 44 Hari, Seperti Apa Politik Antrean di Inggris?
Tak Ditahan, Roy Suryo...
Tak Ditahan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Dikenakan Wajib Lapor
Berita Terkini
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Perkuat Layanan Digital...
Perkuat Layanan Digital melalui Care+, LGI Hadirkan Fitur Wellness
Pasokan Seret Batu Bara...
Pasokan Seret Batu Bara Picu Pemadaman Listrik, Legislator Soroti Lambannya Persetujuan RKAB
MyPertamina Gelar Program...
MyPertamina Gelar Program Pesta Bola, Tingkatkan Engagement melalui Ekosistem Digital
Dorong Ekonomi Desa...
Dorong Ekonomi Desa Binaan, Program Genera-Z Berbakti BCA Siap Masuki Fase Implementasi
Insentif Motor Listrik...
Insentif Motor Listrik Ditunda Satu Bulan, Menko Airlangga: Masih Dikaji
Infografis
4 Alasan Selat Hormuz...
4 Alasan Selat Hormuz Jadi Medan Perang Mematikan Antara Iran dan AS
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved