BPDP dan AKPY Latih Petani Kotim Tingkatkan Kualitas Panen Sawit Rakyat
Minggu, 21 Juni 2026 - 17:09 WIB
loading...
Pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Kualitas minyak sawit nasional dinilai sangat ditentukan oleh keterampilan petani dan pemanen dalam melakukan proses panen tandan buah segar (TBS) di tingkat kebun. Teknik panen yang tepat menjadi faktor penting untuk menjaga mutu buah, meningkatkan rendemen minyak, sekaligus menekan kehilangan hasil yang berdampak pada pendapatan petani.
“Kesalahan dalam proses panen masih menjadi salah satu penyebab utama turunnya kualitas TBS dan rendahnya rendemen minyak, meski produktivitas kebun sebenarnya cukup baik,” kata Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi dalam pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah dikutip dari pernyataannya, Minggu (21/6/2026).
Baca Juga: Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Pelatihan yang berlangsung pada 18-23 Juni 2026 itu diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Kegiatan tersebut diikuti 237 petani dan penyuluh sawit dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Sebanyak 149 peserta mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit, sedangkan 88 peserta lainnya mengikuti pelatihan panen dan pascapanen. Materi yang diberikan meliputi kriteria matang panen, teknik pemotongan tandan sesuai standar, pengumpulan brondolan, hingga penanganan hasil panen agar cepat sampai ke pabrik.
Menurut Idum, buah yang dipanen terlalu muda akan menghasilkan rendemen minyak rendah, sedangkan panen yang terlambat dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas atau free fatty acid (FFA) yang menurunkan kualitas minyak sawit.
Ia menambahkan, brondolan yang tidak dipungut juga menjadi sumber kerugian nyata bagi petani. “Setiap tahapan panen menentukan kualitas. Jadi sawit berkualitas itu dimulai dari pemanen yang terampil dan paham standar,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotawaringin Timur Yephi Hartady Periyanto menilai pelatihan tersebut penting untuk mendorong petani sawit rakyat naik kelas, baik dari sisi keterampilan teknis maupun tata kelola usaha.
Selain peningkatan kompetensi, petani juga didorong melengkapi legalitas usaha melalui Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) sebagai langkah menuju pengelolaan sawit yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Baca Juga: Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah Jayan Wahyudi mengatakan peningkatan kompetensi petani, terutama dalam aspek panen dan pascapanen, akan menentukan daya saing sawit rakyat di tengah tuntutan pasar global terhadap kualitas, keberlanjutan, dan ketelusuran produk.
Dengan luas perkebunan sawit di Kalimantan Tengah yang mencapai lebih dari 2,1 juta hektare, peningkatan kualitas sumber daya manusia di tingkat petani dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga mutu minyak sawit Indonesia sejak dari kebun.
“Kesalahan dalam proses panen masih menjadi salah satu penyebab utama turunnya kualitas TBS dan rendahnya rendemen minyak, meski produktivitas kebun sebenarnya cukup baik,” kata Wakil Direktur Akademi Komunitas Perkebunan Yogyakarta (AKPY) Idum Satia Santi dalam pelatihan Teknis Panen dan Pascapanen Program Pengembangan SDM Perkebunan (SDMP) 2026 di Palangka Raya, Kalimantan Tengah dikutip dari pernyataannya, Minggu (21/6/2026).
Baca Juga: Ini Jenis Produk Sawit dan Batu Bara yang Ekspornya Diatur Lewat PT DSI
Pelatihan yang berlangsung pada 18-23 Juni 2026 itu diselenggarakan AKPY dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun). Kegiatan tersebut diikuti 237 petani dan penyuluh sawit dari Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim).
Sebanyak 149 peserta mengikuti pelatihan teknis budidaya kelapa sawit, sedangkan 88 peserta lainnya mengikuti pelatihan panen dan pascapanen. Materi yang diberikan meliputi kriteria matang panen, teknik pemotongan tandan sesuai standar, pengumpulan brondolan, hingga penanganan hasil panen agar cepat sampai ke pabrik.
Menurut Idum, buah yang dipanen terlalu muda akan menghasilkan rendemen minyak rendah, sedangkan panen yang terlambat dapat meningkatkan kadar asam lemak bebas atau free fatty acid (FFA) yang menurunkan kualitas minyak sawit.
Ia menambahkan, brondolan yang tidak dipungut juga menjadi sumber kerugian nyata bagi petani. “Setiap tahapan panen menentukan kualitas. Jadi sawit berkualitas itu dimulai dari pemanen yang terampil dan paham standar,” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kotawaringin Timur Yephi Hartady Periyanto menilai pelatihan tersebut penting untuk mendorong petani sawit rakyat naik kelas, baik dari sisi keterampilan teknis maupun tata kelola usaha.
Selain peningkatan kompetensi, petani juga didorong melengkapi legalitas usaha melalui Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) sebagai langkah menuju pengelolaan sawit yang lebih profesional dan berkelanjutan.
Baca Juga: Mengelola Sawit untuk Indonesia yang Kuat
Sementara itu, Kepala Bidang Perkebunan Dinas Perkebunan Provinsi Kalimantan Tengah Jayan Wahyudi mengatakan peningkatan kompetensi petani, terutama dalam aspek panen dan pascapanen, akan menentukan daya saing sawit rakyat di tengah tuntutan pasar global terhadap kualitas, keberlanjutan, dan ketelusuran produk.
Dengan luas perkebunan sawit di Kalimantan Tengah yang mencapai lebih dari 2,1 juta hektare, peningkatan kualitas sumber daya manusia di tingkat petani dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga mutu minyak sawit Indonesia sejak dari kebun.
(nng)
Lihat Juga :