80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz
Selasa, 23 Juni 2026 - 09:19 WIB
loading...
A
A
A
Institusi finansial global seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi kini berlomba-lomba merilis estimasi yang jauh lebih jinak. Citi Bank menjadi yang paling agresif mematok arah pasar (bearish), dengan memprediksi minyak mentah jenis Brent akan ambles dan menetap di rata-rata USD75 per barel pada kuartal depan.
Morgan Stanley sedikit lebih berhati-hati, memproyeksikan Brent akan tertahan di level USD90 per barel pada kuartal ketiga 2026 karena tingginya permintaan musiman. Pada saat berita ini ditulis, minyak mentah Brent bertengger di level USD79,96 per barel, sementara jenis WTI (AS) berada di posisi USD75,97 per barel -keduanya bergerak stabil mendekati level normal sebelum perang meletus pada Februari lalu.
Jika harga Brent konsisten merosot ke level USD75 sesuai prediksi Citi, Pertamina dan operator swasta (Shell, BP, Vivo) memiliki ruang yang sangat lebar untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi (seperti Pertamax series) pada periode evaluasi harga berkala mendatang.
APBN 2026 menjadi sangat sehat, lantaran angka minyak mentah USD75-80 per barel berada di zona aman asumsi ICP (Harga Minyak Mentah Indonesia). Hal ini membuat pemerintah tidak perlu lagi cemas memikirkan risiko pembengkakan anggaran subsidi BBM subsidi (Pertalite dan Solar), sehingga dana negara bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur dan pemulihan ekonomi nasional.
Morgan Stanley sedikit lebih berhati-hati, memproyeksikan Brent akan tertahan di level USD90 per barel pada kuartal ketiga 2026 karena tingginya permintaan musiman. Pada saat berita ini ditulis, minyak mentah Brent bertengger di level USD79,96 per barel, sementara jenis WTI (AS) berada di posisi USD75,97 per barel -keduanya bergerak stabil mendekati level normal sebelum perang meletus pada Februari lalu.
Angin Segar bagi Indonesia: Peluang Penurunan Harga Pertamax Cs?
Merespon melimpahnya pasokan minyak di Selat Hormuz, dampak psikologis dan ekonomi di dalam negeri dipastikan akan sangat positif bagi dompet masyarakat Indonesia. Kondisi ini tentunya menjadi umpan penurunan harga BBM non-subsidi, dimana Indonesia yang bergantung pada impor minyak mentah akan sangat diuntungkan.Jika harga Brent konsisten merosot ke level USD75 sesuai prediksi Citi, Pertamina dan operator swasta (Shell, BP, Vivo) memiliki ruang yang sangat lebar untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi (seperti Pertamax series) pada periode evaluasi harga berkala mendatang.
APBN 2026 menjadi sangat sehat, lantaran angka minyak mentah USD75-80 per barel berada di zona aman asumsi ICP (Harga Minyak Mentah Indonesia). Hal ini membuat pemerintah tidak perlu lagi cemas memikirkan risiko pembengkakan anggaran subsidi BBM subsidi (Pertalite dan Solar), sehingga dana negara bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur dan pemulihan ekonomi nasional.
(akr)
Lihat Juga :