80 Juta Barel Minyak Siap Tumpah ke Pasar Dunia, 40 Kapal Tanker Antre Keluar dari Selat Hormuz

Selasa, 23 Juni 2026 - 09:19 WIB
loading...
80 Juta Barel Minyak...
40 kapal tanker raksasa yang mengangkut total 80 juta barel minyak mentah kini berbaris rapi, bersiap keluar secara serentak dari Selat Hormuz, menyusul penandatanganan kesepakatan damai antara AS dan Iran. Foto/Dok
A A A
JAKARTA - Gelombang raksasa pasokan energi siap membanjiri pasar global, menyusul penandatanganan kesepakatan damai antara Amerika Serikat atau AS dan Iran . Laporan data satelit terbaru mengungkapkan sebuah pemandangan luar biasa: sebanyak 40 kapal tanker raksasa yang mengangkut total 80 juta barel minyak mentah kini berbaris rapi, bersiap keluar secara serentak dari Selat Hormuz .

Berdasarkan data pelacakan maritim Vortexa yang dirilis oleh Bloomberg, kepungan armada tanker ini akhirnya mendapatkan lampu hijau untuk berlayar setelah urat nadi perdagangan laut tersebut sempat lumpuh total akibat perang AS bersama Israel melawan Iran.

Sinyal banjir minyak ini diprediksi akan langsung mengguncang peta harga energi dunia, sekaligus menjadi kabar yang paling ditunggu-tunggu oleh miliaran konsumen di seluruh bumi. Baca Juga: Prancis Naik Pitam! Siap Jegal Iran soal Tarif Tol di Selat Hormuz

Asia Jadi Target Utama: RI Wajib Bersiap Amankan Pasokan

Distribusi dari 80 juta barel minyak ini akan berfokus penuh pada kawasan Asia untuk memulihkan stok kilang yang sempat sekarat selama tiga bulan terakhir. Rincian pergerakan 40 supertanker tersebut meliputi 21 Kapal Tanker dipastikan bergerak menuju pasar Asia.

5 Kapal Tanker menetapkan China sebagai destinasi akhir mereka. Lalu 5 Kapal Tanker mengarah ke Singapura dan Malaysia, yang merupakan hub transit komersial utama di Asia Tenggara (bertetangga langsung dengan Indonesia).



Satu fakta menarik yang dicatat adalah tidak ada satu pun dari tanker-tanker tersebut yang membawa minyak mentah milik Iran. Seluruh muatan tersebut merupakan pasokan dari negara-negara Arab sekutu Barat yang selama berbulan-bulan terperangkap di dalam Teluk akibat blokade maritim.

Baca Juga: AS-Iran Berdamai, Harga Minyak Terjun Bebas ke Bawah USD80 per Barel

Berita ini langsung meruntuhkan spekulasi liar para spekulan yang sempat menakut-nakuti publik dengan ramalan harga minyak bakal tembus ratusan dolar. Kepastian bahwa kedua belah pihak (AS-Iran) serius berdamai kali ini membuat bank-bank investasi raksasa Wall Street langsung kompak memangkas habis (slash) proyeksi harga minyak mereka untuk kuartal depan.

Institusi finansial global seperti Goldman Sachs, Morgan Stanley, dan Citi kini berlomba-lomba merilis estimasi yang jauh lebih jinak. Citi Bank menjadi yang paling agresif mematok arah pasar (bearish), dengan memprediksi minyak mentah jenis Brent akan ambles dan menetap di rata-rata USD75 per barel pada kuartal depan.

Morgan Stanley sedikit lebih berhati-hati, memproyeksikan Brent akan tertahan di level USD90 per barel pada kuartal ketiga 2026 karena tingginya permintaan musiman. Pada saat berita ini ditulis, minyak mentah Brent bertengger di level USD79,96 per barel, sementara jenis WTI (AS) berada di posisi USD75,97 per barel -keduanya bergerak stabil mendekati level normal sebelum perang meletus pada Februari lalu.

Angin Segar bagi Indonesia: Peluang Penurunan Harga Pertamax Cs?

Merespon melimpahnya pasokan minyak di Selat Hormuz, dampak psikologis dan ekonomi di dalam negeri dipastikan akan sangat positif bagi dompet masyarakat Indonesia. Kondisi ini tentunya menjadi umpan penurunan harga BBM non-subsidi, dimana Indonesia yang bergantung pada impor minyak mentah akan sangat diuntungkan.

Jika harga Brent konsisten merosot ke level USD75 sesuai prediksi Citi, Pertamina dan operator swasta (Shell, BP, Vivo) memiliki ruang yang sangat lebar untuk menurunkan harga BBM nonsubsidi (seperti Pertamax series) pada periode evaluasi harga berkala mendatang.

APBN 2026 menjadi sangat sehat, lantaran angka minyak mentah USD75-80 per barel berada di zona aman asumsi ICP (Harga Minyak Mentah Indonesia). Hal ini membuat pemerintah tidak perlu lagi cemas memikirkan risiko pembengkakan anggaran subsidi BBM subsidi (Pertalite dan Solar), sehingga dana negara bisa dialihkan untuk pembangunan infrastruktur dan pemulihan ekonomi nasional.
(akr)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Jalur Hormuz Mulai Stabil,...
Jalur Hormuz Mulai Stabil, Saudi Aramco Kembali Ekspor Minyak setelah Mandek 4 Bulan
Trump Peringatkan Iran,...
Trump Peringatkan Iran, Tarif Selat Hormuz Tak Dapat Diterima
Harga Minyak Dunia Hancur...
Harga Minyak Dunia Hancur Mendekati Level Normal! Kapan BBM RI Turun?
Harga Bensin di AS Tetap...
Harga Bensin di AS Tetap Mahal meski Minyak Dunia Rontok, Trump Semprot Raksasa Energi
Usai Perang dengan Iran,...
Usai Perang dengan Iran, Trump Janji Ekonomi AS Segera Bangkit
Pasokan Teluk Pulih,...
Pasokan Teluk Pulih, Harga Minyak Mentah Brent Turun ke Level Terendah dalam Empat Bulan
3 Alasan Iran Serang...
3 Alasan Iran Serang Kuwait dan Bahrain, Ada Pergerakan Membantu Militer AS
Iran Buat Senjata yang...
Iran Buat Senjata yang Lebih Canggih selama Perang dengan AS-Israel, Ini Bocorannya
Ingin Kendalikan Selat...
Ingin Kendalikan Selat Hormuz, Iran Serukan Kerangka Keamanan dengan Negara Arab
Rekomendasi
Tak Bisa Ditunda, Tata...
Tak Bisa Ditunda, Tata Kelola, Dana, dan Independensi PBNU Harus Dibenahi
Hasil MotoGP Belanda...
Hasil MotoGP Belanda 2026: Ai Ogura Cetak Sejarah, Marc Marquez Keenam
7 Pemimpin yang Mengubah...
7 Pemimpin yang Mengubah Dunia, Fatima al Fihri yang Mendirikan Kampus Pertama di Dunia
Berita Terkini
Genderang Perang Dagang,...
Genderang Perang Dagang, Trump Ancam Tarif 100% yang Berani Pajaki Google, Meta, dan Apple!
Pacu Kinerja Bisnis,...
Pacu Kinerja Bisnis, Indo Artha Multitek Kenalkan Teknologi Layanan Haji
INDEF: Pemerintah Perlu...
INDEF: Pemerintah Perlu Evaluasi Kebijakan Ekonomi dan Perkuat Kolaborasi
Panaskan Mesin Ekonomi,...
Panaskan Mesin Ekonomi, Purbaya Tawarkan Bunga Kredit 4% untuk UKM Eksportir
BPS: Sensus Ekonomi...
BPS: Sensus Ekonomi 2026 Bukan untuk Penetapan Pajak Pribadi
Semarak HUT ke-58, BPJS...
Semarak HUT ke-58, BPJS Kesehatan Ajak Masyarakat Budayakan Hidup Sehat
Infografis
7 Perang Besar di Selat...
7 Perang Besar di Selat Malaka, dari Jalur Rempah hingga Medan Tempur Kekuatan Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved