Perusahaan APAC Berlomba Adopsi AI, Data Gudang Masih Jadi Hambatan
Jum'at, 26 Juni 2026 - 11:18 WIB
loading...
A
A
A
Ia menilai kehadiran teknologi manajemen gudang yang didukung AI akan membantu perusahaan untuk meningkatkan bisnisnya. Michael berpendapat, isu ini perlu dipikirkan oleh perusahaan agar transformasi bisnis berjalan dengan baik.
Sementara itu, CIO Sinar Mas Land, Stefanus Mulianto yang hadir sebagai pembicara dalam sesi fireside chat acara ini, menekankan bahwa perubahan hanya akan terjadi di tangan manusia, bukan teknologi. “Manusia, proses, teknologi. Jangan dibalik ya. Jangan menjadikan teknologi sebagai alat untuk membuat perubahan, itu tidak akan terjadi. Anda harus punya pola pikir yang tepat, people mindset dulu, Anda punya proses yang tepat, lalu gunakan teknologi sebagai alat untuk menjawab masalah,” ujarnya.
Pakar digital ICT Institute, Heru Sutadi menjelaskan penggunaan AI dalam operasional gudang di Indonesia perlahan makin berkembang walaupun masih tahap awal. Namun, tantangan yang harus dijawab adalah kebutuhan data yang berkualitas untuk diolah oleh AI.
“Tantangannya adalah integrasi dengan sistem yang sudah ada serta kebutuhan data yang berkualitas. Namun secara umum, tren digitalisasi logistik mendorong semakin banyak pelaku industri untuk mulai bereksperimen dengan solusi berbasis AI,” katanya.
Di Indonesia, Singapura, dan Australia, perusahaan yang telah mengadopsi teknologi SAP seringkali mengandalkan terminal desktop atau komputer yang jauh dari lantai gudang. Hal ini menyebabkan keterlambatan pencatatan antara peristiwa yang terjadi dan catatan dalam SAP.
Bahkan, seringkali membutuhkan beberapa hari sampai catatan gudang masuk ke dalam sistem. Hambatan ini jelas mengganggu perusahaan yang ingin mengejar manajemen pergudangan berbasis AI.
Sementara itu, CIO Sinar Mas Land, Stefanus Mulianto yang hadir sebagai pembicara dalam sesi fireside chat acara ini, menekankan bahwa perubahan hanya akan terjadi di tangan manusia, bukan teknologi. “Manusia, proses, teknologi. Jangan dibalik ya. Jangan menjadikan teknologi sebagai alat untuk membuat perubahan, itu tidak akan terjadi. Anda harus punya pola pikir yang tepat, people mindset dulu, Anda punya proses yang tepat, lalu gunakan teknologi sebagai alat untuk menjawab masalah,” ujarnya.
Pakar digital ICT Institute, Heru Sutadi menjelaskan penggunaan AI dalam operasional gudang di Indonesia perlahan makin berkembang walaupun masih tahap awal. Namun, tantangan yang harus dijawab adalah kebutuhan data yang berkualitas untuk diolah oleh AI.
“Tantangannya adalah integrasi dengan sistem yang sudah ada serta kebutuhan data yang berkualitas. Namun secara umum, tren digitalisasi logistik mendorong semakin banyak pelaku industri untuk mulai bereksperimen dengan solusi berbasis AI,” katanya.
Di Indonesia, Singapura, dan Australia, perusahaan yang telah mengadopsi teknologi SAP seringkali mengandalkan terminal desktop atau komputer yang jauh dari lantai gudang. Hal ini menyebabkan keterlambatan pencatatan antara peristiwa yang terjadi dan catatan dalam SAP.
Bahkan, seringkali membutuhkan beberapa hari sampai catatan gudang masuk ke dalam sistem. Hambatan ini jelas mengganggu perusahaan yang ingin mengejar manajemen pergudangan berbasis AI.
Lihat Juga :