Rekor Terburuk Sejak 1986! Yen Jepang Hancur Lebur ke Titik Terendah
Selasa, 30 Juni 2026 - 20:01 WIB
loading...
Keperkasaan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) atau USD terus mendepak nilai tukar yen Jepang hingga terperosok ke level terendah dalam 40 tahun terakhir. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Badai finansial hebat sedang menghantam salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Asia . Keperkasaan mata uang dolar Amerika Serikat (AS) atau USD terus mendepak nilai tukar yen Jepang hingga terperosok ke level terendah dalam 40 tahun terakhir.
Fenomena ini memicu kepanikan massal di kalangan pelaku pasar global yang kini bersiap menghadapi potensi intervensi darurat dari otoritas moneter Tokyo. Berdasarkan data perdagangan valuta asing pada hari Selasa (30/6/2026), mata uang The Greenback (dolar AS) meroket tajam menembus level 162,41 yen per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Terkapar ke Rp17.907 per Dolar AS, Analis Ungkap Sebabnya
Posisi ini menjadi sebuah angka terburuk yang belum pernah terlihat lagi sejak tahun 1986 silam. Merosotnya nilai mata uang yen Jepang secara beruntun dalam empat kuartal terakhir ini menjadi alarm bahaya bagi stabilitas finansial di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Lebih buruknya lagi, kondisi ekonomi AS yang masih overheating dan angka inflasi yang membubung tinggi membuat 9 dari 19 pembuat kebijakan di The Fed kini memproyeksikan kenaikan suku bunga lanjutan pada akhir tahun 2026.
Baca Juga: Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Jurang perbedaan suku bunga (yield gap) yang sangat lebar ini memicu maraknya aksi para investor raksasa untuk melakukan Carry Trade, dimana investor meminjam uang dengan bunga sangat murah dalam bentuk Yen Jepang. Lalu dana pinjaman ini langsung dijual dan dialihkan untuk diinvestasikan pada aset-aset bermata uang dolar AS yang memberikan imbal hasil (bunga) jauh lebih tinggi.
Aksi lepas yen secara masif inilah yang membuat mata uang Negeri Sakura tersebut terus hanyut melawan arus. Padahal, pada periode April dan Mei lalu, Kementerian Keuangan Jepang tercatat sudah membakar dana fantastis sebesar 11,7 triliun yen (setara Rp1.170 triliun lebih) hanya untuk mengintervensi pasar dan menyelamatkan Yen. Namun efek suntikan dana raksasa tersebut kini menguap tidak berbekas dalam hitungan minggu.
"Otoritas siap merespons secara tepat kapan pun diperlukan," tegas Katayama, meskipun ia masih menahan retorika yang lebih agresif demi menjaga stabilitas pasar.
Sementara itu analis mata uang senior dari MUFG, Lee Hardman menilai Tokyo tampaknya jauh lebih berhati-hati untuk kembali melakukan intervensi pasar kali ini. "Langkah intervensi pada April dan Mei lalu terbukti gagal membalikkan tren pelemahan yen. Hal itu mungkin membuat otoritas Jepang kini jauh lebih enggan dan menghitung momentum dengan sangat ketat," urai Hardman.
Tidak hanya yen Jepang, kedigdayaan dolar AS pekan ini juga sukses membuat mata uang global lainnya bertekuk lutut. Euro merosot 0,24% mendekati level terendah satu tahunnya, sementara poundsterling Inggris ikut ambles 0,2%.
Mata uang negara-negara eksportir komoditas seperti Mahkota Norwegia dan dolar Australia juga ikut tiarap tertekan penurunan harga minyak mentah.
Fenomena ini memicu kepanikan massal di kalangan pelaku pasar global yang kini bersiap menghadapi potensi intervensi darurat dari otoritas moneter Tokyo. Berdasarkan data perdagangan valuta asing pada hari Selasa (30/6/2026), mata uang The Greenback (dolar AS) meroket tajam menembus level 162,41 yen per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Hari Ini Terkapar ke Rp17.907 per Dolar AS, Analis Ungkap Sebabnya
Posisi ini menjadi sebuah angka terburuk yang belum pernah terlihat lagi sejak tahun 1986 silam. Merosotnya nilai mata uang yen Jepang secara beruntun dalam empat kuartal terakhir ini menjadi alarm bahaya bagi stabilitas finansial di kawasan Asia, termasuk Indonesia.
Jurang Suku Bunga: Taktik Carry Trade Kuras Yen
Hancurnya nilai tukar Yen disebabkan oleh kebijakan moneter yang bertolak belakang antara Bank Sentral AS (The Fed) dan Bank Sentral Jepang (BOJ). Meskipun BOJ baru-baru ini sudah menaikkan suku bunga mereka secara bertahap, angka tersebut masih terlampau jauh di bawah suku bunga AS.Lebih buruknya lagi, kondisi ekonomi AS yang masih overheating dan angka inflasi yang membubung tinggi membuat 9 dari 19 pembuat kebijakan di The Fed kini memproyeksikan kenaikan suku bunga lanjutan pada akhir tahun 2026.
Baca Juga: Iran Bebas Produksi, Jual, dan Kirim Minyak Mentah, Bayar Pakai Dolar AS
Jurang perbedaan suku bunga (yield gap) yang sangat lebar ini memicu maraknya aksi para investor raksasa untuk melakukan Carry Trade, dimana investor meminjam uang dengan bunga sangat murah dalam bentuk Yen Jepang. Lalu dana pinjaman ini langsung dijual dan dialihkan untuk diinvestasikan pada aset-aset bermata uang dolar AS yang memberikan imbal hasil (bunga) jauh lebih tinggi.
Aksi lepas yen secara masif inilah yang membuat mata uang Negeri Sakura tersebut terus hanyut melawan arus. Padahal, pada periode April dan Mei lalu, Kementerian Keuangan Jepang tercatat sudah membakar dana fantastis sebesar 11,7 triliun yen (setara Rp1.170 triliun lebih) hanya untuk mengintervensi pasar dan menyelamatkan Yen. Namun efek suntikan dana raksasa tersebut kini menguap tidak berbekas dalam hitungan minggu.
Sinyal Intervensi Jilid Dua Jepang?
Merespons situasi darurat ini, Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama langsung mengeluarkan pernyataan resmi di hadapan media. Katayama menegaskan, bahwa pemerintah Jepang berada dalam posisi siaga penuh dan siap mengambil tindakan yang diperlukan untuk meredam spekulasi liar di pasar valas."Otoritas siap merespons secara tepat kapan pun diperlukan," tegas Katayama, meskipun ia masih menahan retorika yang lebih agresif demi menjaga stabilitas pasar.
Sementara itu analis mata uang senior dari MUFG, Lee Hardman menilai Tokyo tampaknya jauh lebih berhati-hati untuk kembali melakukan intervensi pasar kali ini. "Langkah intervensi pada April dan Mei lalu terbukti gagal membalikkan tren pelemahan yen. Hal itu mungkin membuat otoritas Jepang kini jauh lebih enggan dan menghitung momentum dengan sangat ketat," urai Hardman.
Tidak hanya yen Jepang, kedigdayaan dolar AS pekan ini juga sukses membuat mata uang global lainnya bertekuk lutut. Euro merosot 0,24% mendekati level terendah satu tahunnya, sementara poundsterling Inggris ikut ambles 0,2%.
Mata uang negara-negara eksportir komoditas seperti Mahkota Norwegia dan dolar Australia juga ikut tiarap tertekan penurunan harga minyak mentah.
(akr)
Lihat Juga :