Purbaya Beberkan Penyebab Neraca Perdagangan Mei 2026 Defisit
Kamis, 02 Juli 2026 - 12:21 WIB
loading...
Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan defisit neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 terutama dipicu oleh membesarnya defisit sektor minyak dan gas (migas) seiring kenaikan harga minyak dunia.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026. Capaian tersebut menjadi defisit pertama setelah Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama puluhan bulan berturut-turut.
"Dugaan saya karena kita impor migas, harganya lagi bisa naik kan. Minyak, saya pikir disitu yang membuatnya naik," katanya saat dijumpai pada Rabu (1/7/2027).
Baca Juga: Purbaya Dijadwalkan Uji Coba Perbaikan Coretax Pekan Depan
Meski neraca perdagangan pada Mei mengalami defisit, Purbaya menegaskan kinerja perdagangan secara kumulatif Januari-Mei 2026 masih mencatatkan surplus. Hal itu ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas yang masih cukup besar.
"Kalau nonmigas itu masih Januari, Mei itu masih positif USD16 miliar. Yang migas negatif USD12 miliar. Dia ngomong bulan-bulan Mei aja kan ya. Kalo kita liat year-to-date Januari, Mei itu migasnya memang yang negatif USD12. Nonmigasnya positif USD16 miliar. Totalnya masih positif USD4 miliar," sebutnya.
Menurut Purbaya, pelebaran defisit migas disebabkan tingginya harga minyak yang mendorong nilai impor migas meningkat. Ia optimistis kondisi tersebut akan berangsur membaik apabila harga minyak kembali stabil.
Baca Juga: Insentif Kendaraan Listrik Mundur Jauh, Begini Kata Purbaya
"Jadi kenaikannya betul saya suga tadi. Karena migas yang defisit membesar karena harga minyak-minyak yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan," pungkasnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026. Capaian tersebut menjadi defisit pertama setelah Indonesia mencatat surplus neraca perdagangan selama puluhan bulan berturut-turut.
"Dugaan saya karena kita impor migas, harganya lagi bisa naik kan. Minyak, saya pikir disitu yang membuatnya naik," katanya saat dijumpai pada Rabu (1/7/2027).
Baca Juga: Purbaya Dijadwalkan Uji Coba Perbaikan Coretax Pekan Depan
Meski neraca perdagangan pada Mei mengalami defisit, Purbaya menegaskan kinerja perdagangan secara kumulatif Januari-Mei 2026 masih mencatatkan surplus. Hal itu ditopang oleh surplus perdagangan nonmigas yang masih cukup besar.
"Kalau nonmigas itu masih Januari, Mei itu masih positif USD16 miliar. Yang migas negatif USD12 miliar. Dia ngomong bulan-bulan Mei aja kan ya. Kalo kita liat year-to-date Januari, Mei itu migasnya memang yang negatif USD12. Nonmigasnya positif USD16 miliar. Totalnya masih positif USD4 miliar," sebutnya.
Menurut Purbaya, pelebaran defisit migas disebabkan tingginya harga minyak yang mendorong nilai impor migas meningkat. Ia optimistis kondisi tersebut akan berangsur membaik apabila harga minyak kembali stabil.
Baca Juga: Insentif Kendaraan Listrik Mundur Jauh, Begini Kata Purbaya
"Jadi kenaikannya betul saya suga tadi. Karena migas yang defisit membesar karena harga minyak-minyak yang tinggi. Jadi harusnya nanti akan terkendali ke depan," pungkasnya.
(nng)
Lihat Juga :