Rupiah Kritis, Hari Ini Berakhir Ambruk ke Rp17.995 per Dolar AS
Kamis, 02 Juli 2026 - 19:02 WIB
loading...
A
A
A
Pasar saat ini memperkirakan probabilitas kenaikan suku bunga sebesar 67% pada pertemuan September, menurut CME FedWatch Tool. Sebagai aset yang tidak menghasilkan imbal hasil, emas cenderung berkinerja baik dalam lingkungan suku bunga yang rendah karena suku bunga yang lebih rendah mengurangi biaya untuk memegang logam mulia tersebut.
Baca Juga: Kekayaan RI Keluar Sebabkan Rupiah Melemah, Prabowo Analogikan seperti Tubuh Kehabisan Darah
Dari sisi data, Perubahan Ketenagakerjaan ADP menunjukkan bahwa penggajian swasta meningkat sebesar 98 ribu pada bulan Juni, di bawah ekspektasi pasar sebesar 113 ribu dan turun dari peningkatan 122 ribu yang tercatat pada Mei. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur ISM (PMI) turun menjadi 53,3 pada bulan Juni dari 54,0 pada bulan Mei, meleset dari perkiraan pasar sebesar 54,0.
Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3%.
Dari sentimen domestik, kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia bulan Mei defisit, Inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Selain itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025.
S&P mengungkapkan PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang. Headline menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun.
Baca Juga: Kekayaan RI Keluar Sebabkan Rupiah Melemah, Prabowo Analogikan seperti Tubuh Kehabisan Darah
Dari sisi data, Perubahan Ketenagakerjaan ADP menunjukkan bahwa penggajian swasta meningkat sebesar 98 ribu pada bulan Juni, di bawah ekspektasi pasar sebesar 113 ribu dan turun dari peningkatan 122 ribu yang tercatat pada Mei. Indeks Manajer Pembelian Manufaktur ISM (PMI) turun menjadi 53,3 pada bulan Juni dari 54,0 pada bulan Mei, meleset dari perkiraan pasar sebesar 54,0.
Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3%.
Dari sentimen domestik, kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia bulan Mei defisit, Inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Selain itu, data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025.
S&P mengungkapkan PMI Indonesia ini menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang. Headline menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun.
Lihat Juga :