BPJT dan Roatex Matangkan Pra Uji Coba Sistem Tol Tanpa Setop
Senin, 06 Juli 2026 - 18:17 WIB
loading...
Rencana penerapan sistem pembayaran tol tanpa berhenti atau Multi Lane Free Flow (MLFF) semakin mendekati tahap pengujian. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Rencana penerapan sistem pembayaran tol tanpa berhenti atau Multi Lane Free Flow (MLFF) semakin mendekati tahap pengujian. Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) bersama PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) kini tengah mematangkan berbagai skenario teknis sebagai persiapan pra-uji coba sebelum sistem tersebut diterapkan secara lebih luas. Kepala BPJT Ni Komang Rasminiati mengatakan, koordinasi intensif terus dilakukan dengan RITS selaku badan usaha pelaksana untuk memastikan seluruh aspek teknis siap sebelum pengujian dimulai.
"Kita sedang persiapan untuk menyiapkan ke arah sana secara teknis skenario-skenario yang akan diujicobakan," ujar Komang di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dalam keterangan tertulis dikutip, Senin (6/7/2027).
Baca Juga: Bayar Tol Tanpa Sentuh Belum Juga Diterapkan di Indonesia, Berikut Kendalanya
Meski demikian, BPJT belum menetapkan jadwal maupun lokasi pelaksanaan pra-uji coba. Menurut Komang, penentuan keduanya akan dilakukan setelah seluruh persiapan dinilai matang. "Kalau persiapannya sudah cukup matang, baru kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra-uji coba," katanya.
Lokasi pengujian pun masih bersifat fleksibel dan akan diputuskan berdasarkan skenario teknis yang tengah disusun. Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo sebelumnya mengatakan, perusahaan saat ini masih fokus menyusun berbagai skenario operasional bersama pemerintah guna mengantisipasi beragam kondisi di lapangan saat pengujian berlangsung.
Baca Juga: 700 Gerbang Tol Bisa Bayar Tanpa Stop di Tahun 2026, Ini Syaratnya
Ia memastikan koordinasi dengan pemerintah berjalan baik dan melihat komitmen pemerintah untuk tetap melanjutkan proyek MLFF. Sebagai investor dan mitra pemerintah, RITS kini menunggu keputusan resmi mengenai lokasi dan waktu pelaksanaan uji coba. Bali yang sejak awal direncanakan sebagai proyek percontohan masih menjadi salah satu opsi, meski pengujian juga dimungkinkan dilakukan di ruas tol lain.
Renaldi menjelaskan, kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak menerima surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada implementasi penuh MLFF. Namun, pada masa transisi, sistem gerbang tol dengan palang masih akan digunakan.
"Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung," ujarnya.
Menurutnya, tahap penyusunan skenario dan pengujian menjadi langkah krusial sebelum pemerintah memutuskan implementasi MLFF secara nasional. Sistem tersebut diharapkan mampu memangkas antrean kendaraan sekaligus mempercepat proses transaksi di jalan tol.
Sementara itu, pengamat transportasi dari Politeknik Transportasi Jalan, Anton Budiharjo, menilai penerapan MLFF sudah menjadi kebutuhan seiring meningkatnya volume lalu lintas di jalan tol.
Menurut Anton, sistem transaksi elektronik tanpa henti tidak hanya memperlancar arus kendaraan, tetapi juga meningkatkan kualitas pengelolaan data dan pengawasan oleh pemerintah.
"Volume lalu lintas terus meningkat. Dengan pembayaran berbasis elektronik, seluruh transaksi akan tercatat secara digital sehingga pengawasan menjadi lebih mudah. Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik," katanya.
Anton menyarankan pemerintah memulai implementasi di wilayah yang memiliki kesiapan infrastruktur terbaik, seperti Jakarta. Namun, penerapannya sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan menguji satu gerbang tol terlebih dahulu sebelum diperluas ke gerbang lainnya.
Menurut dia, pendekatan bertahap akan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk beradaptasi sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.
"Mulai dari satu gerbang dulu. Kalau masyarakat sudah merasakan kemudahannya, baru diperluas menjadi dua, tiga, hingga seluruh gerbang. Dalam jangka sekitar lima tahun, seluruh gerbang tol bisa menerapkan sistem multi lane free flow," ujarnya.
"Kita sedang persiapan untuk menyiapkan ke arah sana secara teknis skenario-skenario yang akan diujicobakan," ujar Komang di Kantor Kementerian Pekerjaan Umum dalam keterangan tertulis dikutip, Senin (6/7/2027).
Baca Juga: Bayar Tol Tanpa Sentuh Belum Juga Diterapkan di Indonesia, Berikut Kendalanya
Meski demikian, BPJT belum menetapkan jadwal maupun lokasi pelaksanaan pra-uji coba. Menurut Komang, penentuan keduanya akan dilakukan setelah seluruh persiapan dinilai matang. "Kalau persiapannya sudah cukup matang, baru kita bisa menentukan targetnya kapan bisa dilakukan pra-uji coba," katanya.
Lokasi pengujian pun masih bersifat fleksibel dan akan diputuskan berdasarkan skenario teknis yang tengah disusun. Direktur PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) Renaldi Utomo sebelumnya mengatakan, perusahaan saat ini masih fokus menyusun berbagai skenario operasional bersama pemerintah guna mengantisipasi beragam kondisi di lapangan saat pengujian berlangsung.
Baca Juga: 700 Gerbang Tol Bisa Bayar Tanpa Stop di Tahun 2026, Ini Syaratnya
Ia memastikan koordinasi dengan pemerintah berjalan baik dan melihat komitmen pemerintah untuk tetap melanjutkan proyek MLFF. Sebagai investor dan mitra pemerintah, RITS kini menunggu keputusan resmi mengenai lokasi dan waktu pelaksanaan uji coba. Bali yang sejak awal direncanakan sebagai proyek percontohan masih menjadi salah satu opsi, meski pengujian juga dimungkinkan dilakukan di ruas tol lain.
Renaldi menjelaskan, kontrak kerja sama yang dimiliki RITS sejak menerima surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada implementasi penuh MLFF. Namun, pada masa transisi, sistem gerbang tol dengan palang masih akan digunakan.
"Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung," ujarnya.
Menurutnya, tahap penyusunan skenario dan pengujian menjadi langkah krusial sebelum pemerintah memutuskan implementasi MLFF secara nasional. Sistem tersebut diharapkan mampu memangkas antrean kendaraan sekaligus mempercepat proses transaksi di jalan tol.
Sementara itu, pengamat transportasi dari Politeknik Transportasi Jalan, Anton Budiharjo, menilai penerapan MLFF sudah menjadi kebutuhan seiring meningkatnya volume lalu lintas di jalan tol.
Menurut Anton, sistem transaksi elektronik tanpa henti tidak hanya memperlancar arus kendaraan, tetapi juga meningkatkan kualitas pengelolaan data dan pengawasan oleh pemerintah.
"Volume lalu lintas terus meningkat. Dengan pembayaran berbasis elektronik, seluruh transaksi akan tercatat secara digital sehingga pengawasan menjadi lebih mudah. Jika ke depan ada kebijakan baru seperti pajak jalan tol, perhitungannya juga akan lebih sederhana karena seluruh data sudah terekam secara elektronik," katanya.
Anton menyarankan pemerintah memulai implementasi di wilayah yang memiliki kesiapan infrastruktur terbaik, seperti Jakarta. Namun, penerapannya sebaiknya dilakukan secara bertahap dengan menguji satu gerbang tol terlebih dahulu sebelum diperluas ke gerbang lainnya.
Menurut dia, pendekatan bertahap akan memberi kesempatan kepada masyarakat untuk beradaptasi sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah.
"Mulai dari satu gerbang dulu. Kalau masyarakat sudah merasakan kemudahannya, baru diperluas menjadi dua, tiga, hingga seluruh gerbang. Dalam jangka sekitar lima tahun, seluruh gerbang tol bisa menerapkan sistem multi lane free flow," ujarnya.
(nng)
Lihat Juga :