Iran-AS Memanas Lagi, Harga Minyak Dunia Melonjak Lebih dari 6%
Rabu, 08 Juli 2026 - 22:01 WIB
loading...
Pemandangan umum kilang minyak Baiji di Baiji, 112 mil di utara Baghdad. FOTO/Reuters
A
A
A
LONDON - Harga minyak dunia melonjak lebih dari 6% pada perdagangan Rabu setelah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali meningkat menyusul pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut nota kesepahaman untuk mengakhiri konflik dengan Teheran telah berakhir. Eskalasi tersebut kembali memicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi dari kawasan Timur Tengah, khususnya melalui Selat Hormuz.
"Pasar kembali dipaksa untuk memperhitungkan risiko bahwa serangan baru terhadap pelayaran, atau keretakan yang lebih luas dalam hubungan AS-Iran, dapat memperlambat normalisasi arus melalui Selat Hormuz," kata analis Saxo Bank, Ole Hansen dikutip dari Reuters, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Iran Serang 85 Situs Militer AS di Bahrain dan Kuwait, Situasi Memanas Seiring Pemakaman Khamenei
Pada perdagangan Rabu pukul 16.45 WIB, harga minyak mentah Brent untuk kontrak September 2026 naik USD4,57 per barel atau 6,16% menjadi USD78,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus 2026 menguat USD4,23 atau 6,01% menjadi USD74,67 per barel. Kedua harga acuan tersebut berada di level tertinggi sejak 22 Juni, setelah sehari sebelumnya juga menguat sekitar 3%.
Kenaikan harga terjadi setelah AS mencabut izin umum yang sebelumnya memperbolehkan penjualan minyak mentah Iran. Kondisi semakin memanas ketika Trump menyatakan nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Iran untuk mengakhiri konflik tidak lagi berlaku, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Adapun situasi tersebut diperburuk oleh aksi militer terbaru. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan serangan udara dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengaku menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Perkembangan itu kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia. Data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya empat kapal tanker minyak dan gas membatalkan pelayaran melintasi selat tersebut setelah meningkatnya ancaman keamanan.
"Pernyataan Trump bahwa nota kesepahaman telah berakhir meningkatkan kemungkinan penutupan kembali selat karena siklus eskalasi dimulai lagi," kata Kepala Riset MST Marquee, Sauk Kavoniv.
Baca Juga: Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
Menurut Hansen, tantangan pasokan minyak global sebenarnya belum sepenuhnya hilang, namun eskalasi terbaru telah memperburuk gangguan yang ada. Di sisi lain, setelah gencatan senjata antara AS dan Iran bulan lalu sempat menekan harga minyak ke level sebelum konflik, banyak pelaku pasar mengambil posisi jual (short position) dengan ekspektasi harga akan kembali turun.
Kepala Analis Komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, menilai harga minyak yang mendekati USD80 per barel lebih mencerminkan kondisi fundamental pasar saat ini dibandingkan kisaran USD70. Sementara itu, pasar juga mencermati langkah China yang kembali membuka ekspor bahan bakar olahan untuk sisa Juli dan mengizinkan kilang swasta melanjutkan pengiriman setelah sempat terhenti selama empat bulan akibat terganggunya pasokan selama konflik Iran.
"Pasar kembali dipaksa untuk memperhitungkan risiko bahwa serangan baru terhadap pelayaran, atau keretakan yang lebih luas dalam hubungan AS-Iran, dapat memperlambat normalisasi arus melalui Selat Hormuz," kata analis Saxo Bank, Ole Hansen dikutip dari Reuters, Rabu (8/7/2026).
Baca Juga: Iran Serang 85 Situs Militer AS di Bahrain dan Kuwait, Situasi Memanas Seiring Pemakaman Khamenei
Pada perdagangan Rabu pukul 16.45 WIB, harga minyak mentah Brent untuk kontrak September 2026 naik USD4,57 per barel atau 6,16% menjadi USD78,73 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Agustus 2026 menguat USD4,23 atau 6,01% menjadi USD74,67 per barel. Kedua harga acuan tersebut berada di level tertinggi sejak 22 Juni, setelah sehari sebelumnya juga menguat sekitar 3%.
Kenaikan harga terjadi setelah AS mencabut izin umum yang sebelumnya memperbolehkan penjualan minyak mentah Iran. Kondisi semakin memanas ketika Trump menyatakan nota kesepahaman yang ditandatangani dengan Iran untuk mengakhiri konflik tidak lagi berlaku, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas kawasan.
Adapun situasi tersebut diperburuk oleh aksi militer terbaru. Komando Pusat AS (Centcom) menyatakan serangan udara dilakukan sebagai respons atas serangan Iran terhadap tiga kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Sebagai balasan, Garda Revolusi Iran mengaku menyerang fasilitas militer AS di Bahrain dan Kuwait.
Perkembangan itu kembali memunculkan kekhawatiran terhadap kelancaran lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20 persen pasokan energi dunia. Data pelacakan kapal menunjukkan sedikitnya empat kapal tanker minyak dan gas membatalkan pelayaran melintasi selat tersebut setelah meningkatnya ancaman keamanan.
"Pernyataan Trump bahwa nota kesepahaman telah berakhir meningkatkan kemungkinan penutupan kembali selat karena siklus eskalasi dimulai lagi," kata Kepala Riset MST Marquee, Sauk Kavoniv.
Baca Juga: Kapal Tanker Kembali Diserang di Selat Hormuz, Harga Minyak Langsung Terbang
Menurut Hansen, tantangan pasokan minyak global sebenarnya belum sepenuhnya hilang, namun eskalasi terbaru telah memperburuk gangguan yang ada. Di sisi lain, setelah gencatan senjata antara AS dan Iran bulan lalu sempat menekan harga minyak ke level sebelum konflik, banyak pelaku pasar mengambil posisi jual (short position) dengan ekspektasi harga akan kembali turun.
Kepala Analis Komoditas SEB, Bjarne Schieldrop, menilai harga minyak yang mendekati USD80 per barel lebih mencerminkan kondisi fundamental pasar saat ini dibandingkan kisaran USD70. Sementara itu, pasar juga mencermati langkah China yang kembali membuka ekspor bahan bakar olahan untuk sisa Juli dan mengizinkan kilang swasta melanjutkan pengiriman setelah sempat terhenti selama empat bulan akibat terganggunya pasokan selama konflik Iran.
(nng)
Lihat Juga :