IHSG Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
Jum'at, 10 Juli 2026 - 16:41 WIB
loading...
A
A
A
Saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), dan PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) menjadi pencetak kenaikan terbesar dengan masing-masing menguat 34,57%, 34,12%, dan 33,77%. Sebaliknya, saham PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA), dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) memimpin daftar saham yang terkoreksi paling dalam.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 63 poin atau sekitar 0,35% menjadi Rp18.065 per dolar AS. Meski demikian, mata uang Garuda masih berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS seiring tingginya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan global.
Ibrahim menjelaskan, sentimen eksternal masih didominasi meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lanjutan. Konflik tersebut turut menghambat normalisasi aktivitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi lintasan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Selain itu, pasar juga mencermati peluang kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat. Pernyataan Presiden Federal Reserve New York John Williams bahwa inflasi masih terlalu tinggi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, di tengah kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih relatif solid.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 63 poin atau sekitar 0,35% menjadi Rp18.065 per dolar AS. Meski demikian, mata uang Garuda masih berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS seiring tingginya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan global.
Ibrahim menjelaskan, sentimen eksternal masih didominasi meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lanjutan. Konflik tersebut turut menghambat normalisasi aktivitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi lintasan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Selain itu, pasar juga mencermati peluang kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat. Pernyataan Presiden Federal Reserve New York John Williams bahwa inflasi masih terlalu tinggi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, di tengah kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih relatif solid.
Lihat Juga :