IHSG Ditutup Menguat Tipis, Rupiah Masih Bertengger di Atas Rp18.000
Jum'at, 10 Juli 2026 - 16:41 WIB
loading...
IHSG dan rupiah hari ini ditutup menguat tipis. FOTO/dok.SindoNews
A
A
A
JAKARTA - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat pada akhir perdagangan harinini namun belum mampu menembus level psikologis 6.000. Sementara itu, nilai tukar rupiah menguat tipis terhadap dolar Amerika Serikat (AS), meski masih bertahan di atas level Rp18.000 per dolar AS di tengah ketidakpastian ekonomi global.
"Meskipun laporan Axios menyebut mediator regional masih berupaya menyelamatkan nota kesepahaman AS-Iran, perdamaian di Timur Tengah tampak masih jauh dari kepastian," ujar Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Jumat (10/7/2026).
IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (10/7), naik 11,92 poin atau 0,20% ke posisi 5.924. Sebanyak 383 saham menguat, 252 saham melemah, dan 330 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp8,8 triliun dari 15,5 miliar saham yang diperdagangkan.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Dibuka Merayap Naik ke 5.936, Transaksi Awal Cetak Rp629 M
Penguatan juga terjadi pada sejumlah indeks utama, di antaranya LQ45 yang naik 0,32% menjadi 589, Jakarta Islamic Index (JII) menguat 0,88% ke 348, IDX30 naik 0,28% ke 333, dan MNC36 bertambah 0,22% ke level 257. Secara sektoral, penguatan dipimpin saham energi, konsumer siklikal, bahan baku, keuangan, properti, transportasi, konsumer non-siklikal, dan teknologi, sedangkan sektor infrastruktur, industri, dan kesehatan ditutup melemah.
Saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), dan PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) menjadi pencetak kenaikan terbesar dengan masing-masing menguat 34,57%, 34,12%, dan 33,77%. Sebaliknya, saham PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA), dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) memimpin daftar saham yang terkoreksi paling dalam.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 63 poin atau sekitar 0,35% menjadi Rp18.065 per dolar AS. Meski demikian, mata uang Garuda masih berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS seiring tingginya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan global.
Ibrahim menjelaskan, sentimen eksternal masih didominasi meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lanjutan. Konflik tersebut turut menghambat normalisasi aktivitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi lintasan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Selain itu, pasar juga mencermati peluang kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat. Pernyataan Presiden Federal Reserve New York John Williams bahwa inflasi masih terlalu tinggi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, di tengah kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih relatif solid.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari keputusan Dana Moneter Internasional (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2026 dan meningkat menjadi 5,1% pada 2027.
Baca Juga: Gugurkan Tren Penguatan, IHSG Merosot 1,89% ke 5.873 Sore Ini
Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% untuk 2026 dan 2027, meski angka tersebut masih berada di bawah target pemerintah sebesar 5,4% dalam APBN 2026. Di sisi lain, kenaikan penjualan mobil nasional pada semester I-2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya daya beli masyarakat karena pemulihan konsumsi rumah tangga masih berlangsung secara bertahap.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS. Dalam sepekan ke depan, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.870 hingga Rp18.300 per dolar AS, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global.
"Meskipun laporan Axios menyebut mediator regional masih berupaya menyelamatkan nota kesepahaman AS-Iran, perdamaian di Timur Tengah tampak masih jauh dari kepastian," ujar Analis Pasar Uang Ibrahim Assuaibi dalam risetnya, Jumat (10/7/2026).
IHSG pada penutupan perdagangan Jumat (10/7), naik 11,92 poin atau 0,20% ke posisi 5.924. Sebanyak 383 saham menguat, 252 saham melemah, dan 330 saham stagnan, dengan nilai transaksi mencapai Rp8,8 triliun dari 15,5 miliar saham yang diperdagangkan.
Baca Juga: IHSG Hari Ini Dibuka Merayap Naik ke 5.936, Transaksi Awal Cetak Rp629 M
Penguatan juga terjadi pada sejumlah indeks utama, di antaranya LQ45 yang naik 0,32% menjadi 589, Jakarta Islamic Index (JII) menguat 0,88% ke 348, IDX30 naik 0,28% ke 333, dan MNC36 bertambah 0,22% ke level 257. Secara sektoral, penguatan dipimpin saham energi, konsumer siklikal, bahan baku, keuangan, properti, transportasi, konsumer non-siklikal, dan teknologi, sedangkan sektor infrastruktur, industri, dan kesehatan ditutup melemah.
Saham PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL), PT Rans Entertainment Indonesia Tbk (RANS), dan PT Bukit Darmo Property Tbk (BKDP) menjadi pencetak kenaikan terbesar dengan masing-masing menguat 34,57%, 34,12%, dan 33,77%. Sebaliknya, saham PT Niramas Utama Tbk (JELI), PT Bekasi Asri Pemula Tbk (BAPA), dan PT Nitrasanata Dharma Tbk (JECX) memimpin daftar saham yang terkoreksi paling dalam.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup menguat 63 poin atau sekitar 0,35% menjadi Rp18.065 per dolar AS. Meski demikian, mata uang Garuda masih berada di atas level psikologis Rp18.000 per dolar AS seiring tingginya kehati-hatian pelaku pasar terhadap perkembangan global.
Ibrahim menjelaskan, sentimen eksternal masih didominasi meningkatnya ketegangan geopolitik setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan gencatan senjata dengan Iran telah berakhir dan memerintahkan serangan lanjutan. Konflik tersebut turut menghambat normalisasi aktivitas di Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi lintasan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga memicu kekhawatiran kenaikan inflasi akibat lonjakan harga energi.
Selain itu, pasar juga mencermati peluang kebijakan moneter Amerika Serikat yang lebih ketat. Pernyataan Presiden Federal Reserve New York John Williams bahwa inflasi masih terlalu tinggi memperkuat ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed, di tengah kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih relatif solid.
Dari dalam negeri, sentimen positif datang dari keputusan Dana Moneter Internasional (IMF) yang mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5% pada 2026 dan meningkat menjadi 5,1% pada 2027.
Baca Juga: Gugurkan Tren Penguatan, IHSG Merosot 1,89% ke 5.873 Sore Ini
Sementara itu, Asian Development Bank (ADB) juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 5,2% untuk 2026 dan 2027, meski angka tersebut masih berada di bawah target pemerintah sebesar 5,4% dalam APBN 2026. Di sisi lain, kenaikan penjualan mobil nasional pada semester I-2026 dinilai belum sepenuhnya mencerminkan pulihnya daya beli masyarakat karena pemulihan konsumsi rumah tangga masih berlangsung secara bertahap.
Untuk perdagangan selanjutnya, Ibrahim memproyeksikan rupiah akan bergerak fluktuatif dengan kecenderungan melemah pada kisaran Rp18.060 hingga Rp18.110 per dolar AS. Dalam sepekan ke depan, nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak di rentang Rp17.870 hingga Rp18.300 per dolar AS, seiring pelaku pasar terus mencermati perkembangan geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global.
(nng)
Lihat Juga :