Tabungan Kelas Menengah Melambat, LPS Menyoroti Anomali Melejitnya Simpanan di Atas Rp5 Miliar
Selasa, 21 Juli 2026 - 08:56 WIB
loading...
Ketua Dewan Komisioner LPS, Anggito Abimanyu mengungkapkan, adanya tren perlambatan pertumbuhan tabungan pada kelompok masyarakat kelas menengah dalam tiga bulan terakhir. Foto/Dok
A
A
A
JAKARTA - Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan ( LPS ), Anggito Abimanyu mengungkapkan, adanya tren perlambatan pertumbuhan tabungan pada kelompok masyarakat kelas menengah dalam tiga bulan terakhir. Meski begitu secara tahunan (year-on-year), nominal dan jumlah rekening masyarakat kelas menengah masih menunjukkan kenaikan tipis.
“Saya hanya memotret saja bahwa jumlah nominal jumlah rekening naik, itu saja khususnya year-on-year. Memang 3 bulan terakhir itu ada perlambatan, tetap naik,” ujar Anggito selepas rapat kerja di Kompleks Parlemen, Jakarta, kemarin.
Meski mencatat perlambatan, Anggito belum memberikan rincian angka pasti mengenai penurunan pertumbuhan tabungan tersebut. Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi dinamika ini adalah semakin sedikitnya jumlah penduduk usia produktif (15-69 tahun) yang belum memiliki akses perbankan.
Saat ini, jumlah penduduk yang belum memiliki rekening tersisa sekitar 15 juta jiwa, dengan angka penurunan rata-rata 2 juta orang setiap tahunnya. Baca Juga: Tabungan Orang Kaya Kuasai 57,69% Dana di Bank, Kelas Bawah dan Menengah Seret
“Jumlah penduduk yang tidak punya rekening semakin kecil sekarang. Kan setiap tahun saya monitor, turun sekitar 2 jutaan. Sekarang tinggal 15 juta. Berarti kan masyarakat punya rekening untuk beraktivitas. Terus rekening yang aktif, itu masih semakin banyak setahun terakhir ini,” tambahnya.
Data tersebut, kata Anggito, mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat secara umum masih berjalan normal. Sedangkan, LPS mencatat anomali pada segmen nasabah kaya, di mana jumlah rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar justru mengalami peningkatan signifikan.
“Sampai yang paling tinggi, yang paling besar, Rp5 miliar itu naiknya tinggi sekali. Potretnya mengatakan bahwa jumlah nominal, jumlah rekening naik,” kata dia.
Baca Juga: Fenomena Makan Tabungan Warga RI Belum Berakhir, Habis Buat Makan dan Bayar Cicilan
Menanggapi adanya pandangan mengenai rendahnya pertumbuhan kredit UMKM yang hanya berada di kisaran 0,5% hingga 1,6%, Anggito menilai kondisi ekonomi mikro sebenarnya masih cukup baik. Ia mengajak untuk melihat lebih jauh indikator-indikator lain di luar angka pertumbuhan kredit tersebut.
“Kok rendah sekali? Tapi kalau kita bedah lagi, sebetulnya masih banyak indikator yang bisa menunjukkan bahwa sektor mikronya juga baik,” urai Anggito.
“Saya hanya memotret saja bahwa jumlah nominal jumlah rekening naik, itu saja khususnya year-on-year. Memang 3 bulan terakhir itu ada perlambatan, tetap naik,” ujar Anggito selepas rapat kerja di Kompleks Parlemen, Jakarta, kemarin.
Meski mencatat perlambatan, Anggito belum memberikan rincian angka pasti mengenai penurunan pertumbuhan tabungan tersebut. Menurutnya, salah satu faktor yang memengaruhi dinamika ini adalah semakin sedikitnya jumlah penduduk usia produktif (15-69 tahun) yang belum memiliki akses perbankan.
Saat ini, jumlah penduduk yang belum memiliki rekening tersisa sekitar 15 juta jiwa, dengan angka penurunan rata-rata 2 juta orang setiap tahunnya. Baca Juga: Tabungan Orang Kaya Kuasai 57,69% Dana di Bank, Kelas Bawah dan Menengah Seret
“Jumlah penduduk yang tidak punya rekening semakin kecil sekarang. Kan setiap tahun saya monitor, turun sekitar 2 jutaan. Sekarang tinggal 15 juta. Berarti kan masyarakat punya rekening untuk beraktivitas. Terus rekening yang aktif, itu masih semakin banyak setahun terakhir ini,” tambahnya.
Data tersebut, kata Anggito, mengindikasikan bahwa aktivitas ekonomi masyarakat secara umum masih berjalan normal. Sedangkan, LPS mencatat anomali pada segmen nasabah kaya, di mana jumlah rekening dengan saldo di atas Rp5 miliar justru mengalami peningkatan signifikan.
“Sampai yang paling tinggi, yang paling besar, Rp5 miliar itu naiknya tinggi sekali. Potretnya mengatakan bahwa jumlah nominal, jumlah rekening naik,” kata dia.
Baca Juga: Fenomena Makan Tabungan Warga RI Belum Berakhir, Habis Buat Makan dan Bayar Cicilan
Menanggapi adanya pandangan mengenai rendahnya pertumbuhan kredit UMKM yang hanya berada di kisaran 0,5% hingga 1,6%, Anggito menilai kondisi ekonomi mikro sebenarnya masih cukup baik. Ia mengajak untuk melihat lebih jauh indikator-indikator lain di luar angka pertumbuhan kredit tersebut.
“Kok rendah sekali? Tapi kalau kita bedah lagi, sebetulnya masih banyak indikator yang bisa menunjukkan bahwa sektor mikronya juga baik,” urai Anggito.
(akr)
Lihat Juga :