Bappenas Petakan Kekayaan Hayati Indonesia untuk Pembangunan Berkelanjuran

Selasa, 21 Juli 2026 - 09:51 WIB
loading...
Bappenas Petakan Kekayaan...
Kementerian PPN/Bappenas bersama sejumlah pihak berkolaborasi dalam memperkuat penyediaan data dan informasi ilmiah keanekaragaman hayati sebagai landasan perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan berbasis bukti. Foto/Dok. SindoNews
A A A
JAKARTA - Kementerian PPN/ Bappenas bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional, Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, serta kementerian/lembaga terkait, dengan dukungan GIZ Indonesia dan ASEAN, dan Yayasan Konservasi Indonesia berkolaborasi dalam memperkuat penyediaan data dan informasi ilmiah keanekaragaman hayati sebagai landasan perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan berbasis bukti (evidence-based policy). Upaya tersebut diwujudkan melalui penyusunan empat Dokumen Status Keanekaragaman Hayati Bali–Nusa Tenggara, Jawa, Maluku, dan Papua, yang dibahas belum lama ini.

Keempat dokumen tersebut merupakan Dokumen Pendukung IBSAP 2025–2045 yang menyajikan potret ilmiah terkini mengenai karakteristik, potensi, kondisi, tekanan, serta tantangan pengelolaan keanekaragaman hayati dengan mendokumentasikan kekayaan keanekaragaman hayati pada tingkat ekosistem, spesies, dan genetik pada masing-masing wilayah. Baca juga: Hari Sadar Risiko Nasional 2025, Bappenas Sebut Pentingnya Penerapan MRPN

Direktur Lingkungan Hidup Kementerian PPN/Bappenas, Nizhar Marizi mengatakan, pemerintah telah memprioritaskan pengelolaan keanekaragaman hayati pada tingkat ekosistem, spesies, dan genetik pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2025–2029 melalui Asta Cita 2 Ekonomi Hijau.
"Komitmen ini diperkuat dengan disusunnya Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045 pada 2024 lalu, sebagai kompas pengelolaan keanekaragaman hayati Indonesia," ujar Nizhar Marizi dalam keterangan resmi di Jakarta, Selasa (21/07/2026).

Peluncuran dokumen ini menjadi semakin penting mengingat Indonesia merupakan salah satu negara dengan kekayaan keanekaragaman hayati terbesar di dunia, sekaligus memiliki tanggung jawab untuk memastikan warisan alam ini tetap terjaga bagi generasi mendatang. Ketersediaan data dan informasi ilmiah yang mutakhir menjadi fondasi penting untuk memastikan warisan keanekaragaman hayati Indonesia dapat dikelola secara berkelanjutan dan terus menjadi modal pembangunan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

Direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup /BPLH, Inge Retnowati menegaskan, keanekaragaman hayati merupakan modal pembangunan nasional (national capital) yang memiliki nilai sosial, ekonomi, dan ekologi yang sangat tinggi sehingga harus dijaga secara seimbang.

"Pengawalan keanekaragaman hayati harus memiliki basis scientific dan dibangun dengan integritas yang tinggi. Status keanekaragaman hayati ini hadir sebagai basis ilmiah yang menjadi potret kondisi keanekaragaman hayati Indonesia sekaligus rujukan dalam tata kelola,” kata Inge Retnowati.

Sementara, Kepala Organisasi Riset Hayati dan Lingkungan Badan Riset dan Inovasi Nasional, Andes Hamuraby Rozak mengungkapkan, Indonesia memiliki kekayaan keanekaragaman hayati dengan lebih dari 1,5 juta spesies dan lebih dari 30% merupakan spesies endemik. Namun, masih banyak spesies yang belum teridentifikasi dan harus digali melalui riset dan eksplorasi.

“Dokumen ini diharapkan menjadi rujukan ilmiah bagi seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong kebijakan pembangunan yang selaras dengan upaya konservasi, dengan menjadikan ilmu pengetahuan sebagai landasan dan kolaborasi sebagai kekuatan untuk menjaga kekayaan hayati Indonesia serta memastikan manfaatnya bagi generasi kini dan mendatang,” jelasnya.

Andes menambahkan, kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia tercermin di lebih dari 12.800 jenis flora dengan 601 spesies endemik di Jawa, 3.459 jenis flora dengan endemisitas 55 persen di Bali–Nusa Tenggara, 4.383 jenis flora di Maluku, hingga sekitar 8.000 jenis flora dengan endemisitas 58% di Papua.

Melalui pendekatan whole of government dan whole of society, ketersediaan data dan informasi keanekaragaman hayati yang mutakhir menjadi fondasi penting bagi pengambilan keputusan berbasis bukti (evidence-based policy) dan penguatan sinergi lintas pemangku kepentingan.

Dengan mengetahui dan memahami kekayaan keanekaragaman hayati yang dimiliki, Indonesia dapat menentukan langkah yang lebih tepat untuk melindungi dan melestarikan, memanfaatkan secara berkelanjutan, sekaligus membangun dasar bagi penilaian nilai ekonomi keanekaragaman hayati dan jasa ekosistem sebagai modal pembangunan nasional.

Dikatakaan Nizhar, penyusunan keempat dokumen ini bukan hanya dilakukan oleh pemerintah. Prosesnya juga melibatkan akademisi, pemerintah daerah, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, serta masyarakat lokal melalui berbagai forum diskusi dan konsultasi publik. "Dokumen ini mengakomodasi berbagai perspektif dan sumber data yang tersedia, serta diharapkan menjadi referensi bersama bagi pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan,” tuturnya. Baca juga: Pembangunan Tanpa Ekologi: Keteledoran yang Harus Dibayar Mahal

Commission Manager of the Climate and Biodiversity Hub at GIZ Indonesia & ASEAN, Karin Allgoewer mengatakan, GIZ Indonesia bekerja sama dengan Kementerian PPN/Bappenas bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional, Kementerian Lingkungan Hidup/BPLH, beserta sejumlah kementerian dan lembaga riset terkait memastikan rencana strategis nasional. Terutama Strategi dan Rencana Aksi Keanekaragaman Hayati Indonesia (IBSAP) 2025–2045, selaras dengan perencanaan pembangunan nasional.

"Kami memiliki keyakinan kuat bahwa Strategi dan Rencana Aksi yang kokoh harus didasarkan pada data sebagaimana tersaji dalam empat Laporan Status Keanekaragaman Hayati ini. Dari sini, kita bisa melihat kekayaan hayati apa yang kita miliki, apa yang berisiko hilang, dan di mana kita harus bertindak untuk melindungi kekayaan kita tersebut," katanya.
(poe)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Raih 3 Pengakuan Internasional,...
Raih 3 Pengakuan Internasional, IIF Terus Memperkuat Kapasitas Pendanaan Infrastruktur
Transisi Net Zero Ubah...
Transisi Net Zero Ubah Peran CFO Menjadi Penggerak Transformasi Bisnis
BPDP Dukung Jakarta...
BPDP Dukung Jakarta Fiscal Forum 2026, Perkuat Kolaborasi untuk Pembangunan Berkelanjutan
Indonesia, Swiss, dan...
Indonesia, Swiss, dan UNDP Luncurkan Fase Baru Transformasi Lanskap Berkelanjutan di Indonesia
Ketika Sampah Menjadi...
Ketika Sampah Menjadi Sumber Daya, Strategi Sirkular Lippo Karawaci
Sertifikasi RSPO Kunci...
Sertifikasi RSPO Kunci Akses Pasar dan Penguatan Petani Sawit Swadaya
Biodiversity+ Business...
Biodiversity+ Business Forum Dorong Investasi Berbasis Keanekaragaman Hayati
SMA 1 Gresik Raih Adiwiyata,...
SMA 1 Gresik Raih Adiwiyata, Menteri Jumhur: Jatim Ranking 1 Jaga Lingkungan
Forum GPI4 di Peru,...
Forum GPI4 di Peru, Indonesia Tegaskan Komitmen Lindungi Gambut Dunia
Rekomendasi
Pakar Kebijakan Publik...
Pakar Kebijakan Publik Soroti Ego Sektoral Penegakan Hukum, Sarankan Pelibatan KPK
Trump Ungkap Iran Sedang...
Trump Ungkap Iran Sedang Bernegosiasi dengan AS, Peringatkan Teheran Tak Boleh Punya Senjata Nuklir
Mama Firda Bagikan 5...
Mama Firda Bagikan 5 Tips Membuat Konten Review Makanan yang Disukai Netizen
Berita Terkini
BRI Life Hadirkan Solusi...
BRI Life Hadirkan Solusi Perlindungan Kesehatan dan Finansial
IHSG Naik 0,34% dalam...
IHSG Naik 0,34% dalam Sepekan, Ini Daftar Saham Cuan dan Rugi Terbesar
Perkuat Ekonomi Daerah,...
Perkuat Ekonomi Daerah, Dana Bagi Hasil Tambang Perlu Dievaluasi
Perpres Operasional...
Perpres Operasional Koperasi Desa Merah Putih Ditargetkan Terbit Pekan Depan, Atur Penyaluran Subsidi hingga Bansos
OJK Catat Transaksi...
OJK Catat Transaksi Kripto Rp23,01 Triliun, Pasar Futures Dinilai Kian Prospektif
Harga Emas Antam Naik...
Harga Emas Antam Naik Rp7.000 Jadi Rp2,61 Juta per Gram, Ini Rinciannya
Infografis
Daftar Juara Liga Indonesia...
Daftar Juara Liga Indonesia dari Masa ke Masa: Persib Ukir Sejarah
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved