Tembus Blokade Laut Merah, Tanker Raksasa China Bawa Pulang 4 Juta Barel Minyak Arab Saudi
Jum'at, 24 Juli 2026 - 21:19 WIB
loading...
Kapal-kapal dhow melintasi Selat Bab El-Mandeb, di lepas pantai Yaman, pada 2 April 2026. FOTO/Reuters
A
A
A
SINGAPURA - Dua kapal tanker raksasa China yang mengangkut total sekitar 4 juta barel minyak mentah Arab Saudi berhasil keluar dari Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb pada Kamis (23/7) di tengah blokade yang diberlakukan kelompok Houthi Yaman terhadap pengiriman minyak Saudi. Keberhasilan kedua kapal melintasi jalur tersebut terjadi ketika sejumlah kapal tanker Saudi lainnya justru menjadi sasaran serangan.
"Dua supertanker China yang mengangkut total 4 juta barel minyak Arab Saudi berhasil keluar dari Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb," berdasarkan data pelacakan kapal LSEG dikutip dari Reuters, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
Data pelayaran menunjukkan kapal tanker berbendera Singapura Xin Long Yang, yang sempat berputar arah dan berhenti di tengah Laut Merah pada Selasa (21/7), kembali melanjutkan pelayaran ke arah selatan pada Rabu malam. Kapal tersebut kemudian diikuti tanker berbendera China Cosnew Lake, dan keduanya berhasil meninggalkan Laut Merah pada Kamis.
Menurut data LSEG, Xin Long Yang menuju Pelabuhan Qinzhou di Provinsi Guangxi, China selatan, sedangkan Cosnew Lake dijadwalkan membongkar muatan di Pelabuhan Huizhou, Provinsi Guangdong. Kedua kapal sebelumnya memuat minyak mentah di Pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, dan mengidentifikasi awak kapal berkewarganegaraan China melalui sistem identifikasi otomatis (AIS).
Meski kedua kapal berhasil melintas, situasi keamanan di kawasan tetap memburuk. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan telah melancarkan operasi militer terhadap dua kapal tanker minyak Saudi yang dituding melanggar blokade. Otoritas Arab Saudi kemudian melaporkan kapal Encelia diserang di Laut Merah hingga terbakar, namun seluruh awak kapal dinyatakan selamat.
Ketegangan di Laut Merah terjadi bersamaan dengan terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz akibat kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global karena kedua jalur tersebut merupakan rute utama perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?
Data LSEG menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Rabu turun menjadi 27 kapal dari 38 kapal sehari sebelumnya. Sementara itu, lalu lintas di Selat Hormuz juga masih terbatas. Pada Kamis, hanya dua kapal tanker minyak mentah berkapasitas sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) yang tercatat keluar dari selat tersebut, masing-masing mengangkut minyak mentah dari Irak dan Uni Emirat Arab menuju pasar Asia.
Hingga 20 Juli, terdapat 253 kapal tanker bermuatan di kawasan Teluk, termasuk 102 kapal tanker minyak, 64 kapal pengangkut gas alam cair (LNG), dan 66 kapal pengangkut gas minyak cair (LPG). Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan energi global masih berada di bawah tekanan akibat meningkatnya risiko keamanan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi dunia.
"Dua supertanker China yang mengangkut total 4 juta barel minyak Arab Saudi berhasil keluar dari Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb," berdasarkan data pelacakan kapal LSEG dikutip dari Reuters, Jumat (24/7/2026).
Baca Juga: Minyak Mentah Brent Tembus USD100 setelah Kapal Tanker Diserang di Laut Merah
Data pelayaran menunjukkan kapal tanker berbendera Singapura Xin Long Yang, yang sempat berputar arah dan berhenti di tengah Laut Merah pada Selasa (21/7), kembali melanjutkan pelayaran ke arah selatan pada Rabu malam. Kapal tersebut kemudian diikuti tanker berbendera China Cosnew Lake, dan keduanya berhasil meninggalkan Laut Merah pada Kamis.
Menurut data LSEG, Xin Long Yang menuju Pelabuhan Qinzhou di Provinsi Guangxi, China selatan, sedangkan Cosnew Lake dijadwalkan membongkar muatan di Pelabuhan Huizhou, Provinsi Guangdong. Kedua kapal sebelumnya memuat minyak mentah di Pelabuhan Yanbu, Arab Saudi, dan mengidentifikasi awak kapal berkewarganegaraan China melalui sistem identifikasi otomatis (AIS).
Meski kedua kapal berhasil melintas, situasi keamanan di kawasan tetap memburuk. Kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan telah melancarkan operasi militer terhadap dua kapal tanker minyak Saudi yang dituding melanggar blokade. Otoritas Arab Saudi kemudian melaporkan kapal Encelia diserang di Laut Merah hingga terbakar, namun seluruh awak kapal dinyatakan selamat.
Ketegangan di Laut Merah terjadi bersamaan dengan terganggunya lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz akibat kembali memanasnya konflik antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global karena kedua jalur tersebut merupakan rute utama perdagangan minyak dunia.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD100 per Barel, Pertalite Bakal Naik?
Data LSEG menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Selat Bab el-Mandeb pada Rabu turun menjadi 27 kapal dari 38 kapal sehari sebelumnya. Sementara itu, lalu lintas di Selat Hormuz juga masih terbatas. Pada Kamis, hanya dua kapal tanker minyak mentah berkapasitas sangat besar (Very Large Crude Carrier/VLCC) yang tercatat keluar dari selat tersebut, masing-masing mengangkut minyak mentah dari Irak dan Uni Emirat Arab menuju pasar Asia.
Hingga 20 Juli, terdapat 253 kapal tanker bermuatan di kawasan Teluk, termasuk 102 kapal tanker minyak, 64 kapal pengangkut gas alam cair (LNG), dan 66 kapal pengangkut gas minyak cair (LPG). Kondisi tersebut menunjukkan aktivitas perdagangan energi global masih berada di bawah tekanan akibat meningkatnya risiko keamanan di Timur Tengah yang berpotensi memengaruhi stabilitas pasokan dan harga energi dunia.
(nng)
Lihat Juga :