Ekonom: Gubernur BI Mundur Picu Volatilitas Pasar Jangka Pendek
Senin, 27 Juli 2026 - 11:39 WIB
loading...
A
A
A
Baca Juga: Efek Gubernur BI Mundur, Rupiah Melemah ke Rp17.972 per Dolar AS
Rahma menambahkan penunjukan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas gubernur menjadi langkah penting untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter. Kehadiran figur internal dinilai dapat memberikan sinyal stabilitas kepada pelaku pasar selama proses transisi kepemimpinan berlangsung.
Meski demikian, ia mengingatkan langkah tersebut belum tentu langsung memulihkan kepercayaan investor. Investor domestik maupun asing, kata dia, masih akan mencermati seberapa cepat pemerintah dan Bank Indonesia mengomunikasikan proses transisi serta menjaga kredibilitas kebijakan makroekonomi.
"Investor asing akan memantau kredibilitas dan kesinambungan kebijakan makroekonomi. Reaksi pasar sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan Bank Indonesia mengomunikasikan stabilitas transisi kepemimpinan ini," kata Rahma.
Menurut Rahma, depresiasi rupiah yang sempat mendekati kisaran Rp17.600 hingga Rp18.150 per dolar AS telah meningkatkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor, beban utang luar negeri, dan daya beli masyarakat. Ia menilai tantangan tersebut semakin berat akibat ketidakpastian global, sehingga koordinasi yang kuat antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Rahma menambahkan penunjukan Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai pelaksana tugas gubernur menjadi langkah penting untuk menjaga kesinambungan kebijakan moneter. Kehadiran figur internal dinilai dapat memberikan sinyal stabilitas kepada pelaku pasar selama proses transisi kepemimpinan berlangsung.
Meski demikian, ia mengingatkan langkah tersebut belum tentu langsung memulihkan kepercayaan investor. Investor domestik maupun asing, kata dia, masih akan mencermati seberapa cepat pemerintah dan Bank Indonesia mengomunikasikan proses transisi serta menjaga kredibilitas kebijakan makroekonomi.
"Investor asing akan memantau kredibilitas dan kesinambungan kebijakan makroekonomi. Reaksi pasar sangat bergantung pada seberapa cepat pemerintah dan Bank Indonesia mengomunikasikan stabilitas transisi kepemimpinan ini," kata Rahma.
Menurut Rahma, depresiasi rupiah yang sempat mendekati kisaran Rp17.600 hingga Rp18.150 per dolar AS telah meningkatkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang impor, beban utang luar negeri, dan daya beli masyarakat. Ia menilai tantangan tersebut semakin berat akibat ketidakpastian global, sehingga koordinasi yang kuat antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi faktor penting untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.
(nng)
Lihat Juga :