Menakar Peluang dan Tantangan Industri Asuransi di Masa dan Pasca Pandemi
Rabu, 14 Oktober 2020 - 00:10 WIB
loading...
A
A
A
(Baca Juga: Rangkul ASEAN, Sri Mulyani Buka Jalan Asing Caplok Asuransi Syariah )
Hal ini terjadi karena adanya ketakutan orang karena ketidakpastian ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi covid-19. Ketakutan itu mengakibatkan orang-orang lebih memilih menyimpan uangnya di bank dan mengurangi pembelian. Tetapi, ketika risiko kematian makin tinggi, maka mereka akan cenderung melihat asuransi sebagai kebutuhan pokok pada saat pasca pandemi.
Optimisme tersebut dapat terlihat dari meningkatnya pemilik polis asuransi di Tiongkok, sebagai negara yang telah berhasil mengatasi pandemi covid-19. Data Mc Kinsey menyebutkan, pemilik polis asuransi di negara tersebut meningkat sebesar 47% dibanding tahun sebelumnya.
Optimisme yang sama juga disampaikan oleh Ekonom Senior Aviliani yang menyatakan bahwa terdapat potensi yang masih bisa digarap oleh industri asuransi jika jeli melihat peluang dengan memanfaatkan sektor informal sebagai salah satu sasaran. Pengembangan produk asuransi yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor infomal menjadi penting mengingat, tidak pastinya pendapatan pelaku sektor informal.
“Ke depannya, orang-orang akan lebih memilih bekerja pada sektor informal dan tidak lagi menjadi karyawan tetap pada sebuah perusahaan. Orang-orang ini bisa memiliki pendapatan lebih dari 7,5 juta perbulan dan layak dilirik oleh industri asuransi untuk menjadi salah satu nasabahnya,” lanjutnya.
Menyelamatkan Ekonomi Negeri dengan Pakai Masker
Pandemi covid-19 yang melanda 240 negara dan tidak kunjung usai, tentunya juga berdampak pada kondisi ekonomi yang tidak bisa diprediksi ke depannya. Penyelenggaraan kegiatan ekonomi tidak dapat dilakukan secara full capacity. Kegiatan perkantoran harus memperhatikan protokol kesehatan untuk menjaga jarak aman yang ideal antar karyawan untuk mengurangi risiko penyebaran yang terbilang tinggi di ruang tertutup, serta adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Hal ini terjadi karena adanya ketakutan orang karena ketidakpastian ekonomi yang diakibatkan oleh pandemi covid-19. Ketakutan itu mengakibatkan orang-orang lebih memilih menyimpan uangnya di bank dan mengurangi pembelian. Tetapi, ketika risiko kematian makin tinggi, maka mereka akan cenderung melihat asuransi sebagai kebutuhan pokok pada saat pasca pandemi.
Optimisme tersebut dapat terlihat dari meningkatnya pemilik polis asuransi di Tiongkok, sebagai negara yang telah berhasil mengatasi pandemi covid-19. Data Mc Kinsey menyebutkan, pemilik polis asuransi di negara tersebut meningkat sebesar 47% dibanding tahun sebelumnya.
Optimisme yang sama juga disampaikan oleh Ekonom Senior Aviliani yang menyatakan bahwa terdapat potensi yang masih bisa digarap oleh industri asuransi jika jeli melihat peluang dengan memanfaatkan sektor informal sebagai salah satu sasaran. Pengembangan produk asuransi yang disesuaikan dengan kebutuhan sektor infomal menjadi penting mengingat, tidak pastinya pendapatan pelaku sektor informal.
“Ke depannya, orang-orang akan lebih memilih bekerja pada sektor informal dan tidak lagi menjadi karyawan tetap pada sebuah perusahaan. Orang-orang ini bisa memiliki pendapatan lebih dari 7,5 juta perbulan dan layak dilirik oleh industri asuransi untuk menjadi salah satu nasabahnya,” lanjutnya.
Menyelamatkan Ekonomi Negeri dengan Pakai Masker
Pandemi covid-19 yang melanda 240 negara dan tidak kunjung usai, tentunya juga berdampak pada kondisi ekonomi yang tidak bisa diprediksi ke depannya. Penyelenggaraan kegiatan ekonomi tidak dapat dilakukan secara full capacity. Kegiatan perkantoran harus memperhatikan protokol kesehatan untuk menjaga jarak aman yang ideal antar karyawan untuk mengurangi risiko penyebaran yang terbilang tinggi di ruang tertutup, serta adanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB).
Lihat Juga :