Pasukan Perbanas Bangun Tembok Lawan Penjahat Siber
Rabu, 14 Oktober 2020 - 10:02 WIB
loading...
Pasukan Perbanas lawan kejahatan siber di industri perbankan. FOTO/Ist
A
A
A
JAKARTA - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. menyambut baik pembentukan Komite Kerja Cyber Security oleh Perhimpunan Bank Umum Nasional (Perbanas) di Jakarta beberapa waktu lalu. Keberadaan komite kerja ini menjadi motor dalam upaya memerangi kejahatan siber (cyber crime) yang kerap menyerang industri perbankan di Indonesia.
Direktur Digital, Teknologi Informasi dan Operasi BRI Indra Utoyo sekaligus Ketua Bidang Operation, Technology, dan Regulatory Reporting Perbanas mengatakan kerjasama antar bank untuk melawan kejahatan siber sangat diperlukan, apalagi di tengah segala keterbatasan yang muncul akibat pandemi Covid-19. Akibat pandemi, pertumbuhan transaksi dan penggunaan kanal digital perbankan melonjak signifikan. Hal ini diikuti dengan munculnya risiko-risiko keamanan baru seperti terjadinya kejahatan siber.
"Kami lihat perkembangan digital ini berdampak pada dua hal. Pertama, kami excited bisa melakukan berbagai inovasi yang menarik. Namun juga di sisi lain adalah scary-nya. Memang risiko-risiko baru muncul bersamaan dengan pertumbuhan yang eksponensial," ujar Indra di Jakarta, Rabu (14/10/2020).
Baca Juga: Bareskrim Ungkap Pembobolan Bank dan Aplikasi Grab Senilai Rp21 Miliar
Dia melanjutkan adanya pandemi dan revolusi industri 4.0, maka transformasi layanan ke dalam bentuk digital menjadi keharusan bagi industri keuangan khususnya perbankan. Hal ini membuat sentrum transaksi dan layanan perbankan tidak lagi terjadi di kantor-kantor bank, tetapi bergeser ke alat elektronik masing-masing nasabah.
Direktur Digital, Teknologi Informasi dan Operasi BRI Indra Utoyo sekaligus Ketua Bidang Operation, Technology, dan Regulatory Reporting Perbanas mengatakan kerjasama antar bank untuk melawan kejahatan siber sangat diperlukan, apalagi di tengah segala keterbatasan yang muncul akibat pandemi Covid-19. Akibat pandemi, pertumbuhan transaksi dan penggunaan kanal digital perbankan melonjak signifikan. Hal ini diikuti dengan munculnya risiko-risiko keamanan baru seperti terjadinya kejahatan siber.
"Kami lihat perkembangan digital ini berdampak pada dua hal. Pertama, kami excited bisa melakukan berbagai inovasi yang menarik. Namun juga di sisi lain adalah scary-nya. Memang risiko-risiko baru muncul bersamaan dengan pertumbuhan yang eksponensial," ujar Indra di Jakarta, Rabu (14/10/2020).
Baca Juga: Bareskrim Ungkap Pembobolan Bank dan Aplikasi Grab Senilai Rp21 Miliar
Dia melanjutkan adanya pandemi dan revolusi industri 4.0, maka transformasi layanan ke dalam bentuk digital menjadi keharusan bagi industri keuangan khususnya perbankan. Hal ini membuat sentrum transaksi dan layanan perbankan tidak lagi terjadi di kantor-kantor bank, tetapi bergeser ke alat elektronik masing-masing nasabah.
Lihat Juga :