Duh! Nasib Produksi Minyak Tahun Depan Diramal Kecipak-Kecipuk
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 07:15 WIB
loading...
A
A
A
Marjolijn menuturkan, sekitar 80% pengeluaran yang dilakukan aktivitas minyak dan gas akan mengalir kepada industri-industri penunjang. Perusahaan-perusahaan penunjang nantinya akan memberikan tambahan pajak baik dari perusahaan maupun pegawai yang akhirnya akan memberikan tambahan penerimaan pajak. Dengan begitu pergerakan ekonomi akan menjadi lebih baik. "Dengan mengubah strategi ini maka sebagian penerimaan negara akan lari ke investasi. Ini tidak mudah, karena itu perlu dilakukan perbaikan persepsi pengertian dari industri ini," tuturnya.
Baca Juga: China-AS Jor-joran Stimulus, Ekonomi RI Ikut Ngegas Tipis-Tipis
Pakar energi dari Center for Policy and Public Management (CPPM) Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB Ahmad Yuniarto memaparkan, ada tiga kemungkinan skenario sektor hulu migas yang dihadapi Indonesia hingga tahun 2023, yaitu skenario Puting-Beliung, skenario Musim Barat, dan skenario Pancaroba.
Ketiga skenario tersebut menunjukkan iklim sektor hulu migas Indonesia yang dipengaruhi oleh dua faktor yakni pengelolaan pandemi dan konsolidasi industri. "Skenario Puting-Beliung adalah situasi ketika dampak pandemi tidak terkendali dan industri hulu migas tercerai-berai. Meskipun dampak pandemi dapat dikelola dengan efektif oleh pemerintah namun jika industri hulu migas jalan di tempat karena iklim investasi yang tidak kondusif, maka skenario yang mungkin terjadi adalah Musim Barat," jelasnya.
Menurut dia, harapan akan muncul untuk sektor migas ini dalam skenario Pancaroba, ketika dampak pandemi dapat dikelola secara efektif dan industri hulu migas mulai menata asa. "Dengan mengedepankan dampak ekonomi multiplier effect dari sektor ini dan bukan sekedar mengutamakan pendapatan negara," tandasnya.
Baca Juga: China-AS Jor-joran Stimulus, Ekonomi RI Ikut Ngegas Tipis-Tipis
Pakar energi dari Center for Policy and Public Management (CPPM) Sekolah Bisnis & Manajemen (SBM) ITB Ahmad Yuniarto memaparkan, ada tiga kemungkinan skenario sektor hulu migas yang dihadapi Indonesia hingga tahun 2023, yaitu skenario Puting-Beliung, skenario Musim Barat, dan skenario Pancaroba.
Ketiga skenario tersebut menunjukkan iklim sektor hulu migas Indonesia yang dipengaruhi oleh dua faktor yakni pengelolaan pandemi dan konsolidasi industri. "Skenario Puting-Beliung adalah situasi ketika dampak pandemi tidak terkendali dan industri hulu migas tercerai-berai. Meskipun dampak pandemi dapat dikelola dengan efektif oleh pemerintah namun jika industri hulu migas jalan di tempat karena iklim investasi yang tidak kondusif, maka skenario yang mungkin terjadi adalah Musim Barat," jelasnya.
Menurut dia, harapan akan muncul untuk sektor migas ini dalam skenario Pancaroba, ketika dampak pandemi dapat dikelola secara efektif dan industri hulu migas mulai menata asa. "Dengan mengedepankan dampak ekonomi multiplier effect dari sektor ini dan bukan sekedar mengutamakan pendapatan negara," tandasnya.
(nng)
Lihat Juga :