Dorong Daya Saing, Kemenperin Terapkan Industri Ramah Lingkungan
Jum'at, 16 Oktober 2020 - 01:40 WIB
loading...
A
A
A
"Selain itu, circular economy juga akan mengurangi limbah yang dihasilkan, karena akan diolah lagi jadi produk yang punya nilai tambah secara ekonomi," urai Doddy.
Sementara Gubernur Provinsi Jateng, Ganjar Pranowo, menambahkan saat ini Sungai Bengawan Solo masih ada pencemaran oleh puluhan industri. Di mana sebelum Desember 2020 pihak industri harus segera menyelesaikannya. "Kami telah minta industri itu memperbaiki sistem IPAL. Khusus IKM & UKM membuat IPAL Komunal agar limbahnya tak mencemari sungai Bengawan Solo, terutama IKM Ciu alkohol, batik, tahu/tempe dan ternak babi.Namun sampai Oktober 2020 ini permasalahan industri itu belum teratasi," ujar Ganjar.
Baca Juga: Trump: AS Akan Jadi Milik China Jika Joe Biden Menang
Sedangkan, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marinves, Safri Burhanuddin, mengutarakan pencemaran dan kerusakan lingkungan di Sungai Citarum sebagai sungai terkotor di dunia dua tahun lalu mengakibatkan kerugian besar terhadap kesehatan, ekonomi, sosial, ekosistem, sumber daya lingkungan dan generasi mendatang.
Soal teknologi industri 4.0, sambungnya, sangat berkontribusi dalam program pengendalian DAS Citarum. Khususnya dalam peningkatan efisiensi dan kebutuhan akurasi data.
"Kami memanfaatkan teknologi 4.0 dalam pengendalian DAS Citarum, seperti: IoT Video Analytic dan CCTV, IoT Water Quality Monitoring System guna menganalisa data kualitas air sungai serta pengembangan website Citarumharum dan membentuk Command Center PPK. Dengan dukungan itu terjadi efisiensi biaya," tandasnya.
Sementara Gubernur Provinsi Jateng, Ganjar Pranowo, menambahkan saat ini Sungai Bengawan Solo masih ada pencemaran oleh puluhan industri. Di mana sebelum Desember 2020 pihak industri harus segera menyelesaikannya. "Kami telah minta industri itu memperbaiki sistem IPAL. Khusus IKM & UKM membuat IPAL Komunal agar limbahnya tak mencemari sungai Bengawan Solo, terutama IKM Ciu alkohol, batik, tahu/tempe dan ternak babi.Namun sampai Oktober 2020 ini permasalahan industri itu belum teratasi," ujar Ganjar.
Baca Juga: Trump: AS Akan Jadi Milik China Jika Joe Biden Menang
Sedangkan, Deputi Bidang Koordinasi Sumber Daya Maritim Kemenko Marinves, Safri Burhanuddin, mengutarakan pencemaran dan kerusakan lingkungan di Sungai Citarum sebagai sungai terkotor di dunia dua tahun lalu mengakibatkan kerugian besar terhadap kesehatan, ekonomi, sosial, ekosistem, sumber daya lingkungan dan generasi mendatang.
Soal teknologi industri 4.0, sambungnya, sangat berkontribusi dalam program pengendalian DAS Citarum. Khususnya dalam peningkatan efisiensi dan kebutuhan akurasi data.
"Kami memanfaatkan teknologi 4.0 dalam pengendalian DAS Citarum, seperti: IoT Video Analytic dan CCTV, IoT Water Quality Monitoring System guna menganalisa data kualitas air sungai serta pengembangan website Citarumharum dan membentuk Command Center PPK. Dengan dukungan itu terjadi efisiensi biaya," tandasnya.
(nng)
Lihat Juga :