Berkah Pandemi Terhadap Jumlah Investor Pasar Modal
Rabu, 21 Oktober 2020 - 23:44 WIB
loading...
A
A
A
Chief Economist & Investment Strategist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia Katarina Setiawan mengatakan secara jangka pendek memang ada beberapa faktor yang membebani sentimen pasar seperti pilpres dan negosiasi stimulus fiskal Amerika Serikat, serta meningkatnya kasus Covid-19 global.
Di pasar domestik pun ada faktor ketidakpastian terkait kebijakan burden sharing BI dan wacana pembentukan dewan moneter. Terlepas dari sentimen jangka pendek tersebut, dalam pandangan kami pasar saham dan obligasi masih memiliki potensi ke depannya didukung oleh kebijakan reflasi global," ujar Katarina. ( Baca juga:Sepanjang Tahun Ini Penjualan Emas Antam Kian Berkilau: Hampir 15 Ton )
Reflasi disebutnya merupakan kebijakan untuk menstimulasi ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter akomodatif yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi, mendorong belanja, dan mencegah deflasi. "Ini merupakan kebijakan pro-ekonomi yang berpotensi menekan tingkat suku bunga dan meningkatkan selera investasi terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham dan obligasi negara berkembang," ujarnya.
Selain itu lanjutnya, penanganan Covid-19 juga tetap menjadi kunci pemulihan ekonomi. Kabar positifnya adalah pengembangan vaksin Covid-19 terus berlanjut. "Saat ini sudah ada 10 vaksin yang masuk tahap uji klinis fase ketiga. Ini fase terakhir sebelum tahap approval dan produksi," ujarnya.
Di pasar domestik pun ada faktor ketidakpastian terkait kebijakan burden sharing BI dan wacana pembentukan dewan moneter. Terlepas dari sentimen jangka pendek tersebut, dalam pandangan kami pasar saham dan obligasi masih memiliki potensi ke depannya didukung oleh kebijakan reflasi global," ujar Katarina. ( Baca juga:Sepanjang Tahun Ini Penjualan Emas Antam Kian Berkilau: Hampir 15 Ton )
Reflasi disebutnya merupakan kebijakan untuk menstimulasi ekonomi melalui kebijakan fiskal dan moneter akomodatif yang bertujuan untuk meningkatkan ekonomi, mendorong belanja, dan mencegah deflasi. "Ini merupakan kebijakan pro-ekonomi yang berpotensi menekan tingkat suku bunga dan meningkatkan selera investasi terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham dan obligasi negara berkembang," ujarnya.
Selain itu lanjutnya, penanganan Covid-19 juga tetap menjadi kunci pemulihan ekonomi. Kabar positifnya adalah pengembangan vaksin Covid-19 terus berlanjut. "Saat ini sudah ada 10 vaksin yang masuk tahap uji klinis fase ketiga. Ini fase terakhir sebelum tahap approval dan produksi," ujarnya.
(uka)
Lihat Juga :