Jaga Keseimbangan Sistem, Kementan Perkuat Regenerasi Petani
Sabtu, 24 Oktober 2020 - 06:45 WIB
loading...
A
A
A
(Baca Juga: Mentan Ajak Peragi Wujudkan Pertanian Jadi Pilar Utama Kesejahteraan Indonesia)
"Pertanian itu sangat menjanjikan dan memiliki prospek bagus. Satu sisi, ketersediaan lahan pertanian di Indonesia sangatlah luas. Tanahnya juga sangat subur. Kami juga memberikan banyak dukungan melalui pelatihan dan pendampingan. Untuk teknisnya juga didukung dengan peralatan, termasuk pupuknya. Kalau kesulitan modal, ada KUR," tegasnya.
Lebih lanjut, BPPSDMP juga terus menaikan grade pengetahuan dan wawasan petani. Mengacu data BPS pada 2018, komposisi pendidikan petani masih minor. Petani dengan tingkat pendidikan SD dominan 37,53%, lalu 16,83 untuk SLTP. Mereka yang tidak tamat SD berjumlah 24,23% dan 7,19% adalah tidak sekolah. Petani berpendidikan SMA ada 8,97% dan 8,78% adalah SMK, lalu sisanya adalah Perguruan Tinggi.
"Regenerasi petani mutlak dilakukan, termasuk kualitas pendidikannya. Tingkat pendidikan petani itu mempengaruhi kemampuan adopsi teknologi dan informasi. Kedua elemen ini bisa menentukan akses terhadap pembiayaan, informasi pasar, hingga sarana dan prasarananya," tutup Dedi.
"Pertanian itu sangat menjanjikan dan memiliki prospek bagus. Satu sisi, ketersediaan lahan pertanian di Indonesia sangatlah luas. Tanahnya juga sangat subur. Kami juga memberikan banyak dukungan melalui pelatihan dan pendampingan. Untuk teknisnya juga didukung dengan peralatan, termasuk pupuknya. Kalau kesulitan modal, ada KUR," tegasnya.
Lebih lanjut, BPPSDMP juga terus menaikan grade pengetahuan dan wawasan petani. Mengacu data BPS pada 2018, komposisi pendidikan petani masih minor. Petani dengan tingkat pendidikan SD dominan 37,53%, lalu 16,83 untuk SLTP. Mereka yang tidak tamat SD berjumlah 24,23% dan 7,19% adalah tidak sekolah. Petani berpendidikan SMA ada 8,97% dan 8,78% adalah SMK, lalu sisanya adalah Perguruan Tinggi.
"Regenerasi petani mutlak dilakukan, termasuk kualitas pendidikannya. Tingkat pendidikan petani itu mempengaruhi kemampuan adopsi teknologi dan informasi. Kedua elemen ini bisa menentukan akses terhadap pembiayaan, informasi pasar, hingga sarana dan prasarananya," tutup Dedi.
(fai)
Lihat Juga :