Asuransi Cigna Diversifikasi di Jalur Distribusi
Kamis, 12 November 2020 - 06:22 WIB
loading...
A
A
A
Itulah mengapa Cigna dari waktu ke waktu terus memperbaiki sistem pendukungnya agar bisa memberikan kenyamanan bagi karyawan dalam melayani nasabah dengan lebih baik. Saat ini Cigna Indonesia melayani 1,2 juta nasabah. Sedangkan, rasio tingkat solvabilitas atau RBC (Risk Based Capital) Cigna Indonesia pada akhir tahun 2019, tercatat sebesar 269 % jauh di atas peraturan pemerintah sebesar 120%. Berdasarkan Survei Nasional Literasi Keuangan (SNLIK) 2019 oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan, inklusi perasuransian sebesar 6,18 %, jauh di bawah perbankan yang mencapai 73,88 %. (Baca juga: Cigna Dorong Peningkatan Inklusi Asuransi)
Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada triwulan I-2019 menyebutkan jumlah nasabah asuransi di Indonesia sebesar 53 juta atau sekitar 25 % dari populasi. Jumlah ini jauh lebih rendah dibanding Singapura dengan 90 % warganya menjadi nasabah asuransi.
Seperti diketahui, industri asuransi turut terpukul dampak pandemi Covid-19. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengungkapkan pendapatan industri asuransi jiwa pada semester I/2020 sebesar Rp72,57 triliun, turun 38,7% dibandingkan capaian pada periode sama tahun lalu (yoy) sebesar Rp118,3 triliun.
Melihat perkembangan asuransi di tengah pandemi Covid-19 saat ini, Philips Reynolds menegaskan, bisnis asuransi itu ibarat orang naik gunung yang butuh ketangguhan. Hal ini penting karena ketangguhan itu berkaitan erat dengan kemampuan untuk bangkit. Nasabah, kata dia, butuh ketangguhan perusahaan asuransi, terutama di saat-saat susah. Sebab, nasabah mempercayakan uang dan masa depan mereka pada perusahaan asuransi. Makanya, perusahaan asuransi harus tangguh dan selalu hadir di saat nasabah membutuhkan.
Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) pada triwulan I-2019 menyebutkan jumlah nasabah asuransi di Indonesia sebesar 53 juta atau sekitar 25 % dari populasi. Jumlah ini jauh lebih rendah dibanding Singapura dengan 90 % warganya menjadi nasabah asuransi.
Seperti diketahui, industri asuransi turut terpukul dampak pandemi Covid-19. Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mengungkapkan pendapatan industri asuransi jiwa pada semester I/2020 sebesar Rp72,57 triliun, turun 38,7% dibandingkan capaian pada periode sama tahun lalu (yoy) sebesar Rp118,3 triliun.
Melihat perkembangan asuransi di tengah pandemi Covid-19 saat ini, Philips Reynolds menegaskan, bisnis asuransi itu ibarat orang naik gunung yang butuh ketangguhan. Hal ini penting karena ketangguhan itu berkaitan erat dengan kemampuan untuk bangkit. Nasabah, kata dia, butuh ketangguhan perusahaan asuransi, terutama di saat-saat susah. Sebab, nasabah mempercayakan uang dan masa depan mereka pada perusahaan asuransi. Makanya, perusahaan asuransi harus tangguh dan selalu hadir di saat nasabah membutuhkan.
(tim)
Lihat Juga :