Siapkah Kita Menghadapi Perdagangan Bebas ASEAN Plus?

Jum'at, 13 November 2020 - 21:49 WIB
loading...
Siapkah Kita Menghadapi...
Tampak aktivitas di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta Utara, beberapa waktu lalu. DOK SINDO
A A A
JAKARTA - Jika tidak ada aral melintang, akhir pekan ini sebuah kesepakatan perdagangan yang melibatkan negara-negara ASEAN akan resmi diluncurkan. Kesepakatan ini disebut-sebut salah satu yang terbesar di dunia karena selain negara-negara ASEAN, sejumlah mitra dagang seperti China, Jepang, Korea Selatan dan Australia dan Selandia Baru juga akan bergabung.

Mengutip BBC, dengan disepakatinya perjanjian perdagangan ASEAN Plus tersebut, maka populasi yang ada dalam aliansi ini mencapai 29%, dari total produk domestik bruto (PDB) dunia. Zona perdagangan bebas yang disebut Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional (Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP) itu pun akan lebih besar dibanding perjanjian dagang yang melibatkan Amerika Serikat (AS)-Meksiko-Kanada serta Uni Eropa.

(Baca juga: Teken Perdagangan Bebas dengan 15 Negara, Mendag Janji RI Tak Kebanjiran Barang Impor)

Laman resmi situs Setkab.go.id menyebutkan, kesepakatan perdagangan bebas ASEAN Plus itu diperkirakan bakal diteken di sela-sela konferensi ASEAN yang digelar secara virtual sejak Kamis (12/11/2020). Sekadar diketahui, negara-negara ASEAN terdiri atas Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.

India yang sempat menjadi bagian dari negosiasi kesepatan dagang menarik diri karena kekhawatiran akan tarif yang lebih rendah dan dapat merugikan produsen lokal. Adapun China, Jepang, dan Korea Selatan, kemungkinan tetap karena untuk mengimbangi pengaruh AS di wilayah pasifik yang sempat mempelopori Trans-Pacific Partnership (TPP) sebelum akhirnya dibekukan oleh Presiden Donald Trump.

(Baca juga: Trump Akan Fokus Bisnis)

Lalu, sebenarnya apakah kelebihan dari RCEP ini? Tentu saja, tujuan utamanya adalah untuk mengairahkan iklim perdagangan antar-kawasan sehingga perekonomian bisa sama-sama tumbuh. Namun, secara lebih spesifik dalam perjanjian ini antara lain akan disepakati pembebasan sejumlah tarif impor yang berlaku dalam 20 tahun ke depan.

Tak hanya itu, perjanjian tersebut juga mencakup ketentuan tentang kekayaan intelektual, telekomunikasi, layanan keuangan, e-commerce, dan layanan profesional lainnya.

Dengan luasnya cakupan perjanjian tersebut, menarik ditunggu bagaimana kesiapan Indonesia untuk berkiprah di perdagangan lintas negara. Jangan sampai kesepakatan ini justru menjadi karpet merah untuk masuknya produk impor dengan harga murah, sehingga menekan produksi dalam negeri. Selain itu, yang tak boleh dilupakan adalah kesiapan Sumber Daya Manusia (SDM) lokal untuk bersaing, dan jangan sampai justru SDM asing yang menyerbu negeri ini tanpa repatriasi yang seimbang.
(ynt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Mengenal Lipstick Effect,...
Mengenal Lipstick Effect, Alasan Mal dan Coffee Shop Tetap Ramai di Tengah Krisis Ekonomi
Desa BRILiaN Ketapanrame,...
Desa BRILiaN Ketapanrame, Bukti Pemberdayaan Berbasis Potensi Lokal Mampu Ciptakan Ekonomi Desa yang Maju dan Berkelanjutan
Aktivitas Pabrik di...
Aktivitas Pabrik di China Memburuk, Sinyal Peringatan bagi Ekonomi Dunia
MBG Jadi Instrumen Ganda:...
MBG Jadi Instrumen Ganda: Atasi Stunting dan Tekan Beban Ekonomi Keluarga
Ekonomi RI Punya Ketahanan...
Ekonomi RI Punya Ketahanan Nasional, Gubernur BI: Tuhan Cinta Sama Kita
Bahaya Romantisasi Oligarki...
Bahaya Romantisasi Oligarki Putih
5 Kapal Selam Tercanggih...
5 Kapal Selam Tercanggih ASEAN: Hebat Mana Invincible Singapura vs Nagapasa Indonesia?
6 Jet Tempur Canggih...
6 Jet Tempur Canggih yang Bakal Panaskan Langit ASEAN: F-35 Singapura hingga Rafale Indonesia
Rekomendasi
Ancam 6 Juta Tenaga...
Ancam 6 Juta Tenaga Kerja, Wacana Kemasan Polos Harus Dibatalkan
Mossad Pasok Milisi...
Mossad Pasok Milisi Kurdi dengan Senjata yang Disita dari Hamas dan Hizbullah
Album Baru Slank Republik...
Album Baru Slank Republik Fufu Fafa Resmi Meluncur, Sarat Kritik Sosial
Berita Terkini
Masyarakat Diminta Tak...
Masyarakat Diminta Tak Panik Respons Kondisi Ekonomi RI, Ekonom: Jaga Optimisme Berdasar Data
Program CIMB Niaga Sustainability...
Program CIMB Niaga Sustainability Journalism Fellowship Memilih 20 Jurnalis
Purbaya Belum Percaya...
Purbaya Belum Percaya Daya Beli Mulai Lesu di Warteg: Nanti Saya Cek Lagi
LPPOM Dorong Konsep...
LPPOM Dorong Konsep Green Halal untuk Perkuat Industri Berkelanjutan
Bitget Stocks 2.0 Hadir...
Bitget Stocks 2.0 Hadir Menghubungkan Ekuitas Berbentuk Token dengan Likuiditas Nyata
LPPOM Paparkan Peluang...
LPPOM Paparkan Peluang Industri Halal Indonesia di Tokyo
Infografis
Indonesia Demam Pajak,...
Indonesia Demam Pajak, 5 Negara Ini Bebas Pajak
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved