Demi Konsumen, OJK Tak Obral Izin Penjualan Produk Unitlink Secara Virtual
Selasa, 17 November 2020 - 21:55 WIB
loading...
A
A
A
"Kemudian industri asuransi melihat harus ada cara bagaimana memasarkan produk, memitigasi risiko, dan berinovasi secara digital. Jadi ini kesempatan yang baik. Kami juga sedang menyiapkan POJK manajemen risiko terkait teknologi informasi dan layanan. Ini sebagai upaya untuk mewadahi shifting dari industri asuransi menjadi berbasis digital,” kata Kristianto.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Beta Yulianita Gitaharie menyampaikan, aset industri asuransi sebetulnya telah mengalami peningkatan yang cukup pesat dari Rp807,7 triliun di tahun 2014 menjadi Rp1.325,7 triliun pada akhir 2019. Pendapatan premi asuransi komersial juga sudah meningkat 6,1% dari 2018 ke 2019.
“Perkembangan asuransi di Indonesia bisa menjadi sedemikian cepat tidak terlepas dari peran teknologi, khususnya teknologi digital yang memudahkan dan mempercepat penetrasi asuransi di Indonesia,” kata Beta. ( Baca juga:Diteliti di AS, Ini Detail Jenis Batu Meteor Temuan Lae Hutagalung )
Ke depan, Beta meyakini industri asuransi akan banyak didukung oleh big data, artificial intelligence (AI), serta ditopang oleh internet of things (IoT). “Teknologi informasi telah mengubah cara berbisnis industri asuransi untuk mendorong lebih banyak lagi strategi yang fokus pada pelanggan,” kata Beta.
Namun Beta menyoroti masih rendahnya tingkat literasi asuransi di Indonesia. Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan di Indonesia di tahun 2019 baru sekitar 38%. Sedangkan literasi asuransi lebih rendah lagi, hanya 19,4%. Karenanya, penting sekali untuk terus menggalakkan program literasi keuangan, termasuk literasi asuransi.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia Beta Yulianita Gitaharie menyampaikan, aset industri asuransi sebetulnya telah mengalami peningkatan yang cukup pesat dari Rp807,7 triliun di tahun 2014 menjadi Rp1.325,7 triliun pada akhir 2019. Pendapatan premi asuransi komersial juga sudah meningkat 6,1% dari 2018 ke 2019.
“Perkembangan asuransi di Indonesia bisa menjadi sedemikian cepat tidak terlepas dari peran teknologi, khususnya teknologi digital yang memudahkan dan mempercepat penetrasi asuransi di Indonesia,” kata Beta. ( Baca juga:Diteliti di AS, Ini Detail Jenis Batu Meteor Temuan Lae Hutagalung )
Ke depan, Beta meyakini industri asuransi akan banyak didukung oleh big data, artificial intelligence (AI), serta ditopang oleh internet of things (IoT). “Teknologi informasi telah mengubah cara berbisnis industri asuransi untuk mendorong lebih banyak lagi strategi yang fokus pada pelanggan,” kata Beta.
Namun Beta menyoroti masih rendahnya tingkat literasi asuransi di Indonesia. Berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK), tingkat literasi keuangan di Indonesia di tahun 2019 baru sekitar 38%. Sedangkan literasi asuransi lebih rendah lagi, hanya 19,4%. Karenanya, penting sekali untuk terus menggalakkan program literasi keuangan, termasuk literasi asuransi.
(uka)
Lihat Juga :