Keikutsertaan Indonesia di RCEP Bisa Sundul PDB 0,5%

Selasa, 24 November 2020 - 18:53 WIB
loading...
Keikutsertaan Indonesia...
Keikutsertaan dalam RCEP diyakini akan membuka banyak peluang perdagangan regional bagi Indonesia. Foto/Ilustrasi
A A A
JAKARTA - Kementerian Perdagangan ( Kemendag ) menyebut Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional ( Regional Comprehensive Economic Partnership/RCEP ) merupakan kawasan perdagangan bebas (Free Trade Area/FTA) terbesar setelah World Trade Organization (WTO).

RCEP atau Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional yang beranggotakan negara-negara ASEAN dan lima negara mitra yaitu China, Jepang, Korea Selatan, Australia serta Selandia Baru, diharapkan mampu memberikan celah baru dalam sektor perdagangan regional bersama negara mitranya.

(Baca Juga: Dampak RCEP: Ekspor Meningkat, Impor Terjaga)

"Kita berharap mampu memainkan peran penting dalam RCEP. Berdasarkan kajian yang dilakukan Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu 2019, keterlibatan Indonesia pada RCEP mampu meningkatkan produk domestik bruto (PDB) 0,5%. Namun ini perlu dikalkulasi ulang mengingat masa pandemi Covid-19. Namun begitu di masa new normal selalu ada celah masuknya new opportunity," kata Direktur Jenderal Perundingan Perdagangan Internasional Kementerian Perdagangan, Iman Pambagyo dalam diskusi virtual di Jakarta, Selasa (24/11/2020).

Iman juga menyebutkan kajian yang dilakukan Badan Pengkajian dan Pengembangan Perdagangan (BP3) Kemendag pada 2016 menunjukkan RCEP akan memberikan Welfare Gain kepada Indonesia sebesar USD1,52 miliar. Namun, perjanjian itu juga berpotensi meningkatkan defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar USD491,46 juta.

(Infografik: 15 Negara Tandatangani RCEP untuk Perdagangan Bebas)

Selanjutnya, dari total tarif Indonesia yang jumlahnya 10.000 cost tarif, 6.000 cost tarif diantaranya terkait dengan kegiatan ekspor-impor Indonesia ke dan dari kawasan RCEP. Sehingga naik turunnya ekonomi di kawasan RCEP akan sangat mempengaruhi kinerja ekspor dan impor Indonesia.

Ira Aprilianti peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies, mengatakan, Indonesia bisa memanfaatkan aktivitas langsung dari negara-negara anggota RCEP dengan memanfaatkan global supply chain. Namun yang lebih penting menurut dia, daya saing harus dipersiapkan lebih awal.

(Baca Juga: Blok Perdagangan Terbesar di Dunia Terbentuk, Apakah Kepanjangan Tangan China?)

"Potensi peningkatan ekspor Indonesia dari spill over effect ini sebesar 7,2% dengan memanfaatkan peranan Indonesia dalam perluasan global supply chain. Kita hanya memerlukan structural adjustment untuk tingkatkan daya saing agar mampu menarik manfaat RCEP dengan sebaik-baiknya," pungkasnya.

RCEP adalah sebuah perjanjian perdagangan dimana 15 negara yang tergabung didalamnya mencapai 29% penduduk dunia, atau mencapai 27% dari total perdagangan dunia. RCEP juga merupakan jawaban atas berbagai tantangan global dan regional meliputi kemajuan teknologi, tren perdagangan antarnegara mapun konteks lain yang menjadi isu hangat, salah satunya pandemi Covid-19.
(fai)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Pemerintah Pastikan...
Pemerintah Pastikan Harga MinyaKita Naik, Ini Sebabnya
Pemerintah Godok Aturan...
Pemerintah Godok Aturan Baru Kenaikan HET MinyaKita
Tekanan Fiskal Meningkat,...
Tekanan Fiskal Meningkat, IMF Wanti-wanti Ledakan Utang Publik Global
Bahan Baku Plastik Langka,...
Bahan Baku Plastik Langka, Indonesia Sibuk Cari Sumber Pasokan Alternatif ke 3 Negara
Defisit APBN Maret 2026...
Defisit APBN Maret 2026 Tembus Rp240,1 Triliun, 0,93% dari PDB
China dan Indonesia...
China dan Indonesia Makin Mesra, Nilai Ekspor Nasional Tembus Rp1.000 Triliun
Pertumbuhan 5,6%, tetapi...
Pertumbuhan 5,6%, tetapi Mengapa Investor Masih Gelisah?
Prihatin Harga Telur...
Prihatin Harga Telur Anjlok, Sarifah DPR Dorong Kemendag Gandeng BGN
Pertumbuhan yang Berdampak
Pertumbuhan yang Berdampak
Rekomendasi
Dari Infrastruktur ke...
Dari Infrastruktur ke AI, China Terus Perkuat Pengaruh di Pakistan
Trump Mendadak Batal...
Trump Mendadak Batal Bombardir Iran Besar-besaran, Israel Terkejut
Dubes Wang Lutong Ungkap...
Dubes Wang Lutong Ungkap Purbaya Bakal ke China Pekan Depan, Bahas Apa?
Berita Terkini
Beban Berat Kelas Menengah...
Beban Berat Kelas Menengah di Tengah Kenaikan Pertamax jadi Rp16.250/Liter
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Infografis
Ranking FIFA Terbaru:...
Ranking FIFA Terbaru: Argentina Gusur Spanyol di Puncak, Indonesia Meroket 4 Tingkat
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved