Berharap Kredit Ngucur Deras ke Sektor Riil

Rabu, 25 November 2020 - 09:35 WIB
loading...
Berharap Kredit Ngucur...
Foto/dok
A A A
JAKARTA - Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) melalui Rapat Dewan Komisioner (RDK) menurunkan bunga penjaminan. Untuk simpanan dalam rupiah di bank umum dan BPR diturunkan 50 bps, sedangkan untuk simpanan dalam valuta asing di bank umum diturunkan sebesar 25 bps.

Dengan demikian, tingkat bunga penjaminan LPS yang berlaku untuk rupiah di bank umum sebesar 4,5% dan untuk rupiah di Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sebesar 7%. Sementara valas pada bank umum sebesar 1%. (Baca: Amalan-amalan yang Terlupakan Saat Turun Hujan)

Ketua Dewan Komisioner LPS Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan ada beberapa hal yang menjadi pertimbangan dari penurunan tingkat bunga, di antaranya suku bunga simpanan perbankan yang masih menunjukkan tren penurunan dan potensial berlanjut sejalan adanya penurunan suku bunga BI7DRR pada bulan November 2020.

“Kondisi dan prospek likuiditas perbankan yang relatif stabil ditunjukkan dengan pertumbuhan dana pihak ketiga yang relatif tinggi di tengah pertumbuhan kredit yang perlu didorong ke sektor riil,” kata Purbanya, saat konferensi pers virtual di Jakarta, kemarin.

Sementara faktor lainnya yakni kondisi stabilitas sistem keuangan yang terjaga serta perlunya langkah sinergi bersama dengan otoritas sektor keuangan dan pemerintah untuk turut mendukung percepatan pemulihan perekonomian. (Baca juga: Guru SD-SMP Mulai Masuk Sekolah di Surabaya, Ini Curhatan Mereka)

Dia pun mengatakan, dengan mempertimbangkan perkembangan arah suku bunga simpanan, dinamika dan prospek perekonomian, stabilitas sistem keuangan serta prospek likuiditas perbankan, maka LPS akan terus melakukan assessment atas kebijakan tingkat bunga penjaminan sesuai perkembangan.

Sesuai aturan, lanjut Purbaya, bank wajib memberitahukan kepada nasabah penyimpan mengenai tingkat bunga penjaminan simpanan yang berlaku dengan menempatkan informasi pada tempat yang mudah diketahui nasabah.

“Apabila nasabah penyimpan menerima hasil bunga melebihi tingkat bunga penjaminan yang berlaku tersebut, simpanan nasabah tidak memenuhi kriteria penjaminan LPS,” ujar Purbaya.

Adapun tingkat bunga penjaminan tersebut akan berlaku sejak 25 November 2020 sampai dengan 29 Januari 2021.

Pengamat ekonomi Bhima Yudhistira menilai meskipun LPS sudah menurunkan bunga penjaminnya, deposan kakap tetap memarkir uang di perbankan karena masih mengkhawatirkan kondisi pandemi dan prospek pemulihan ekonomi. “LDR bank perkiraan masih gemuk dalam waktu yang panjang,” kata Bhima, saat dihubungi. (Baca juga: Pesona Jatiluwih tetap Bisa Dinikmati di Masa Pandemi)

Sementara itu, terkait transmisi penurunan bunga penjaminan LPS ke bunga kredit sama dengan BI 7DDR yang efeknya kecil pada penurunan bunga kredit perbankan. Adapun dari sisi bunga kredit bank masih menahan penurunan bunga karena tingginya faktor risiko debitur dan sebagai kompensasi atas biaya operasional bank selama masa pandemi.

Direktur Riset CORE Indonesia Piter Abdulah mengatakan, likuiditas bank dan sistem keuangan tidak dipengaruhi oleh suku bunga penjaminan LPS, tetapi lebih ditentukan oleh kebijakan moneter dalam bentuk suku bunga acuan, GWM dan utamanya lagi operasi moneter apakah ekspansi atau kontraksi. (Lihat videonya: Gunung Slamet Dilanda Badai danHujan Es)

“Sampai saat ini kebijakan moneter masih bersifat longgar dengan menurunkan suku bunga acuan, menurunkan GWM, dan melakukan ekspansi moneter,” katanya. (Kunthi Fahmar Sandy)
(ysw)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya
Berita Terkait
Kinerja Keuangan BRI...
Kinerja Keuangan BRI Kokoh hingga Triwulan I 2026, Likuiditas dan Permodalan Terjaga
15 Juta Usia Produktif...
15 Juta Usia Produktif Belum Punya Rekening Bank, Begini Pesan Ketua LPS
Menko Airlangga Siap...
Menko Airlangga Siap Wujudkan Kemauan Prabowo, Bunga KUR 5 Persen
Perpanjangan Dana Rp200...
Perpanjangan Dana Rp200 Triliun ke Himbara Redakan Rebutan Likuiditas, Ekonom Ungkap Efeknya
Pertumbuhan Ekonomi...
Pertumbuhan Ekonomi 8% Bukan Mustahil Dicapai, Ini Syarat-syaratnya
Pasca Indonesia Economic...
Pasca Indonesia Economic Outlook 2026, DPR Soroti Momentum Eksekusi Investasi Strategis
Ramadan, Ikawiga Santuni...
Ramadan, Ikawiga Santuni 500 Anak Yatim, Dhuafa, dan Pekerja Sosial
292 Anggota DPR Hadiri...
292 Anggota DPR Hadiri Rapat Paripurna Pengesahan Calon Anggota Dewas BPJS Kesehatan hingga LPS
Sumitronomics dan Stimulus...
Sumitronomics dan Stimulus Rp200 Triliun: Bisakah Indonesia Tumbuh 8%?
Rekomendasi
Beri Semangat Anak Pejuang...
Beri Semangat Anak Pejuang Leukemia, Polres Jakpus Wujudkan Harapan Deni Jadi Polisi Cilik
3 Unit Insinerator KKP...
3 Unit Insinerator KKP di Gili Trawangan Masih Menunggu Izin Operasi
KPK: Bupati Muara Enim...
KPK: Bupati Muara Enim Suap ASN BPK demi Pertahankan Opini WTP
Berita Terkini
Bahlil Ungkap Penyebab...
Bahlil Ungkap Penyebab Pemadaman Listrik di Sejumlah Daerah, Janji Pulih Cepat
Indodax Diapresiasi...
Indodax Diapresiasi Atas Edukasi dan Pengembangan Pasar Aset Kripto
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Rp16.250, Bahlil: Sudah Diperhitungkan Secara Bijak
Lewat Program Pondasi,...
Lewat Program Pondasi, Brahma Binabakti Renovasi Rumah Tak Layak di Muaro Jambi
Harga Pertamax Naik...
Harga Pertamax Naik Jadi Rp16.250, Bos Pertamina: Telah Mempertimbangkan Daya Beli Masyarakat
Janji Manis Ledakan...
Janji Manis Ledakan Ekonomi Piala Dunia 2026, Awas! Tensi Geopolitik Bisa Bikin Zonk
Infografis
Curacao, Negara Terkecil...
Curacao, Negara Terkecil yang Lolos ke Piala Dunia 2026
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved