Ini Dia BUMN yang Gagal Bayar, Saatnya Bisnis Perusahaan Negara Dirombak Besar-Besaran
Selasa, 12 Mei 2020 - 15:12 WIB
loading...
A
A
A
Di saat yang hampir bersaman, April lalu, Dirketur Utama PT PLN Zulkifli Zaini meminta penundaanpembayaran utang yang jatuh tempotahun ini. Dia mengatakan, pihaknya saat ini tengah meminta kepada bank untuk melakukanreprofiling utang hingga tahun depan. Hal itu disampaikan Zulkifli saat rapat virtual dengan Komisi VII Dewan Perwakilan Rakyat, Rabu, 22 April 2020 lalu. Utang jatuh tempo yang harus dibayarkan PLN tahun ini sebesar Rp35 triliun. “Ini merupakan tanggung jawab kami untuk dipenuhi dengan baik. Kami juga sedang melakukan pendekatan pada bank-bank untuk melakukan reprofiling dari pokoknya," kata Zulkifli.
Di tengah pandemi covid-19, PLN tengah menanggung beban finansial yang berat lantaran melorotnya permintaan listrik yang berdampak pada penurunan pendapatan. Menurunnya pendapatan ini karena penjualan listrik yang merosot, akibat pelemahan konsumsi, terutama kelompok pelanggan industri, cafe, restoran dan lain sebagainya. Untuk setiap penurunan 1% permintaan listrik berakibat turunnya pendapatan PLN sebesar Rp 2,8 triliun. Itu sebabnya di 2020 ini PLN pun memotong target pendapatan sebanyak 15%. Menurut perhitungan Zulkifli, tahun ini pendapatan yang akan diterima PLN akan berkisar Rp 257 triliun, atau turun 14,6% dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 301 triliun.
Di tengah menurunnya pendapatan, PLN masih dituntut menjalankan kebijakan pemerintah untuk menggratiskan listrik untuk pelanggan 450 VA dan memberikan diskon 50% untuk pelanggan 900 VA. Belum lagi kewajiban terhadap hutang-hutang dari global bond akibat dari menjalankan program pembangunan pembangkit listraik 35 ribu MW. “Jadi sebenarnya tidak mengherankan jika PLN akhirnya mengalami bledding,”kata Toto Pranoto.
Efisiensi hingga Bailout
SebelumnyaZulkifli Zainipernah menjelaskan bahwa jumlahutangPLN dalam mata uang asing cukup besar. Seiring melemahnya nilai tukarrupiahterhadap dolar AS, jumahnya pun terus membangkak. Sebagai gambaran, jika rupiah melemah Rp 1.000 per dolar AS, maka utang PLN naik Rp 9 triliun. Apabila bila rupiah melemah Rp 2.000, maka utang PLN melonjak Rp 18 triliun. Adapun totalutang perseroan per kuartal I 2019 mencapai Rp 394,2 triliun. Angka itu meningkat 1,7% dibanding posisi utang akhir 2018 yang sebesar Rp 387,44 triliun.
Gagal bayar juga tengah mengintai BUMN lainnya, Garuda Indonesia. Tahun ini per 3 Juni nanti utang jatuh tempo Garuda nilainya mencapai US$ 500 juta, atau setara dengan Rp7,4 triliun. Saat ini Garuda Indonesia tengah mengusahakan refinancing utang baik dengan bank dalam negeri maupun luar negeri. Negosiasi dengan lessor pun dilakukan untuk menunda pembayaran sewa pesawat (lease holiday) serta memperpanjang masa sewa pesawat agar bisa mengurangi biaya sewa per bulan. “Saat ini Garuda terus mencoba untuk bertahan hidup,”ujar Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra.
Di tengah pandemi covid-19, PLN tengah menanggung beban finansial yang berat lantaran melorotnya permintaan listrik yang berdampak pada penurunan pendapatan. Menurunnya pendapatan ini karena penjualan listrik yang merosot, akibat pelemahan konsumsi, terutama kelompok pelanggan industri, cafe, restoran dan lain sebagainya. Untuk setiap penurunan 1% permintaan listrik berakibat turunnya pendapatan PLN sebesar Rp 2,8 triliun. Itu sebabnya di 2020 ini PLN pun memotong target pendapatan sebanyak 15%. Menurut perhitungan Zulkifli, tahun ini pendapatan yang akan diterima PLN akan berkisar Rp 257 triliun, atau turun 14,6% dari perkiraan sebelumnya sebesar Rp 301 triliun.
Di tengah menurunnya pendapatan, PLN masih dituntut menjalankan kebijakan pemerintah untuk menggratiskan listrik untuk pelanggan 450 VA dan memberikan diskon 50% untuk pelanggan 900 VA. Belum lagi kewajiban terhadap hutang-hutang dari global bond akibat dari menjalankan program pembangunan pembangkit listraik 35 ribu MW. “Jadi sebenarnya tidak mengherankan jika PLN akhirnya mengalami bledding,”kata Toto Pranoto.
Efisiensi hingga Bailout
SebelumnyaZulkifli Zainipernah menjelaskan bahwa jumlahutangPLN dalam mata uang asing cukup besar. Seiring melemahnya nilai tukarrupiahterhadap dolar AS, jumahnya pun terus membangkak. Sebagai gambaran, jika rupiah melemah Rp 1.000 per dolar AS, maka utang PLN naik Rp 9 triliun. Apabila bila rupiah melemah Rp 2.000, maka utang PLN melonjak Rp 18 triliun. Adapun totalutang perseroan per kuartal I 2019 mencapai Rp 394,2 triliun. Angka itu meningkat 1,7% dibanding posisi utang akhir 2018 yang sebesar Rp 387,44 triliun.
Gagal bayar juga tengah mengintai BUMN lainnya, Garuda Indonesia. Tahun ini per 3 Juni nanti utang jatuh tempo Garuda nilainya mencapai US$ 500 juta, atau setara dengan Rp7,4 triliun. Saat ini Garuda Indonesia tengah mengusahakan refinancing utang baik dengan bank dalam negeri maupun luar negeri. Negosiasi dengan lessor pun dilakukan untuk menunda pembayaran sewa pesawat (lease holiday) serta memperpanjang masa sewa pesawat agar bisa mengurangi biaya sewa per bulan. “Saat ini Garuda terus mencoba untuk bertahan hidup,”ujar Direktur Utama PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk, Irfan Setiaputra.
Lihat Juga :