Digitalisasi Pertanian Jadi Andalan
Jum'at, 11 Desember 2020 - 06:00 WIB
loading...
A
A
A
Berikutnya pendidikan. Said mengatakan, hampir 60% petani berlatar belakang pendidikan tingkat dasar. Terutama, di kelompok petani padi. “Artinya, apabila tingkat pendidikan seperti itu didorong agar menjadi sumber daya yang paham teknologi, belum tentu bisa langsung menyelesaikan persoalan yang besar itu,” katanya.
Untuk itu, kata Said, harus ada satu pendekatan yang utuh dengan menata ulang program agrarianya, kemudian memperkuat pasar, meningkatkan keterampilan dan kapasitas petani. Dia menduga pengembangan sekolah pertanian berbasis teknologi atau digital tersebut menegaskan fakta bahwa dunia pertanian sudah berkurang jumlah petaninya.
Said berharap penggunaan teknologi menjadi jawaban agar lebih efisien dalam pengelolaan dan pemanfaatan di sektor pertanian. “Saya tidak mengatakan ini baik atau tidak baik, tapi realitasnya di tanaman pangan, terutama padi, itu memang para petaninya rata-rata tua, pendidikannya rendah. Apakah teknologi itu nantinya memicu anak muda balik lagi ke pertanian?,” tanyanya ragu. (Baca juga: Sudah Ada Kredit Anti-Rentenir, Lintah Darat Bakal Kocar-Kacir)
Berdasarkan kajian KRKP pada 2015, ada dua hal yang memungkinkan proses sumber daya pertanian itu kuat. Dalam arti, terjadi regenerasi di mana tumpuan pembangunan berada di pundak kalangan muda. Pertama, isu agraria terkait akses terhadap lahan. Kalau ketersediaan itu ada, maka akan ada banyak anak di kawasan perdesaan yang mau balik ke pertanian. Kedua, mengenai pendapatan per musim, akumulasi benefit atau profit.
Said mendukung jika penggunaan teknologi mampu menjawab dua persoalan itu. Jika belum, maka harus dicari lagi dan dikawinkan dengan strategi atau program lain supaya bisa bergerak bersama mengatasi isu-isu tersebut. “Dalam hemat saya, teknologi itu mungkin bisa menjawab kebutuhan tenaga yang makin terbatas, menjawab efisiensi tenaga. Tapi apakah akan adaptif dengan situasi mayoritas petani yang sekarang? Karena kalau menunggu pergantian atau regenerasi kan enggak mungkin langsung ada,” sebutnya.
Said juga mempersoalkan kepemilikan teknologi pertanian . Dia berharap nantinya teknologi yang dikembangkan itu dirakit bersama petani. Jangan sampai dikembangkan oleh industri dan hanya menguntungkan korporasi. “Jangan sampai investasi yang dilakukan seolah-olah bisa menjawab semua persoalan di dunia pertanian yang banyak itu. Saya melihat orientasinya pembangunan pertanian kita cenderung mengejar peningkatan produksi. Boleh saja produksi naik, tapi kehidupan yang memproduksinya bagaimana?,” ujarnya. (Lihat videonya: Habib Rizieq Tersangka Pelangaran Protokol Kesehatan)
Dia juga berharap kemajuan dan paradigma pembangunan tidak melanggengkan petani sebagai objek dari pembangunan itu sendiri. pasalnya, jika hanya dijadikan objek, hal itu sama saja menyamakan petani sebagai alat produksi. (F.W. Bahtiar/Faorick Pakpahan/Taufik Fajar)
Untuk itu, kata Said, harus ada satu pendekatan yang utuh dengan menata ulang program agrarianya, kemudian memperkuat pasar, meningkatkan keterampilan dan kapasitas petani. Dia menduga pengembangan sekolah pertanian berbasis teknologi atau digital tersebut menegaskan fakta bahwa dunia pertanian sudah berkurang jumlah petaninya.
Said berharap penggunaan teknologi menjadi jawaban agar lebih efisien dalam pengelolaan dan pemanfaatan di sektor pertanian. “Saya tidak mengatakan ini baik atau tidak baik, tapi realitasnya di tanaman pangan, terutama padi, itu memang para petaninya rata-rata tua, pendidikannya rendah. Apakah teknologi itu nantinya memicu anak muda balik lagi ke pertanian?,” tanyanya ragu. (Baca juga: Sudah Ada Kredit Anti-Rentenir, Lintah Darat Bakal Kocar-Kacir)
Berdasarkan kajian KRKP pada 2015, ada dua hal yang memungkinkan proses sumber daya pertanian itu kuat. Dalam arti, terjadi regenerasi di mana tumpuan pembangunan berada di pundak kalangan muda. Pertama, isu agraria terkait akses terhadap lahan. Kalau ketersediaan itu ada, maka akan ada banyak anak di kawasan perdesaan yang mau balik ke pertanian. Kedua, mengenai pendapatan per musim, akumulasi benefit atau profit.
Said mendukung jika penggunaan teknologi mampu menjawab dua persoalan itu. Jika belum, maka harus dicari lagi dan dikawinkan dengan strategi atau program lain supaya bisa bergerak bersama mengatasi isu-isu tersebut. “Dalam hemat saya, teknologi itu mungkin bisa menjawab kebutuhan tenaga yang makin terbatas, menjawab efisiensi tenaga. Tapi apakah akan adaptif dengan situasi mayoritas petani yang sekarang? Karena kalau menunggu pergantian atau regenerasi kan enggak mungkin langsung ada,” sebutnya.
Said juga mempersoalkan kepemilikan teknologi pertanian . Dia berharap nantinya teknologi yang dikembangkan itu dirakit bersama petani. Jangan sampai dikembangkan oleh industri dan hanya menguntungkan korporasi. “Jangan sampai investasi yang dilakukan seolah-olah bisa menjawab semua persoalan di dunia pertanian yang banyak itu. Saya melihat orientasinya pembangunan pertanian kita cenderung mengejar peningkatan produksi. Boleh saja produksi naik, tapi kehidupan yang memproduksinya bagaimana?,” ujarnya. (Lihat videonya: Habib Rizieq Tersangka Pelangaran Protokol Kesehatan)
Dia juga berharap kemajuan dan paradigma pembangunan tidak melanggengkan petani sebagai objek dari pembangunan itu sendiri. pasalnya, jika hanya dijadikan objek, hal itu sama saja menyamakan petani sebagai alat produksi. (F.W. Bahtiar/Faorick Pakpahan/Taufik Fajar)
(ysw)
Lihat Juga :